Oleh : Ummu Adi
(Ibu Rumah Tangga dan Member AMK)

Dewan Pengawas (Dewas) TVRI resmi melantik Iman Brotoseno menjadi Direktur Utama Lembaga Penyiaran Publik (Dirut LPP) TVRI Pengganti Antar Waktu (PAW) Helmy Yahya untuk masa tugas 2020-2022 pada Rabu (27 Mei 2020) pukul 11.00 WIB. Ketua Dewas TVRI Arif Hidayat Thamrin menyampaikan bahwa seluruh proses seleksi Direktur Utama LPP TVRI dilaksanakan sesuai dengan  perundang-undangan yang berlaku. (liputan6.com, 27/5/2020)

Namun penetapan Iman Brotoseno menjadi Dirut TVRI disesalkan oleh komite penyelamat TVRI.
Seleksi Dirut TVRI seharusnya menghasilkan rekam jejak yang bersih. Yang kami sesalkan adalah proses seleksi, uji kepatutan dan kelayakan mestinya dijadikan instrumen yang bisa menghasilkan rekam jejak yang bersih bagi seorang kandidat pejabat publik. Kata Ketua Komite Penyelamat TVRI, Agil Samal kepada wartawan, jumat.
(m.detik.com, 30/5/2020)

Hal senada juga disampaikan oleh Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid (HNW) yang menilai penetapan Iman Brotoseno menjadi Dirut TVRI tidak sesuai dengan TAP MPR Nomor VI/MPR/2001 tahun 2001 tentang Etika Kehidupan Berbangsa. Sebab, sebut HNW, Iman pernah menjadi kontributor majalah Playboy Indonesia.

Di dalam Tap MPR tersebut, kata Hidayat, salah satu pointnya adalah pentingnya etika sosial dan budaya, yaitu dengan perlu menumbuhkembangkan kembali budaya malu, yakni malu berbuat kesalahan dan semua yang bertentangan dengan moral agama dan nilai-nilai luhur budaya bangsa.
(m.detik.com, 29/5/2020)

Prokontra yang mewarnai pelantikan Iman Brotoseno sebagai Dirut TVRI baru mencuat ketika cuitan lamanya yang ditulis pada 21 November 2013 beredar di media sosial. Dalam cuitannya tersebut, Iman mengatakan sesuatu yang tidak pantas dan berbau pornografi. Hal ini tentunya menimbulkan kekhawatiran orangtua yang pada masa pandemi ini semua aktivitas belajar dilakukan di rumah (learning from home). Dan pastinya TVRI sebagai salah satu media, memiliki pengaruh besar dalam mengolah informasi yang berkaitan dengan pembelajaran yang dilakukan secara daring. Terlebih lagi hal ini tidak sesuai dengan revolusi mental yang digaungkan oleh Presiden Jokowi beberapa waktu yang lalu.

Media Dalam Pandangan Islam

Islam memandang media dalam negara berfungsi sebagai alat politik untuk menyebarkan ide-ide Islam baik di dalam maupun luar negeri. Tujuannya tidak lain adalah untuk membentuk pribadi-pribadi yang  bertakwa demi membangun sebuah peradaban agung yang bersandar pada hukum-hukum Allah. Media juga digunakan oleh negara untuk menyebarkan Islam ke seluruh penjuru dunia, mendakwahkan dan menonjolkan keagungan Islam serta menampakkan keburukan ide-ide yang bersandar pada akal manusia.
Oleh karena itu negara berkewajiban memilah informasi yang berpotensi merusak dan membahayakan akidah umat maupun ideologi negara. Inilah bentuk periayahan negara kepada umatnya.

Rasulullah saw. bersabda:

انماالامام جنة يقاتل من وراءه ويتقي به

Artinya, "Sesungguhnya imam adalah perisai, dimana (orang-orang) akan berperang di belakangnya (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaannya). (HR. Al Bukhori, Muslim, Ahmad, Abu Dawud, dan lain-lain)

Wallaahu a'lam bishshawab.
 
Top