Oleh: Nabila Zidane
Forum Muslimah Peduli Generasi dan Peradaban

"Sekolah tinggi tinggi kok cuma didapur kerjaannya"


"Sia-sia orang tuanya membiayai sekolah tinggi tinggi kalo cuma jadi pengangguran"


"Perempuan itu jangan diam saja, melamar kerja kemana kek, biar beban suami ringan, kita bisa beli segala kebutuhan sendiri gak perlu minta-minta sama suami"


Astaghfirullah netijen tuh ada saja bahasannya. Macam buzzer, seolah- olah kalau tidak nyinyir tidak makan. Sehari gak ngomongin orang menjadi gelisah itulah gejala penyakit hati. Gak mempan walau sudah pake masker, jaga jarak,
physical distancing, social distansing dan lain
sebagainya.


Dikotomi peran perempuan antara berkarir atau cukup menjadi ibu rumah tangga itu baru muncul di jagat kapitalisme. Kelompok ini menganggap perempuan itu baru produktif posisi sosial ekonominya dan diakui bila mereka menghasilkan income. Yang dirumah saja dianggap pengangguran si penambah beban.



Bahkan negara-negara yang memegang prinsip kapitalisme sering merasa rugi bila perempuan-perempuan lulusan perguruan tinggi itu menganggur. Mereka dianggap makan subsidi tanpa berkontribusi dalam devisa.



Ini jelas pandangan yang keliru. Paradigma ini terjadi karena negara memposisikan dirinya itu layaknya pedagang. Menjual pendidikan agar kemudian bisa memberi pemasukan di masa depan.


Padahal kalau mau jujur menghitung berapa uang yang harus dikeluarkan untuk mengganti tugas seorang ibu rumah tangga ini amat besar. Berapa yang harus dibutuhkan untuk gaji baby sitter, tukang cuci dan setrika, guru les, tukang masak, jasa antar jemput, perawat keluarga disaat sakit, bodyguard anak-anak disaat dibully temannya dan sebagainya.


Lebih lebih disaat pandemi ini. seorang ibu wajib kreatif membuat suasana dirumah tetap kondusif. Bagaimana caranya agar rumah tetap nyaman, penghuni betah didalamnya tanpa ada pertengkaran yang berarti. Itu bukan pekerjaan mudah. Tanya aja sama bapak bapak tuh, dititipin anak belum ada 1 jam saja udah menelpon istrinya lebih dari 3 kali, "jam berapa ibu pulang?". Bukan kangen istrinya tapi merupakan tanda kewalahan saat menjaga semua anak-anaknya yang mulai rewel mencari ibunya.


Syariat Islam Dalam Memandang Perempuan

Syariat Islam tidak pernah memandang sebelah mata posisi ibu rumah tangga. Bahkan Islam memberi label luar biasa bagi perempuan bila dia memilih posisi ummu wa rabbatul bait yaitu pengatur rumah tangga.


Wanita itu pemimpin dalam rumah tangganya, dan bertanggung jawab tentang kepemimpinannya. Khadam itu pemimpin bagi harta majikannya, bertanggung jawab terhadap kepemimpinannya”(HR. Bukhari)


Merekalah ratu rumah tangga. Perempuan berkarir surga yang mengambil posisi istimewa dalam menyiapkan generasi penerus yang akan melanjutkan perjuangan menegakkan kalimatullah ini. Sesungguhnya menjadi ibu rumah tangga adalah kedudukan yang mulia. Posisi strategis dan investasi terbesar yang dibutuhkan oleh setiap peradaban.


Ketika perempuan mendapatkan tugas utama sebagai ibu serta pengatur rumah tangga dan penyelamat bahtera rumah tangga, maka perempuan tidak dibebani tugas untuk bekerja menafkahi dirinya sendiri.


Tugas tersebut dibebankan kepada laki-laki (suaminya, ayahnya, ataupun saudaranya). Dengan kewajiban masing-masing dari ibu dan ayah, maka anak-anak akan terjamin kehidupannya.


Namun demikian, perempuan tetap boleh bekerja dan memainkan peranan lain dalam kehidupan bermasyarakat, selain peran dalam keluarga. Beberapa profesi yang dapat ditekuni perempuan dan sangat penting bagi keberlangsungan kesejahteraan masyarakat.
Seperti menjadi dokter, guru, perawat, hakim, polisi perempuan dan lain sebagainya.


Namun bagi perempuan wajib untuk mengenakan jilbab dan kerudung ketika keluar rumah, menundukkan pandangan, tidak ber-tabarruj (berdandan berlebihan), tidak berkhalwat, bersafar lebih dari sehari-semalam harus disertai mahram, dan lain-lain. Semua itu ditetapkan syariat demi menjaga kemulyaan dan kehormatan perempuan itu sendiri.

Wallahu a'lam
 
Top