Oleh : Sumiati  
(Praktisi Pendidikan dan Member Akademi Menulis Kreatif)

Masyarakat Indonesia dikejutkan dengan kebijakan baru dari pemerintah, yaitu New Normal. Sebetulnya di tengah masyarakat nama ini tidak mudah dipahami. Harus berulang kali membacanya agar bisa paham. 

Dilansir oleh CNBC Indonesia, pemerintah tampaknya akan segera melonggarkan aktivitas sosial serta ekonomi dan bersiap kembali beraktivitas dengan skenario New Normal. Pemerintah sudah gencar mewacanakan ini dan mulai menerapkannya pada lingkungan kerja Aparatur Sipil Negara (ASN) atau Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan karyawan Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Sekretaris Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PAN-RB), Dwi Wahyu Atmaji, mengatakan skenario ini merupakan pedoman yang disiapkan agar PNS dapat bekerja optimal selama vaksin Corona belum ditemukan. Dia mengatakan waktu penerapan skenario kerja 'New Normal' ini akan bergantung pada arahan dari Gugus Tugas Covid-19.

"Ya kita harus realistis saja bahwa Corona ini belum ada obat/vaksin, jadi harus tetap waspada," ujar Wahyu seperti dikutip dari detikcom, Minggu (24/05/2020).

Kebijakan New Normal Life yang baru saja disampaikan pemerintah. Merupakan upaya menormalkan kondisi ekonomi, tanpa diiringi dengan peningkatan penanganan wabah dari aspek kesehatan. Bahkan pemerintah belum memiliki peta jalan penyelesaiannya. New Normal Life hanya sekadar mengikuti tren global tanpa menyiapkan perangkat yang memadai. Agar tidak menjadi masalah baru. Hanya sekadar kebangkitan ekonomi kapitalis saja. Bahkan justru membahayakan nyawa manusia. Yang ada, alih-alih ekonomi bangkit, justru wabah gelombang kedua mengintai di depan mata. Inilah watak rezim yang tidak memihak rakyat. Hanya menyenangkan para kapitalis, karena mereka menjabat pun berkat jasa para kapitalis yang memiliki modal banyak. New Normal Life tidak lain adalah propaganda kapitalis dalam menguasai ekonomi. Tidak peduli terhadap masyarakat yang kian sekarat. Yang penting tuan mereka senang.

Terlebih jika terjadi New Normal Life terealisasi, kemudian korban Covid-19 semakin bertambah banyak. Di sinilah peran kapitalis mencekik negeri tercinta ini dengan hutang. Ekonomi Indonesia sedang getir, jika yang terkena Covid-19 diharuskan diobati dengan anti virus, sementara anti virusnya milik asing yang harus dibeli. Otomatis tidak ada pilihan bagi Indonesia kecuali hutang. Kembali jebakan sistem kapitalis dalam mencengkeram negeri-negeri muslim di dunia. 

Sangat berbeda dengan sistem Islam, Khilafah Islamiyah memiliki kewibawaan di hadapan negeri-negeri lain. Dalam ekonomi akan memberdayakan sumber daya alam, termasuk ketersediaan di baitul mal. Khalifah tidak akan bisa disetir oleh asing, sehingga tidak mungkin mengorbankan rakyatnya. Justru sangat memperhatikan ekonomi dan kesehatan rakyat. Kebijakan Normal kembali, akan diambil jika memang wabah benar-benar telah pergi. Bukan atas kemauan para pemodal. 

Bahkan khalifah Umar bin Khattab telah memberikan contoh paripurna dalam penanganan wabah. Pada masa Kekhalifahan Umar bin Khattab juga pernah terjadi wabah penyakit menular. Diriwayatkan:
Khalifah Umar pernah keluar untuk melakukan perjalanan menuju Syam. Saat sampai di wilayah bernama Sargh, beliau mendapat kabar adanya wabah di wilayah Syam. Abdurrahman bin Auf kemudian mengabari sahabat Umar bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda, "Jika kalian mendengar wabah terjadi di suatu wilayah, janganlah kalian memasuki wilayah itu. Sebaliknya, jika wabah terjadi di tempat kalian tinggal, janganlah kalian meningggalkan tempat itu." (HR. al-Bukhari)

Riwayat ini juga dinukil oleh Ibnu Katsir dalam Kitab Al-Bidayah wa al-Nihayah. Menurut Imam al-Waqidi saat terjadi wabah Thaun yang melanda seluruh negeri Syam, wabah ini telah memakan korban 25.000 jiwa lebih. Bahkan di antara para sahabat ada yang terkena wabah ini. Mereka adalah Abu Ubaidah bin Jarrah, al-Harits bin Hisyam, Syarahbil bin Hasanah, Fadhl bin Abbas, Muadz bin Jabal, Yazid bin Abi Sufyan dan Abu Jandal bin Suhail.

Allah Swt. telah memerintahkan kepada setiap manusia agar hidup sehat. Contohnya diawali dengan makanan. Allah Swt. telah berfirman:
"Makanlah oleh kalian rezeki yang halal lagi baik yang telah Allah karuniakan kepada kalian". (QS. an-Nahl : 114)

Selain memakan makanan halal dan baik, kita juga diperintahkan untuk tidak berlebih-lebihan. Apalagi sampai memakan makanan yang sesungguhnya tidak layak dimakan, seperti kelelawar, tarantula, bahkan kecoa. Allah Swt. berfirman:
"Makan dan minumlah kalian, tetapi janganlah berlebih-lebihan. Sungguh Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan". (QS. al-Araf : 31)

Allah memerintahkan hamba-Nya untuk senantiasa menjaga kebersihan diri maupun lingkungan sekitar. Untuk itulah Rasulullah Saw. pun, senang berwudhu, bersiwak, memakai wewangian, menggunting kuku dan membersihkan lingkungannya.

Namun demikian, penguasa pun punya peran sentral untuk menjaga kesehatan warganya. Apalagi saat terjadi wabah penyakit menular. Tentu rakyat butuh perlindungan optimal dari penguasanya. Penguasa tidak boleh abai. Para penguasa muslim pada masa lalu, seperti Rasulullah saw. dan Khalifah Umar bin Khattab ra., sebagaimana riwayat di atas telah mencontohkan bagaimana seharusnya penguasa bertanggung jawab atas segala persoalan yang mendera rakyatnya, di antaranya dalam menghadapi wabah penyakit menular. Rasulullah saw. bersabda:
"Siapa yang diserahi oleh Allah untuk mengatur urusan kaum muslim, lalu dia tidak mempedulikan kebutuhan dan kepentingan mereka, maka Allah tidak akan mempedulikan kebutuhan dan kepentinganya (pada Hari Kiamat)". (HR. Abu Dawud)

Dengan demikian, penanganan wabah dan mengkondisikan masyarakat di tengah lockdown pun bisa tuntas. Masyarakat teriayah dengan baik. Mengikuti apa yang sudah dilakukan para pemimpin di masa lalu, kapan semuanya di normalkan lagi, atau masih tetap lockdown. Tidak bergantung kepada asing yang berniat untuk mengikat negeri ini dengan hutang dan hutang. Sehingga negeri ini tidak bisa bebas mandiri, semuanya bergantung pada asing.

Wallahu a'lam bishshawab.
 
Top