Oleh : Jernih Hati Siagian
(Guru dan Pemerhati Umat)

Di seluruh dunia, tenaga medis yang terdiri dari para dokter dan perawat adalah para pejuang di garda terakhir dalam melawan pandemi virus corona atau Covid-19. Mereka dipuji sebagai pahlawan karena mempertaruhkan hidup mereka untuk merawat pasien. Jika dokter dan tenaga medis sebagai garda paling akhir sudah tumbang, maka siapa lagi elemen bangsa yang bisa diandalkan untuk menghadapi perang melawan Covid-19.

Oleh karena itu, ucapan terima kasih dan sebutan pahlawan atau kata-kata sanjungan saja rasanya tidaklah cukup untuk pengapresiasi perjuangan tenaga medis dalam menangani wabah Corona. Perlu upaya dari pemerintah untuk melindungi para dokter, perawat dan pekerja rumah sakit.

Namun, yang menjadi persoalan sampai sekarang adalah Para tenaga medis mengaku kecewa terkait kebijakan pemerintah yang melonggarkan PSBB sehingga semakin maraknya masyarakat yang meremehkan pandemi virus corona. Karena itulah, para tenaga medis kompak menggaungkan tagar 'Indonesia Terserah'. Hingga tagar itu pun menduduki tingkat trending di Twitter.

Dan sejauh ini, bentuk apresiasi yang diberikan pemerintah adalah dengan memberikan insentif sebesar Rp5-15 juta untuk dokter dan para tenaga medis yang terlibat dalam penanganan Covid-19.

Namun sayang, mereka harus lagi lagi kecewa dengan kenyataan yang ada, diliput dari Tempo.co, Perawat di Rumah Sakit Penyakit Infeksi (RSPI) Sulianti Saroso, Anitha Supriono, hingga kini belum menerima insentif sebesar Rp7,5 juta yang dijanjikan pemerintah. Anitha merupakan salah satu perawat yang bertugas di ruang Intensive Care Unit (ICU) menangani pasien-pasien positif Covid-19.

Padahal kita melihat dan menyaksikan bagaimana perjuangan mereka, mereka harus bertaruh nyawa demi menyelamatkan nyawa pasien. Bahkan ketika mereka kekurangan alat pelindung diri (APD), kelelahan karena menangani pasien serta menanggung beban psikologis karena stigma negatif sebagian masyarakat. Mereka yang seharusnya disebut pahlawan itu ditolak warga. Bahkan jenazah seorang perawat pun ditolak sehingga harus dimakamkan di lahan milik rumah sakit. Dan mereka juga harus menginap jauh dari rumah dan keluarga. Terbayang bagaimana kesepiannya saat takbiran Idul Fitri kemarin, mereka terpaksa menyendiri di kamarnya. 

Sebagaimana yang dilansir oleh news.okezone.com, Sekira 24 tenaga medis di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) M Yunus Bengkulu, menjalani perayaan Idul Fitri 1441 Hijriah tanpa bertemu keluarga.

Mereka secara keseluruhan sedang menjalani masa karatina di gedung Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Bengkulu. Sehingga silaturahmi dengan keluarga besar hanya bisa dijalin secara virtual.

Tapi, jika kita melihat data yang ada sekarang malah menunjukan semakin banyak korban tenaga medis yang gugur, karena kurangnya perhatian Pemerintah dalam memberikan perlindungan yang utuh dengan kebijakan yang terintegrasi, dan proteksi finansial yang tidak juga diberikan. Sebagian para medis tidak mendapat tunjangan, THR perawat honorer dipotong bahkan ada yang dirumahkan karena RS mengalami kesulitan dana.

Bagaimana Islam Memberikan Solusi?

Wabah corona telah memberi kita banyak pelajaran. Salah satunya bahwa kekuasaan yang tak berbasis pada akidah Islam hanya akan melahirkan kerugian.

Berbeda jauh dengan kekuasaan yang tegak di atas landasan iman. Kekuasaan Islam telah terbukti membawa kebaikan dan keberkahan bagi seluruh alam. Karena sistem hidup yang diterapkannya berasal dari Sang Maha Pencipta Kehidupan.

Kekuasaan Islam yang disebut sebagai khilafah, senantiasa menempatkan urusan umat sebagai urusan utama. Harta, kehormatan, akal, dan nyawa rakyatnya dipandang begitu berharga. Pencederaan terhadap salah satu di antaranya, dipandang sebagai pencederaan terhadap Allah dan Rasul-Nya. Karena semuanya adalah jaminan dari penegakan hukum syara’.

Khusus di bidang jaminan kesehatan sejarawan Will Durant menuliskan dalam bukunya:

“Islam telah menjamin seluruh dunia dalam menyiapkan berbagai rumah sakit yang layak sekaligus memenuhi keperluannya. Contohnya adalah al-Bimaristan yang dibangun oleh Nuruddin di Damaskus tahun 1160, telah bertahan selama tiga abad dalam merawat orang-orang sakit tanpa bayaran dan menyediakan obat-obatan gratis. Para sejarawan berkata bahwa cahayanya tetap bersinar tidak pernah padam selama 267 tahun.” (Will Durant – The Story of Civilization).

Kisah pengelana Eropa yang mahsyur ini juga menjadi bukti betapa luar biasanya sistem kesehatan pada abad keemasan itu. Ia menceritakan bahwa Ia sengaja berpura-pura sakit karena ingin menikmati lezatnya makanan di rumah sakit Islam. Ia ingin menikmati ayam panggang yang populer saat itu. Karena diterapkan bahwa pasien sembuh dengan semampunya, ia akan memakan ayam panggang tersebut.

Keberhasilan peradaban Islam ini disebabkan paradigma yang benar tentang kesehatan. Nabi saw. bersabda bahwa setiap dari kalian adalah pemimpin dan bertanggung jawab untuk orang-orang yang dipimpin. Jadi penguasa adalah pemimpin yang bertanggung jawab atas rakyatnya.

Kita lihat dalam sejarah bagaimana kebijakan kesehatan yang dilakukan oleh Muhammad Al-Fatih sang penakluk konstantinopel. Beliau dalam memberikan pelayanan kesehatan sungguh luar biasa, di antaranya merekrut juru masak terbaik rumah sakit, dokter datang minimal 2 kali sehari untuk visit pasien. Tenaga medis dan pegawai rumah sakit harus bersifat qona’ah dan juga punya perhatian besar kepada pasien.

Betapa luar biasanya perhatian Islam terhadap kesehatan di masa itu. Apalagi perhatian terhadap dokter dan tenaga kesehatan lainnya. Dengan perhatian yang luar biasa pada pasien, maka Islam dapat dipastikan memberikan fasilitas terbaik untuk tenaga medisnya. Berupa tunjangan dan akses pendidikan mudah dan gratis serta sarana prasarana. Agar mindset yang muncul dalam diri tenaga medis adalah mindset melayani tak semata-mata hitung-hitungan materi.

Islam memberikan perlindungan kepada para tenaga medis yang menjadi garda terakhir wabah dengan diberlakukannya karantina wilayah.

Islam juga menjamin sarana dan prasarana kesehatan yang terbaik dan berkualitas tinggi. Sehingga dapat dipastikan sarana perlindungan diri seperti APD akan dipenuhi. Sehingga tak akan banyak tenaga medis yang dikorbankan.

Sudah saatnya umat kembali ke pangkuan sistem Islam. Yang negara dan penguasanya siap menjalankan amanah sebagai pengurus dan perisai umat dengan akidah dan syariat. Hingga kehidupan akan kembali dilingkupi keberkahan dan kemuliaan. Sebagaimana Allah Swt. telah memberi mereka predikat bergengsi, sebagai sebaik-baik umat. 

Bagaimana pun, nyawa manusia lebih berharga dibanding dunia dan isinya. Maka pengobatan harus maksimal dan ditunjang dengan sistem kesehatan yang baik. Fasilitas rumah sakit akan prima, APD mumpuni, tenaga medis yang banyak dan berkualitas, juga pendanaan yang sehat.

Sungguh sayang, sistem kesehatan di negeri ini pun tak lepas dari cengkeraman korporasi. Alih-alih menggratiskan pelayanan kesehatan, Indonesia malah menaikan iuran BPJS. Sangat minim empati!

Oleh karena itu, jika kita menginginkan permasalahan pandemi ini berakhir, selain berikhtiar untuk menjaga diri dari virus, juga harus dibarengi dengan ikhtiar menerapkan Islam secara kafah, karena hanya dalam sistem Islamlah seluruh masalah akan tuntas diatasi.

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.“ (QS. al-A’raf ayat 96)

Wallahu a'lam bishshwab.
 
Top