Oleh : Rini Heliyani
(Revowriter Aceh)

Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) mengeluarkan pernyataan yang mengejutkan di tengah situasi penanganan virus Covid-19 yang baru ini belum genap dua bulan di Indonesia. 

Melalui akun resmi media sosialnya pada Kamis (cnnindonesia.com,7/5/20), Jokowi meminta agar masyarakat untuk bisa berdamai dengan Covid-19 hingga vaksin virus tersebut ditemukan.

Pernyataan Jokowi itu pun lantas menjadi sorotan di media sosial, lantaran hal itu bertentangan dengan apa yang disampaikannya dalam pertemuan virtual KTT G20 pada Maret lalu.  Kala itu, Jokowi secara terbuka mendorong agar pemimpin negara-negara dalam G20 menguatkan kerja sama dalam melawan Covid-19, terutama aktif dalam memimpin upaya penemuan anti virus dan juga obat Covid-19. Bahasa Jokowi kala itu, 'peperangan' melawan Covid-19. (cnnindonesia.com,9/5/20)

Berdamai dengan Corona sama artinya “new normal life” atau kondisi normal yang baru. New normal life dimaksud bahwa telah terjadi pelonggaran PSBB. Masyarakat tetap menjalankan aktivitas secara normal dengan tetap menaati sejumlah protokol kesehatan. 

New normal life dilakukan agar pergerakan ekonomi terus berjalan. Karena saat ini ekonomi turun sangat drastis di berbagai daerah. Akibat diberlakukan PSBB, banyak masyarakat akhirnya harus bekerja dari rumah. Bahkan banyak perusahaan yang tutup sehingga menyebabkan banyaknya angka pengangguran. 

Di sektor pariwisata juga mengalami penurunan. Berdasarkan rilis dari Badan Pusat Statistik, jumlah wisatawan mancanegara yang datang ke Indonesia pada triwulan 1-2020 turun drastis hanya sejumlah 2.61 juta kunjungan, berkurang 34.6 persen bila dibanding tahun lalu. Hal ini sejalan dengan larangan penerbangan saat berlaku PSBB. (kompas.com, 10/5/20)

New normal life sebenarnya dilakukan untuk siapa? Jelas hal ini terlihat bahwa, pemerintah lebih mementingkan kepentingan para pengusaha demi terus menjalankan bisnisnya. Seakan-akan terkesan untuk menyelamatkan ekonomi rakyat kecil. Padahal saat ini banyak pengusaha yang bangkrut diakibatkan pendemi Covid-19 ini. Maka, pemerintah mengambil kebijakan “new normal life” adalah untuk menyelamatkan ekonomi pengusaha.

Di saat Indonesia belum mencapai puncak pandemi, new normal life seakan menjadi solusi atas permasalahan. Padahal justru menjadi masalah yang baru. PSBB saja masih belum terlaksana secara baik, pemerintah justru mengambil kebijakan yang baru lagi. Maka, pantaskah new normal life diberlakukan di saat Covid-19 belum selesai berpesta?

Di saat pemberlakuan PSBB saja sudah banyak korban positif Covid-19 yang terjadi di Indonesia, konon lagi jika new normal life diberlakukan. Sungguh miris kebijakan pemerintah saat ini, di saat Covid-19 sedang berpesta, malah mengambil kebijakan bunuh diri. 

Persoalan ekonomi menjadi hal mendasar negeri ini, banyak desakan-desakan yang terjadi terutama oleh pengusaha untuk menyembuhkan ekonomi mereka, hal ini terlihat dari  kembali dibuka pusat-pusat perbelanjaan (mall) yang notabene dimiliki oleh pengusaha besar di Indonesia serta membuka kembali pariwisata. 

Covid-19 sudah menjadikan ekonomi dunia khususnya Indonesia terpuruk. Jika ditelusuri lebih jauh, Indonesia dengan kekayaan alam yang sangat banyak. Tidaklah seharusnya menjadi sangat terpuruk. Hanya saja banyaknya kekayaan alam Indonesia dikuasai oleh asing dan aseng. Hal ini jelas terlihat dari banyaknya perusahaan-perusahaan tambang dan non tambang asing dan aseng di Indonesia. Beberapa daftar perusahaan asing di Indonesia, PT Chevron Pasific, PT Newmont, PetroChina,  ConocoPhillips, BP, Niko Resource, PT Freeport Indonesia.

Inilah beberapa perusahaan-perusahaan asing dan aseng yang menguasai kekayaan Indonesia. Maka, wajar saja jika Indonesia kurang sejahtera karena disebabkan kekayaan alamnya banyak dikuasai asing dan aseng. 

Pandangan Islam

Islam sebagai agama yang sempurna mampu memberikan solusi atas setiap permasalahan yang dihadapi, termasuk permasalahan pandemi. Pada masa Khalifah Umar bin Khattab pernah mengalami wabah penyakit menular. Maka, Umar bin Khattab memerintahkan kepada umat yang wilayahnya mengalami wabah untuk tidak keluar dari daerahnya, sedangkan untuk daerah yang tidak terkena wabah tidak dibenarkan keluar dari daerahnya.

Lantas bagaimana dengan pemenuhan kebutuhan umat, jika umat tidak keluar rumah untuk bekerja. Maka, dalam hal ini khalifah sebagai pemimpin negara menjamin segala kebutuhan umat. Dari harta kepemilikan umat serta kepemilikan negara. Berbagai kekayaan alam yang dimiliki hanya dikelola oleh negara dan disalurkan untuk memenuhi kebutuhan umat, seperti kesehatan, keamanan, pendidikan, sosial, dan lain-lain. Hal ini sesuai dengan hadits Rasulullah saw., “Manusia itu memiliki hak bersama (bersekutu) dalam tiga hal yaitu air, rumput liar dan api.”

Berdasarkan hadis tersebut jelas bahwa hanya negara sajalah yang berhak mengelola kekayaan alam, bukan swasta baik dalam dan luar negeri.

Jika negara hendak memberlakukan “new normal life” maka, haruslah memandang dari sisi sains. Islam memberikan porsi bagi pakar-pakar atau disebut 'Khubaro' dalam mengambil kebijakan negara untuk menyelesaikan masalah masyarakat yang rumit dan membutuhkan analisis yang tajam. Fokus ilmuwan dan sains digunakan untuk menyelesaikan masalah masyarakat, bukan sekadar memenuhi target dunia industri semata. Negara memberikan dukungan penuh dalam pengembangan sains dan teknologi. 

Alhasil, jika para ilmuwan memandang bahwa masa pandemi belum berakhir, maka pemerintah mengambil kebijakan untuk melakukan “lockdown” hingga masa pandemi berakhir, bukan malah mengambil kebijakan yang membingungkan dan terkesan tidak dapat menyelesaikan permasalahan yang dihadapi. 

Wallahu a'lam bishshawab.
 
Top