Oleh : Siti Azizah Fahma, S.Pd, MM
(Praktisi Pendidikan dan Pemerhati Sosial)

Isu rasisme di Amerika Serikat kembali merebak belakang ini dan memicu protes besar-besaran di berbagai negara bagian di Amerika Serikat seperti di New York, Chicago, Philadelphia dan Los Angeles. Kejadian tersebut dipicu oleh kematian seorang Afro-Amerika bernama George Floyd yang dilakukan oleh polisi setempat. 

Dilansir oleh BBCNews.com, 1/6/2020, Pemberlakuan jam malam telah diberlakukan di hampir 40 kota di AS dan menimbulkan ketegangan dan bentroknya polisi anti huru hara dan para pendemo. Hingga saat ini masih terjadi pergolakan kericuhan yang berakhir dengan penjarahan beberapa toko dan pemberlakuan tembak di tempat oleh Trump.

Dikutip dari BBC.com, kejadian yang menghebohkan itu berawal saat polisi menerima laporan pemalsuan uang dari warga setempat (25/5/2020). Polisi kemudian melakukan penangkapan terhadap George Floyd yang saat itu sedang berada di mobilnya. Polisi mengunci gerakan George dengan cara menekan lehernya dengan lutut hingga tewas. Video rekaman ini kemudian tersebar luas di media sosial dan memicu kemarahan masyarakat karena berbau rasisme antara warga kulit putih dan warga kulit hitam. Protes pun meluas di beberapa negara bagian. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menanggapi kematian Floyd dengan mengatakan kematiannya adalah “peristiwa yang sangat menyedihkan.” Trump mengungkapkan empatinya terkait kematian Floyd selama perjalanannya ke Kennedy Space Center di mana dia diwawancarai oleh beberapa wartawan dan menurutnya, petugas polisi yang terlibat dalam kematian Floyd harus dipecat. (Tribbunnews.com, 1/06/2020)

Bahkan dalam kicauannya di Twitter pada Rabu (27/5/2020), Trump mengatakan, "Atas permintaan saya, FBI dan Departemen Kehakiman sudah melakukan penyelidikan dengan baik."Dia juga menambahkan, “Saya telah meminta agar penyelidikan ini dipercepat dan sangat menghargai semua pekerjaan yang telah dilakukan oleh penegak hukum setempat. Saya sampaikan belasungkawa pada keluarga dan teman George. Keadilan akan ditegakkan!" 

Tanggapan Trump tampaknya tidak dihiraukan oleh masyarakat Amerika, karena menurut masyarakat tindakan Trump tidaklah adil, mereka menuntut sang pelaku diberi tindakan hukum bukan hanya dipecat saja. Tampak ketidakadilan yang mengindikasikan kerasisan seorang Trump dalam mengambil keputusan, terlebih lagi keputusannya dengan memberlakukan tembak di tempat bagi demonstran yang rusuh menambah ketegangan dan membuat keadaan makin mencekam. Bukan kali pertama seorang Trump membuat kebijakan yang mengangkat isu rasisme dan sangat kontroversial, salah satunya adalah kebijakan anti-imigrant yang banyak menuai kemarahan dan kebencian masyarakat dunia karena pernyataannya. 

Isu Lama yang Kembali Bangkit

Isu rasisme di Amerika seolah tak pernah selesai. Berdasarkan sejarah, sebenarnya kekerasan seperti yang terjadi pada George Floyd sudah terjadi berabad-abad lalu. Sejak dulu warga kulit hitam hanya dianggap budak dan hak-hak mereka dibatasi oleh orang kulit putih. Sekitar abad ke-20, hukuman mati tanpa pengadilan bagi warga kulit hitam diberlakukan. Selama musim panas 1919, kekerasan ras besar-besaran meletus di Amerika, ketika bocah warga kulit hitam berenang di danau yang khusus kulit putih dan dibunuh. Penyerangan polisi pada activist kulit hitam selama kampanye Birmingham 1963 adalah akar rasis polisi Amerika yang menargetkan pria, wanita dan anak kulit hitam. Kasus demi kasus berlanjut sampai sekarang ini. Kekerasan terhadap warga kulit hitam bukan hanya terjadi pada George Floyd, Dikutip dari Tribunnews.com,  31/04/2020, telah terjadi penembakan fatal terhadap warga kulit hitam oleh polisi Minneapolis yaitu, Jamar Clark dan Philando Castile, dan banyak kasus lainnya. Dilansir oleh suara.com, 01/6/2020, Keisha N. Blain, seorang professor sejarah di Universitas Pittsburg menulis di Washington Post bahwa kekerasan terhadap Floyd hanya berselang dua bulan setelah kematian seorang wanita kulit hitam bernama Breonna Taylor. Keisha mengungkapkan bahwa ancaman orang kulit hitam di Amerika bukanlah virus yang menjadi pandemi, tetapi kekerasan polisi. Sungguh ironi memang, ketika polisi yang sejatinya melindungi masyarakat ternyata dapat menjadi ancaman bagi warganya. Di era Donald Trump, tampaknya isu rasisme semakin menjadi-jadi. Keadilan sekiranya tidak berpihak kepada para pembela penolakan rasisme. Terlihat dari kebijakan-kebijakan Trump yang mengarah kepada rasisme. Para pengamat meyakini, fenomena rasisme dan supremasi ras di Amerika cenderung meningkat dan mendapat semangat baru pasca naiknya Donald Trump dalam pemilu presiden tahun 2016. 
Diskriminasi warga kulit hitam di Amerika

Semenjak Barrack Obama dilantik menjadi presiden kulit hitam pertama di Amerika, banyak yang menduga inilah era di mana Amerika adalah negara tanpa diskriminasi dan pioneer dalam hal persamaan hak azasi manusia. Tapi semuanya itu tampaknya tidak ada artinya, ketika rasisme dan diskriminasi warga kulit hitam menjadi hal yang kerap terjadi di negeri Paman Sam ini. Ketidakpastian dan ketidakadilan dalam isu rasisme akan terus terjadi selama kelompok elite politik terus melanggengkannya dan tidak hanya dalam momen politik, tetapi juga di segala aspek. Dilansir oleh DW.com, Data statistik tahun 2015 menyebutkan penduduk kulit hitam mendominasi statistik kemiskinan di Amerika, tingkat pengangguran masyarakat kulit hitam dua kali lipat lebih tinggi ketimbang warga kulit putih, pendapatan rata-rata warga kulit hitam selalu berada di bawah 60% dari upah yang diterima oleh warga kulit putih, peluang seorang warga kulit hitam mendekam di balik jeruji bui 6 kali lipat lebih besar ketimbang seorang kulit putih. Menurut data NAACP, organisasi lobi kulit hitam AS, jumlah warga kulit putih yang menggunakan narkoba 5 kali lipat lebih banyak ketimbang warga hitam, akan tetapi warga Afro-Amerika yang didakwa terkait narkoba berjumlah 10 kali lipat lebih. 

Laporan Boston Review menegaskan masih banyaknya kecenderungan-kecenderungan rasisme di tengah masyarakat Amerika. Menurut laporan tersebut, lebih dari dua juta warga Amerika keturunan Afrika masih mengalami pembatasan dalam pemilu. Lebih dari itu, warga kulit hitam Amerika selalu dibatasi dalam pekerjaan dan perlakuan diskriminatif atas kulit hitam dalam perekrutan tenaga kerja di Amerika menjadi hal yang biasa. Sungguh hal yang amat mencengangkan ketika sebuah negara super power, terkenal karena sistem demokrasinya yang dipuja puja, dan negara yang dianggap menjunjung tinggi hak azasi manusia ternyata pada praktiknya tidak serta merta membuat masyarakatnya aman dan tentram. Hal ini menunjukkan kebobrokan sistem pemerintahan kapitalis yang terjadi di negeri yang demokratis tersebut.

Islam Tidak Mengenal Rasisme

Perlakuan rasisme yang masih kerap terjadi di beberapa tempat di dunia tidaklah dibenarkan dalam Islam. Perbuatan rasisme tentu tidak sesuai dengan fitrah manusia manapun. Lihatlah bagaimana Bilal bin Rabah, seorang sahabat mulia. Beliau adalah mantan budak dan berkulit hitam legam, tetapi kedudukan beliau tinggi di antara para sahabat. Merendahkan, meremehkan, perundungan dan menghina orang lain karena berbeda warna kulit, suku, agama, bangsa amat sangat tidak beradab. Apalagi perlakuan rasis yang dilakukan oleh seorang pemimpin negara, sungguh tidak layak menjadi seorang pemimpin. Sifat pemimpin menurut Islam adalah menepati janji, mampu melaksanakan tugas, dan menjaga kedaulatan dan kemandirian negara. Sistem yang diterapkan di Amerika Serikat ternyata tidak dapat melindungi rakyatnya, masih terlihat diskriminasi yang sangat jelas terjadi. Negara yang seharusnya menjadi pelindung/perisai rakyat untuk melindungi rakyat hanyalah isapan jempol belaka. Berbeda dengan sistem Islam yang  tidak hanya berfungsi penerapan aturan syariah tapi berfungsi juga sebagai pelindung rakyatnya. Dengan mengimplementasikan ajaran Islam dalam bernegara, maka keutuhan persatuan bangsa akan terjamin. Tidak ada lagi perlakuan-perlakuan yang mengarah kepada rasisme, diskriminasi. Karena semua manusia adalah sama, yang membedakan adalah derajat ketakwaannya. Sistem Islam sebagai pengganti sistem kapitalis yang sudah jelas telah gagal dalam penerapannya. Islam agama yang penuh kedamaian. Sudah dari 14,5 abad yang lalu, Al-Qur’an telah melarang rasisme, seperti termaktub dalam QS. al-Hujurat : 11 yang artinya:    

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.”

Dengan mengimplementasikan ajaran-ajaran Islam dalam memberi solusi problematika umat, maka masyarakat dunia akan sejahtera, aman dan damai dalam menjalani kehidupan. Islam rahmatan lil’alamin. Kemuliaan ajaran Islamlah yang akan menciptakan nilai nilai luhur tersebut. Sehingga kebutuhan semua masyarakat dunia baik secara fisik maupun spiritual akan terpenuhi.

Wallahu a’lam bishshawab.
 
Top