Oleh : Nur Elmiati
Aktivis Dakwah Kampus dan Member Akademi Menulis Kreatif

Alkisah di sebuah desa hiduplah seorang pemuda bernama Makum. Nama ini diambil dari riwayat tubuh makum, yang menjadi sarang tempat tinggalnya kuman, maka ia diberi julukan manusia kuman (Makum). Pada suatu hari makum merasa sedih, bosan, dan  tidak tahan dengan kuman yang terus menempel di tubuhnya, ia pun memutuskan untuk menghilangkan kuman dari tubuhnya dengan cara mandi di sungai. Namun anehnya, sungai yang makum pilih sebagai tempat pemandian, ternyata telah dihuni buaya berjenis muara. Buaya ganas dan juga mematikan, alih-alih untuk menghilangkan kuman di tubuhnya, malah nyawa yang menjadi taruhannya.

Cuplikan cerita di atas barangkali bisa menjadi mirroring atas kebijakan yang diambil pemerintah di tengah pandemi virus corona yang kian merebak dan menginfeksi ribuan orang di Indonesia.

Setelah instruksi hidup berdamai dengan Corona, Presiden Joko Widodo (Jokowi)  mengajak seluruh rakyat Indonesia memasuki fase kehidupan normal baru (New Normal), di tengah pandemi virus Corona (Covid-19) (Sindonews.co, 28/05/20). New normal merupakan nama samaran dari hidup berdamai dengan virus corona.

Indonesia merupakan salah satu negara yang ingin menerapkan new normal. Dimana alasan utama dibalik wacana penerapan new normal,  yaitu ingin menggerakkan kembali roda perekonomian yang terhambat akibat kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Maka masyarakat  ltidak lagi stay at home, melainkan bisa beraktivitas di luar rumah lagi.

Namun pertanyaannya, sudah siapkah masyarakat Indonesia  hidup berdamai dengan covid-19 dalam bingkai new normal life?

Merujuk pada lexico, sebuah situs di bawah pantauan Oxford, new normal merupakan sebuah keadaan yang sebelumnya tidak biasa atau familiar yang kemudian dijadikan standar, kebiasaan, atau ekspetasi. Pemerintah Indonesia menganggap bahwa New normal merupakan skenario ampuh untuk mempercepat penanganan Covid-19 baik dalam aspek kesehatan, sosial maupun ekonomi.

Untuk menentukan kesiapan negara dalam penerapan new normal, harus memenuhi beberapa syarat. Menurut Word Health Organzation (WHO) syarat-syarat yang harus dipenuhi yaitu, kemampuan untuk mengendalikan penularan, sistem kesehatan mampu mendeteksi, mengetes, mengisolasi, dan melakukan pelacakan kontak  terhadap semua kasus positif, meminimalisasi resiko wabah khususnya di fasilitas dan panti jompo, serta sekolah, kantor, dan lokasi penting  lainnya bisa dan telah menerapkan upaya pencegahan.

Nampaknya syarat-syarat tersebut merupakan entri point yang harus dipenuhi dalam penerapan new normal. Di samping itu, Centre for Environment and population Health (CEPH), Griffith University mensinyalir bahwa negara yang siap menerapkan new normal adalah negara yang bisa melonggarkan pembatasan sosial, idealnya sudah melewati puncak kurva epideminya.

Sementara Indonesia, berbanding terbalik 180° dengan negara yang ideal menerapkan new normal. Pasalnya, laju penularan Covid-19 terbilang cukup tinggi, bahkan jumlah kasus  yang terkonfirmasi positif covid-19 sudah mencapai 23.165 orang dan ditambah dengan 415 korban. Persentase jumlah korban semakin tinggi dibandingkan dengan hari sebelumnya, bahkan tidak ada tanda-tanda kurva melandai. Ini artinya, Indonesia belum siap lahir dan batin untuk menerapkan new normal.

Namun rezim abai bahkan tidak mempertimbangkan siap atau tidaknya masyarakat dan negara, justru rezim diktator terkesan memaksakan kehendak bahwa new normal harus dijalankan. Padahal tidak selayaknya rezim mengambil keputusan sepihak, sebab harus menimbang konsekuensi yang terjadi  atas kebijakan yang digadang-gadangkannya, meskipun berdalih perekonomian anjlok.

Penerapan new normal life tanpa memperhatikan kurva dan fakta di lapangan, maka secara terbuka pemerintah mengundang bahaya di atas bahaya. Hal ini tentu semakin membuat, masyarakat khawatir dan dihantui perasaan ketakutan meskipun ada protokol dari pemerintah. Jika new normal life benar-benar diterapkan, maka besar kemungkinan Indonesia mengalami kegagalan yang sama seperti Korea Selatan, di mana Korea Selatan menduga bahwa tidak ada lagi kasus covid-19 tapi setelah diterapkan new normal life ribuan orang terinfeksi covid-19.

Sadar atau tidak, dengan penerapan new normal life, semakin menyadarkan kita bahwa pemimpin yang berada dalam sistem demokrasi lebih mempertaruhkan nyawa rakyatnya demi menjaga kestabilan perekonomian. Berbeda halnya dengan Islam, Islam memandang bahwa pemimpin mempunyai akuntabilitas atas rakyatnya. Sehingga apapun yang disampaikan oleh  khalifah, rakyat akan nurut sebab khalifah akan memberikan rasa aman dan nyaman meskipun dalam situasi wabah.

Seperti halnya ketika terjadi wabah Thaun di masa kekhalifahan Umar bin Khattab, khalifah umar bin khattab mampu memberikan spirit kemenangan kepada rakyatnya bahwa  wabah Thaun dapat atasi. Yaitu dengan memberi sinyalir lockdown, agar rakyatnya terselamatkan dari wabah. Meski sedang di lockdown, khalifah tetap menjamin kebutuhan rakyatnya. Tanpa ada aba-aba atau pun instruksi keluar dari tempat karantina untuk mencari kerja demi membantu perekonomian negara.

Wallahu’alam bihshawab
 
Top