Oleh : Rut Sri Wahyuningsih
Institut Literasi dan Peradaban

Membicarakan cinta memang tak ada habisnya. Pantas saja jika para penyuka kebebasan begitu mendewakan cinta. Seolah cinta hanyalah ungkapan atau hasrat seseorang untuk memiliki sesuatu. Akhirnya yang diekspos seputar pengorbanan, kesepian, diduakan, kerinduan, pertemuan dan semua yang mengarah kepada fisik atau materi.

Ada cinta sisi lain yang menarik untuk disimak, jika ada yang berkomentar, drama Korea tak lebih dari cerita khayali, tak pernah ada di dunia nyata, boleh saja. Sebab, terkadang hikmah muncul bisa dari tayangan virtual. Itu tak bisa ditampik. Seperti serial televisi dari Korea Selatan kali ini, Love Returns, yang tayang tahun 2017. Dibintangi oleh Lee Sung-yeol, Pyo Ye-jin, Lee Dong-ha, dan Han Hye-rin.

Drama ini mengisahkan seorang wanita, Kim Haeng Ja (Song Ok-Sook), seorang yatim piatu yang bergelut dengan susahnya hidup, hingga ia menjadi seorang penguasa pasar sebab profesinya membungakan uang pinjaman. Masa lalunya yang rumit dan miskin sama sekali tak berpengaruh terhadap pengasuhan kedua anaknya, Gil Eun-Jo (Pyo Ye-Jin) dan Gil Myung Jo (Go Byung Wan). Mereka tumbuh menjadi anak yang cerdas dan santun.

Masalah dimulai ketika Kim Haeng Ja bertemu dan jatuh cinta dengan Jun Geun-Seop (Lee Byung Joon) duda 2 anak. Meski memiliki gelar profesor, tapi ternyata idealismenya sebagai intelektual dalam dunia kapitalis tak dihargai. Akhirnya ia menjadi pengangguran dan bertahun-tahun bertahan dari belas kasih anak-anak dan mantan istrinya.

Dengan mantap Kim Haeng Ja mendaftarkan pernikahannya, ia berharap bisa hidup tenang bersama Jun Geun Seop. Berikutnya kehidupannya bak memilih kucing dan karung. Suaminya merepotkan, seluruh harta hampir ludes terjual, konflik berkepanjangan antara dua anggota keluarga, hingga terungkaplah fakta-fakta masa lalu. Kemudian muncul tokoh baru yaitu Hong Seok Pyo ( Lee Sung Yeol), CEO Guinea, sebuah perusahaan kosmetik ternama yang ternyata punya keterkaitan di masa lalu dengan Kim Haeng Ja. Sosok CEO muda nan misterius ini sebagai penderita depresi berat hingga mengalami gangguan kosentrasi jika berada dalam kerumunan. 

Konflik bertambah pelik berawal dari memori seorang anak yang mendapatkan pendidikan dan kasih sayang secara berbeda dari ibunya, selalu menerima doktrin hanya karena dia anak pendiri sekaligus pemilik perusahaan, sehingga tak pantas jika melakukan amalan sebagaimana anak biasa. 

Fragmen inilah yang ingin dimunculkan dari drama ini. Dua generasi di masa lalu, tapi berada di dalam satu trak yang sama, yaitu perubahan dari sekadar bertahan hidup hingga menjadi seseorang yang dibutuhkan dan menjadi tempat bergantung banyak orang. Dengan manis dan cerdik pengarang, Kim Hong-joo dan sutradara Park Ki-ho berusaha memunculkan konflik rumah tangga yang normal. Dibalut dengan romantisme selintas, perebutan kekuasan dan kacaunya hubungan keluarga, karena ada penampilan fakta anak hasil hubungan tanpa pernikahan, mengerucut pada berbagai kepentingan yang dimunculkan pada setiap karakter tokohnya sangat kuat. Begitu lekat dengan kehidupan masyarakat biasa yang cenderung sederhana meskipun sedikit emosional.

Pepatah mengatakan, setiap peristiwa sekecil apapun pasti menyisakan hikmah dan ada pelajaran yang bisa diambil. Love Return seolah mengingatkan kepada kita bahwa keserakahan terhadap sesuatu tak akan membawa kepada kebaikan kecuali dilandasi iman dan akidah yang benar. Sebab, segala sesuatu sudah mengikuti takaran yang semestinya. 

Islam mengajarkan agar kita senantiasa memperhatikan apa yang kita kerjakan hari ini, guna memperoleh kebaikan berlebih di masa yang akan datang. Dan itu "keserakahan" yang dianjurkan sebagaimana firman Allah dalam Quran surat al-Hasyr (59) ayat 18, yang artinya, “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan.”

Sekali lagi, tak ada nilai tertinggi yang bisa menyatukan seseorang ketika merubah kehidupannya, kecuali niat dalam dirinya serta arah pandang yang ia jadikan landasan. Tak ada cinta yang mampu mengembalikan seseorang kepada kebaikan selain ia kembali kepada Sang Maha Pemilik Cinta, Allah Swt. Sebab, orang baik seketika bisa jahat demikian pula sebaliknya. Mungkin drama ini hanya gambaran, tapi tak ada asap jika tak ada api bukan?

Wallahu a'lam bishshawab.
 
Top