Oleh : Deny_Rahma (Komunitas Setajam Pena)

Kasus corona yang terjadi di Indonesia kian hari kian meningkat, terlihat dari peningkatan yang cukup signifikan dari data per 5 Juni 2020 terjadi penambahan kasus positif sebanyak 703 kasus. Sehingga total kasus positif menjadi 29.521 kasus. Sedangkan, kasus sembuh corona juga mengalami peningkatan. Pada hari ini ada 551 pasien yang sembuh, sehingga totalnya menjadi 9.443 kasus. Sedangkan, pasien meninggal bertambah 49 orang. Totalnya menjadi 1.770 orang. Dari data tersebut terlihat kenaikan jumlah pasien sembuh yang lumayan meningkat namun juga tak dapat dipungkiri kasus positif dan kematian juga meningkat. Untuk itu kasus ini tak boleh disepelekan dan dibiarkan menguap begitu saja tanpa penanganan yang serius.

 Namun Pemerintah mengambil langkah yang sangat mengejutkan banyak kalangan, yakni kebijakan New Normal. Sebelumnya perlu kita ketahui istilah New Normal atau normal baru menurut Pemerintah Indonesia adalah sebuah tatanan baru dimana kita diminta untuk beradaptasi dengan COVID-19, hidup normal dengan protokol kesehatan.  Dalam tatanan dunia baru yang dicanangkan pemerintah ini diambil tanpa adanya dukungan dari Sains sehingga tak layak untuk diterapkan. Melihat dari Negara lain seperti Swedia, Korea Selatan dan Jerman yang telah melonggarkan restriksi sosial, setelah angka kasus jauh menurun. Sedangkan Indonesia belum mencapai tahap tersebut. Bahkan menurut ahli, Indonesia dianggap belum mencapai puncak pandemi karena belum maksimal melakukan tes massif. Ditambah lagi belum ada kesiapan masyarakat dengan pola kesehatan yang baik menghadapi wabah. Tidak heran ormas mewakili suara masyarakat menolak rencana pemerintah untuk segera berlakukan new normal.

Dikutip dari situs kanalkalimantan.com (28/05/2020), Menurut Epidemiolog FKM Universitas Hasanuddin Ridwan Amiruddin, menjelaskan, setiap negara pasti akan memikirkan dua hal, yakni bagaimana menangani covid-19 dan bagaimana roda perekonomian tetap berjalan. Diandaikan sebagai piramida, sebuah negara akan menyelesaikan masalah keamanan dan kesehatan publik, lalu ketika pandeminya sudah dapat dikendalikan, barulah masuk ke konsen ekonomi. Kalau melihat dari piramida itu, Indonesia justru langsung lompat ke tahap kedua yakni memikirkan menjalankan roda perekonomian meski pandemi covid-19 belum selesai. Dan Indonesia masih dipuncak bahkan belum mencapai puncak, jika mau implementasi maka terlalu dini. Ini new normal yang prematur.

Pemerintah juga memaksakan kebijakan ini dengan pengerahan TNI dan Polri yang bisa berdampak negatif terhadap kehidupan sosial masyarakat. Pasalanya hal ini akan berdampak pada ketidaknormalan baru pada kehidupan masyarakat, dimana keterlibatan mereka akan berdampak pada kesewenang-wenangan jabatan dan menyusutkan kebebasan sipil. Dan juga pengerahan TNI dan Polri pun selama ini tidak menurunkan kurva penyebaran COVID-19.

Bila rencana ini tetap dijalankan, semakin jelas bahwa kebijakan dikendalikan oleh kapitalis, bukan didasarkan pertimbangan kemaslahatan publik yang didukung sains dan suara publik. Pemerintah hanya mementingkan keuntungan pribadi dan golongan yang menginginkan ekonomi kembali berjalan agar mereka tidak mengalami kerugian. Yaitu para kapitalis, pengusaha, pemilik modal dan penyokong dana bagi sang tuan. Demi perekonomian itulah membuktikan jika pemerintah abai dengan keadaanya masyarakat yang seharusnya adalah tanggungjawabnya. Mengayomi masyarakatnya dengan memberikan peraturan yang tegas untuk penanganan dan memenuhi hajat hidupnya.

Berbeda dengan Islam, yang mempunyai sistem yang jelas dalam tatanan kehidupan. Menenangkan dan menentramkan masyaraktnya di berbagai situasi, baik situasi normal maupun tak normal. Di situasi yang tak normal seperti ini pemerintahan yang menerapkan sistem Islam atau disebut khilafah pasti akan mengambil langkah yang tepat untuk menanganinya. Mencanangkan karantina wilayah untuk daerah berwabah, dan mencukupi kebutuhan hidup masyarakat dikala harus dirumah. Ketika daerah tersebut kekurangan dana maka pemerintah akan mengambil dana cadangan dari baitul mal ataupun meminta pertolongan dari daerah lain yang tak terdampak wabah. Maka situasi tak normalpun pasti akan tertangani dengan tepat sehingga keadaan akan pulih kembali dengan New Normal yang sebenarnya.
Wallahu a'lam bishawab.
 
Top