Oleh : Ami Siti Rohmah
Muslimah Peduli Negeri

New normal atau 'era normal baru' istilah kerennya menurut dokter tirta adalah adaptasi gaya baru yang menerapkan protokol kesehatan, seperti menggunakan masker, mencuci tangan sesering mungkin, tidak memegang area hidung, mata, dan mulut dan tentunya jaga jarak. Namun, apakah semua ini cukup aman untuk diterapkan di seluruh lapisan masyarakat?

Dilansir oleh Kompas.com, 18/5/2020, yang memberitakan bahwa Presiden Joko Widodo meminta masyarakat bersiap untuk menghadapi era normal baru, dimana suatu masyarakat bisa melakukan kembali aktivitasnya secara normal, tapi tetap memperhatikan protokol kesehatan untuk mencegah penyebaran virus Covid-19. Apakah new normal itu berbahaya bagi seluruh lapisan masyarakat?

Banyak pihak memandang bahwa kebijakan ini tidak tepat dan sangat berbahaya untuk diterapkan dalam situasi sekarang. Mereka menganggap pemerintah berlepas diri dari tanggung jawabnya terhadap masyarakat dan tentunya mengorbankan nyawa rakyat dengan alasan ingin menggeraklan kembali sektor ekonomi yang lumpuh akibat pandemi ini. Inilah akibatnya jika kita hidup di sistem kapitalisme yang  berasaskan sekularisme yaitu pemisahan agama dari kehidupan. Seperti kita lihat sekarang ini, banyak fakta terang-terangan yang terjadi ketika syariat Allah tidak dijalankan total oleh umat manusia. Yang terjadi karut marut di segala aspek kehidupan, seperti aspek ekonomi, sosial, budaya, dan masih banyak masalah yang membelenggu negeri ini.

Lalu bagaimana sesungguhnya penerapan konsep new normal dalam pandangan Islam. Setidaknya ada empat hal yang harus diperhatikan, sehingga kita tidak salah dalam mengambil keputusan yang satu dan lainnya saling berkaitan.

Pertama, Kaidah sebab akibat. Dilakukan dengan cara mengetahui sebab yang mampu menghantarkan pada tercapainya tujuan.

Kedua, memperhatikan pendapat ahli yaitu ketika seorang muslim melakukan sesuatu ia dituntut untuk memahami hukun syara yang berkaitan dengan perbuatan tersebut.

Ketiga, memperhatikan hukum atau kaidah tentang kemudaratan. Jika lebih banyak mudaratnya, sebaiknya ditinggalkan.

Keempat, yakin akan qadha Allah dan bertakwa kepadanya, yang pasti akan berpengaruh positif terhadap aktivitas manusia dalam keadaan apapun.

Demikianlah metode yang diterapkan Islam dalam sistem new normal ini, dan apabila masyarakat tidak mau menempuh new normal ini, maka dengan pengerahan aparat yang menyatakan bahwa dua keuntungan dari new normal yaitu menjaga Indonesia dari ancaman pandemi, dan Indonesia tidak terpuruk dari masalah perekonomian.

Dalam aspek ketahanan pangan dan pendidikan, masyarakat agar patuh dengan norma baru ini. Pemerintah akan menerjunkan TNI dan Polri. TNI Polri juga akan memperingatkan siapa saja yang tidak patuh.

Seharusnya, kita hanya kembali pada tuntunan Islam. Siapapun kita, diharuskan tunduk dan patuh terhadap syariat Islam, karena syariat Islam turun langsung dari Allah Sang Pencipta dan sesuai dengan fitrah manusia. Islam dengan sangat rinci menuntun kita untuk merujuk kepada setidaknya empat poin tadi ketika kita hendak bersikap berkaitan dengan rencana new normal ini. Dan pemerintah seharusnya lebih bijak dalam mengambil keputusan ini dalam hal medis, ahli pakar pandemi dan sebagainya. Seharusnya mempertimbangkan secara seksama apakah kebijakan ini akan memberikan kemudaratan pada rakyatnya atau tidak. Dan penguasa seharusnya mengupayakan secara maksimal menempuh sebab-sebab yang bisa mempercepat penyelesaian masalah ini, kemudian menempuh jalan new normal untuk menyelesaikan masalah ekonomi, sosial, budaya dengan memperhatikan nyawa rakyatnya.

Wallahu a'lam bishshawab.
 
Top