Oleh : Rini Heliyani

Sebanyak 94 imigran Rohingya, sampai dengan Kamis (25/6/2020) siang atau memasuki hari kedua, masih berada di laut Aceh Utara. Posisi mereka berada dalam satu Boat. Saat ini posisi boat sekitar satu mil dari tepi Pantai Lancok,  Kecamatan Syamtalira Bayu, Aceh Utara. Aparat keamanan, baik TNI maupun Polri terus siaga di tepi pantai. Ada juga petugas kesehatan, dan petugas Imigrasi.

Kapal mereka ditemukan oleh nelayan dengan jarak lebih kurang empat mil dari pesisir pantai dalam kondisi rusak. Selanjutnya para imigran dievakuasi ke kapal nelayan Aceh Utara tersebut. Dari 94 Rohingya tersebut,15 laki-laki, 49 perempuan, 30 orang anak-anak. (serambinews.com, 26/6/2020)

Lagi-lagi pengungsi Rohingya tiba di daerah Aceh, dengan tujuan meminta bantuan dari pemerintah dan masyarakat Aceh. Diketahui bahwa pengungsi Rohingya diusir oleh pemimpin mereka dari tanah kelahirannya, karena etnis Rohingya  menganut agama Islam. Hal ini jelas terlihat dari sejarah Rohingya di Rakhine.

Sejak abad ke-16, muslim dilaporkan telah menetap di negara bagian Rakhine (juga dikenal sebagai Arakan), meskipun jumlah pemukim muslim sebelum pemerintahan Inggris tidak diketahui dengan pasti. Setelah Perang Anglo-Burma pertama tahun 1826, Inggris menganeksasi Arakan dan pemerintah pendudukan mendorong terjadinya migrasi pekerja dari Bengal datang kesana untuk bekerja sebagai buruh tani. Diperkirakan terdapat 5% populasi muslim yang mendiami Arakan pada tahun 1869, meskipun perkiraan untuk tahun sebelumnya memberikan angka yang lebih tinggi.

Inggris melakukan beberapa kali sensus penduduk antara tahun 1872 dan 1911 yang hasilnya mencatat peningkatan jumlah populasi muslim dari 58.255 ke 178.647 di Distrik Akyab. Selama Perang Dunia II, pada tahun 1942 terjadi peristiwa pembantaian Arakan, dalam peristiwa ini pecah kekerasan komunal antara rekrutan milisi bersenjata Inggris dari Angkatan Ke-V Rohingya yang berseteru dengan orang-orang Buddha Rakhine. Peristiwa berdarah ini menjadikan etnis-etnis yang mendiami daerah menjadi semakin terpolarisasi oleh konflik dan perbedaan keyakinan. Pada tahun 1982, pemerintah Jenderal Ne Win memberlakukan hukum kewarganegaraan di Burma. Undang-undang tersebut menolak status kewarganegaraan etnis Rohingya.

Mereka dibantai sangat kejam, layaknya binatang. Tidak terkecuali, perempuan dan anak-anak tidak luput dari penyiksaan. Sehingga banyak dari etnis Rohingya yang melarikan diri untuk mencari suaka dari negara lain. Media internasional dan organisasi hak asasi manusia menggambarkan Rohingya sebagai salah satu etnis minoritas yang paling teraniaya di dunia.

Rohingya telah menuai perhatian internasional setelah kerusuhan negara bagian Rakhine pada tahun 2012. Lalu pada tahun 2015 ketika berlangsungnya perhatian internasional atas Krisis Pengungsi Rohingya, dimana orang-orang Rohingya menempuh perjalanan laut yang berbahaya dalam upaya melarikan diri ke beberapa negara Asia Tenggara, dimana Malaysia menjadi tujuan utama mereka. (Wikipedia.org)

Karena pembantai terhadap etnis Rohingya sungguh sangat kejam, maka dilakukan berbagai desakan oleh Amnesty Internasional terhadap ASEAN jaga pengungsi Rohingya.  ASEAN didesak oleh Amnesty International untuk melakukan pendekatan bersama dalam menangani masalah pengungsi Rohingya. Hingga kini, banyak pengungsi dari etnis Rohingya dari Myanmar maupun Bangladesh terlantar di lautan ketika hendak menuju negara sekitar. Terdamparnya para pengungsi Rohingya di lautan tidak lain karena penolakan beberapa negara oleh karena negara-negara menutup perbatasan daratnya.

Menurut Juru Kampanye Amnesty International untuk Wilayah Asia Selatan (SARO), Saad Hammadi, para pengungsi terdampar di tengah laut dan banyak yang meninggal selama mereka mencari tempat menepi. “Sangat penting bahwa negara-negara berbagi tanggung jawab bahwa itu adalah respons regional (dalam hal ini ASEAN) dan tidak hanya jatuh pada satu atau dua negara karena itulah akan menggerakkan semua negara dan membawa harmoni di antara orang-orang," kata Saad dalam diskusi virtual yang diselenggarakan Amnesty International Indonesia, Jumat (15/5).

Peneliti Amnesty International Indonesia Domonique Virgil menilai rekomendasi dari pihaknya untuk negara-negara ASEAN dalam merespons pengungsi Rohingya sudah tertuang dalam panduan internasional yang dikeluarkan oleh Organisasi International untuk Migrasi (IOM). (Republika.co.id,15/5/2020)

Hal ini nampak jelas bahwa terombang-ambingnya pengungsi Rohingya, disebabkan karena terjadi penolakan dari berbagai negara di Asia. Sekat nasionalisme yang menjadikan negara-negara tersebut bertindak seperti itu. Sekalipun negara tersebut menganut ajaran agama yang sama yaitu Islam, hanya karena sekat nasionalisme mereka rela membiarkan saudara mereka terombang-ambing hingga menuai ajalnya.

Negara-negara di bawah sistem kapitalisme telah menjadikan ikatan nasionalisme menjadi pengikat kuat, negara hanya akan melayani jika hal tersebut berhubungan dengan ikatan nasionalisme negaranya saja, jika terdapat negara lain yang bermasalah, maka mereka tidak akan ikut campur justru tutup mata, tutup telinga, bahkan tutup mulut.

Hal ini sangat berbeda dengan Islam. Islam tidak mengenal  ikatan nasionalisme. Karena ikatan tersebut sangat dibenci oleh Allah Swt.  Sebagaimana hadits Rasulullah saw., “Saya bertanya kepada Nabi saw., seraya berkata, “Yaa Rasulullah apakah termasuk ‘ashabiyyah, seorang laki-laki yang mencintai kaumnya?  Nabi saw. menjawab, “Tidak. Tetapi, termasuk ‘ashabiyyah adalah seorang laki-laki menolong kaumnya dalam kezaliman”. [HR. Imam An Nasaaiy]

Ashabiyyah (menolong atau membela kelompok atau kaumnya dalam kebatilan) termasuk perbuatan haram. Sebagaimana hadits Rasulullah saw., “Tidaklah termasuk golongan kami, siapa saja yang menyeru kepada ‘ashabiyyah, dan bukanlah termasuk golongan kami, siapa saja yang berperang di atas ‘ashabiyyah, dan bukan termasuk golongan kami, siapa saja yang mati di atas ‘ashabiyyah”. [HR. Imam Abu Dawud]

Ashabiyah itu berasal dari ‘ushbah (kelompok) dan ‘ashabah (kerabat laki-laki).  ‘Ashabiyah maknanya ikatan kelompok baik kelompok keturunan maupun yang lain. Nasionalisme, kesukuan, golongan, kedaerahan, jamaah, partai, kemadzhaban, dan lainnya, termasuk dalam makna ‘ashabiyah.

Hanya saja larangan atau keharaman ikatan ‘ashabiyah itu bukan berarti tidak boleh mencintai suku, daerah, keluarga, jamaah, kelompok, golongan, madzhab. Melainkan maknanya adalah tidak boleh atau haram menjadikan ikatan ‘ashabiyah itu di atas segalanya, di atas kebenaran dan di atas ikatan Islam dan keimanan, di atas ukhuwah islamiyah.

Oleh karenanya, kondisi yang dialami oleh Rohingya yang notabene beragama Islam, tentu akan dilindungi oleh negara Islam. Harta dan kehormatan mereka akan dijaga sebaik mungkin, serta diperlakukan sama dengan warga negara lainnya termasuk pemberian hak dan kebutuhan mereka.

Wallahu a'lam bishshawab.
 
Top