Oleh : Khansa Al-Hakiimah
Ummu Warrabatul Bayt dan Pegiat Dakwah

Covid-19 telah melahirkan krisis ekonomi dan kebijakan penanganan pandemi di berbagai negara. Hampir seluruh negara, terlepas dari kemajuan ekonomi dan teknologi, serta sektor pelayanan kesehatan, mereka semua menghadapi ketidakpastian dan ketidakyakinan pemerintah dalam menangani Covid-19.

Saat ini upaya untuk menghidupkan kembali kondisi ekonomi masyarakat setelah pandemi mulai dilakukan. Pemerintah mengeluarkan skema dan beberapa tahapan sekaligus memantau grafik penyebaran virus Corona setelah new normal nanti. Dimana pada akhir Juli, aktivitas ekonomi baru dibuka sepenuhnya. Di bulan Juni saat ini, fase I  mulai berjalan meskipun dengan batasan aktifitas yang disesuaikan dengan protokol penanganan Covid-19. Dikutip dari laman pojokbandung.com,  MUI Kabupaten Bandung menekankan pentingnya menyelematkan nyawa warga negara di tengah pandemi Covid 19. Oleh karena itu, jika aturan new normal diterapkan, khususnya di tempat ibadah, maka wajib mengikuti arahan Kemenag RI, yaitu disesuaikan dengan kondisi daerah masing-masing.

Dengan new normal ini pemerintah berharap nantinya kita bisa kembali beraktivitas tetapi dengan batasan-batasan yang telah ditentukan pemerintah. Terlebih banyak dari kita yang sudah tidak sabar untuk beraktivitas kembali.

Sebenarnya new normal juga memiliki resiko bagi kemungkinan penyebaran corona yang lebih besar kepada masyarakat. Saat jumlah pasien meningkat termasuk juga angka kematiannya. Khawatir jika pemerintah akan mengambil sikap baru yang bisa saja di luar skema new normal yang diberlakukan. Sehingga sosialisasi ke masyarakat hidup new normal harus terus digalakan.

Walau virus corona yang mematikan masih menunjukan keberadaannya, namun pemerintah berencana untuk hidup normal kembali dan menghimbau kepada masyarakat untuk berdamai dengan Corona. Sungguh ini pernyataan yang menyakitkan bagi rakyat. Sehingga wajar jika hal itu mengundang kontroversi dari sebagian besar kalangan masyarakat pasalnya grafik virus Corona terus bertambah, sedangkan dana bantuan yang mereka tunggu tak kunjung datang. Apakah yakin ini adalah solusi untuk mengembalikan perekonomian dan solusi menurunkan angka positif Covid-19 dan kematian? Atau hanya solusi kebosanan kita dengan keadaan?
Dalam sistem kapitalis saat ini memang susah mengeluarkan dana untuk keperluan masyarakat kecil.

Berbeda dengan negara khilafah, khalifah akan sangat memberi perhatian besar kepada masyarakat kecil di saat seperti sekarang ini dan di masa bukan pandemi. Negara menjamin atas kehidupannya tidak diabaikan apalagi sampai tidak dipenuhi hak-haknya.

Semoga adanya wabah ini menambah kesadaran kita untuk mengamalkan Islam yang kaffah. Mengamalkan ajaran Islam dengan benar dengan menebar manfaat dan kebaikan. Yakinlah sistem Khilafah itu adalah kebaikan untuk kita semua. Waspada untuk tetap hidup bersih dan higienis. Ikuti protokol kesehatan sebaik mungkin.

Pada saat wabah terjadi di zaman Rasul, beliau memberi tuntunan dalam sebuah hadis yang isinya ketika di suatu tempat ada wabah, maka tidak boleh orang yang berada di lingkungan wabah itu keluar dari tempat itu. Dan orang yang di luar tidak boleh masuk ke dalam tempat wabah beredar yang artinya, ‘Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak dapat (pula) memasukannya.’

Maka sampai kapankah kita mau mempertahankan sistem yang rusak ini? Sudah saatnyalah manusia kembali pada aturan yang berasal dari Allah Swt dengan menerapkan syariat Islam kaffah secara totalitas. In syaa Allah keberkahan akan menaungi negeri ini. Sebagaimana firman Allah Swt.

“Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa pasti kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat kami) maka kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan. (TQS. Al A’raf :96)

Wallahu a’lam bish shawwab.
 
Top