Oleh : Dra. Rivanti Muslimawaty, M. Ag.
Dosen di Bandung

Nampaknya nama YouTuber Ferdian Paleka sudah tidak asing lagi, karena video prank-nya pernah viral pada bulan Ramadan kemarin. Kala itu Ferdian bersama rekan-rekannya membagikan sembako berisi sampah kepada para transpuan atau waria di Bandung, Jawa Barat. Meski sempat buron, Ferdian akhirnya ditangkap polisi dan ditahan selama beberapa minggu di Mapolrestabes Bandung. Namun Ferdian akhirnya dibebaskan setelah para korban mencabut laporan mereka. Ferdian pun mengungkapkan penyesalan serta meminta maaf kepada masyarakat. (https;//www.wowkeren.com/berita/tampil/00314643.html)

Usai bebas, Ferdian belum lama ini ternyata diundang bertemu dengan Wakil Bupati Bandung, Gun Gun Gunawan. Dalam kesempatan tersebut, Gunawan menyambut hangat Ferdian serta memujinya sebagai anak muda berbakat. “Saya menyambut kedatangan anak-anak muda yang penuh bakat ini, karena tujuannya untuk meminta maaf kepada masyarakat Kabupaten Bandung. Jika Allah saja bisa memaafkan hamba-Nya, kenapa kita tidak.” ucap Gun Gun dilansir Pikiran Rakyat pada Selasa (9/6/2029). Akan tetapi, pujian Gun Gun terhadap Ferdian tersebut menuai protes dari netizen. Mereka merasa malu dengan Gun Gun sekaligus menilai masih ada banyak anak muda berbakat lain yang patut dipuji, daripada Ferdian yang membuat konten-konten negatif.

Kelakuan Ferdian memang tidak layak dipuji maupun dijadikan sebagai contoh anak-anak muda. Hal ini patut dipertegas karena anak muda seringkali tidak peduli dengan konten suatu hal, dan tak jarang mereka berprinsip “Engga apa-apa nyeleneh, yang penting viral.” Apalagi fakta bicara, sering terjadi orang yang awalnya dihujat karena berbuat nyeleneh malah akhirnya terkenal dan mendadak menjadi duta suatu event atau mendapat tawaran tampil di mana-mana yang berujung memperoleh guyuran materi yang menyilaukan sebagian anak muda kita. Hal ini wajar adanya, karena anak muda kita hidup dalam sistem kapitalis yang selalu menuhankan materi, dan mendorong manusia untuk mendapatkannya dengan cara apapun, tak peduli benar atau salah.

Berbeda dengan Islam, yang mengajarkan kaum muslim untuk menjadikan halal dan haram sebagai tolok ukur perkataan maupun perbuatan. Kaum muslim dididik untuk mengatakan hal yang benar dan menjauhi perkataan dusta,

 “Kalian harus menjauhi dusta, karena dusta akan bersama dengan kejahatan, dan keduanya ada di neraka.” (HR Ibnu Hibban)

Sementara dalam video prank sampah Ferdian kita melihat jelas kebohongan itu terjadi secara terencana. Di samping itu dalam video tersebut kita melihat perbuatan yang jauh dari halal haram sebagai tolok ukur seorang muslim.

Sejarah telah mencatat dengan tinta emas keberhasilan Islam dalam mendidik generasi muda sehingga muncul begitu banyak nama anak muda berprestasi sejak masa Rasulullah hingga kekhilafahan. Mereka adalah produk pendidikan terbaik yang dijalankan oleh keluarga dengan dukungan dari tiga pilar, yaitu individu, masyarakat dan negara. Sekolah sebagai institusi formal menjalankan tugasnya tanpa ada gangguan berarti karena kompaknya dukungan dari semua lini.
Pada masa kekhilafahan Islam, sejarah mencatat nama Abdurrahman an-Nashir dari Dinasti Umayyah, yang menjadi khalifah Andalusia pada usia 22 tahun. Andalusia mencapai puncak keemasan pada masanya, dia mampu meredam berbagai pertikaian dan menciptakan kebangkitan sains di Andalusia. Dalam bidang militer dan pemerintahan, sejarah Islam mengenal sosok Muhammad al-Fatih, Umar bin Abd al-Aziz, dan Shalahuddin al-Ayyubi. Muhammad al-Fatih, khususnya, masih sangat muda saat berhasil menaklukkan Konstantinopel. (republika.co.id. 14/9/17)

Di dalam buku "Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Utsmaniyah" karya Ali Muhammad ash-Shalabi, disebutkan bahwa Sultan Muhammad II atau Muhammad al-Fatih adalah putra Sultan Murad II. Ia telah diikut-sertakan dalam berbagai peperangan yang dilakukan Turki Utsmani sejak usia belasan tahun. Al-Fatih mendapat pendidikan Al-Qur'an di bawah bimbingan ulama ternama saat itu, Syekh Ahmad bin Ismail al-Kurani. Sultan Murad II juga meminta para ulama lain mengajarkan ilmu hadis, fikih, kemiliteran, sejarah, tata bahasa, dan sejumlah ilmu modern kepada putranya. Keberadaan para ulama di sisi al-Fatih terus berlanjut hingga penaklukan Konstantinopel dilakukan. Muhammad al-Fatih didaulat menjadi sultan pada usia 21 tahun, kemudian berhasil menaklukkan Konstantinopel pada usia 23 tahun. Pemimpinnya disebut-sebut oleh Rasulullah dalam hadis sebagai sebaik-baik pemimpin, sedangkan pasukannya sebagai sebaik-baik pasukan.

Demikianlah keberhasilan Islam dalam mendidik generasi muda yang akhirnya tampil memimpin dunia, membuktikan kecemerlangan peradaban Islam. Kejayaan ini harus terus diupayakan muncul lagi, dengan upaya cerdas dan optimal dari semua kalangan, dengan saling bersinergi dan bahu membahu dalam proses perjuangannya.
 
Top