Oleh : Hawilawati 
(Revowriter & WCWH Tangerang)

Tiada menerapkan lockdown nasional, PSBB-pun tidak mengalami keberhasilan menjadi aman dari virus, kini di sejumlah daerah akan diterapkan new normal life. 

Untuk menuju ke tahap new normal tersebut, Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di sejumlah wilayah diperpanjang, tak terkecuali di wilayah Tangerang Raya mencakup Kota Tangerang, Tangerang Selatan dan Kabupaten Tangerang hingga tanggal 15 Juni 2020. Aktivitas belajar masih dilakukan di rumah via daring. 

Ini adalah Perpanjangan PSBB yang keempat untuk menekan laju penularan virus Covid-19. Menurut Gubernur Banten Wahidan Halim PSBB tahap ini adalah tahap pembiasaan menuju new nomal life. 

Dalam protokol pengamanan Covid-19 ini pun, Pemerintah Kota Tangerang akan menyiapkan sanksi seperti sejumlah sanksi sosial bagi pelanggar.

Sementara di delapan wilayah, antara lain Provinsi Aceh, Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Jakarta, Bali, Kalimantan Utara dan Maluku Utara akan memasuki tahap new normal life. 

New normal life atau kondisi normal yang baru. Kondisi ketika manusia pada akhirnya harus hidup berdampingan dengan ancaman virus Corona penyebab Covid-19.
Tentu kondisi hidup yang akan berbeda dari sebelumnya.

Tempat ibadah, kantor, pusat perbelanjaan dan moda transportasi akan beroperasi dengan  tetap menjaga jarak (physical distance).

Selain protokol kesehatan yang dilakukan mulai dari menjaga kebersihan, selalu mencuci tangan dengan hand sanitizer, memakai masker, physical dan social distance, juga harus selalu menjaga kesehatan untuk menjaga imun.

Sejumlah negara seperti Korea Selatan, sudah memberlakukan new normal selepas kurva infeksi menurun, nyatanya tak bisa bertahan lama. Bahkan terjadi lonjakan infeksi terbesar. Sehingga diterapkan kembali pembatasan sosial hingga 14 Juni.

Begitupun new normal atau herd immunity ala Swedia mengalami kegagalan, tercatat kematian di Swedia adalah yang tertinggi di Eropa Utara. Akhirnya kedua negara tersebut kembali ke tahap pembatasan skala.

Kini, giliran  Indonesia satu per satu wilayahnya akan menuju tahap new normal life. Di tengah polemik terhadap kebijakan pemerintah ini,  akankah tahap ini mampu menekan laju penyebaran virus Covid-19 atau justru sebaliknya mengalami kegagalan seperti Korsel dan Swedia?

Kehidupan new normal  merupakan bagian dari exit strategy setiap negara. Sejumlah pakar menilai, hal ini membuktikan gagalnya global kapitalisme dalam menghadapi pandemi virus Corona. Epidemiologi dari Griffith University Australia, Dicky Budiman mengatakan new normal life adalah bagian dari strategi yang diterapkan sebelum vaksin atau obat untuk virus Corona ditemukan. (kompas.com 26/05/20)

Skenario ini telah dicanangkan jauh sebelumnya, oleh united nation, dalam artikel tertanggal 27 April 2020, bertajuk “A New Normal Life” . Dinyatakan, UN lays out roadmap to lift economies and save jobs after Covid-19 (New Normal: Peta jalan yang diletakkan PBB bagi peningkatan ekonomi dan penyelamatan lapangan pekerjaan setelah Covid-19).

Jadi jelaslah bahwa pemerintah atas arahan PBB menerapkan tahap ini , hanya ingin meraih keuntungan  dengan meningkatkan laju ekonomi, kepentingan korporasi dan kapital,  nyawa rakyat menjadi tak berarti. 

Berbeda dalam Islam, keselamatan jiwa rakyat sangatlah terjaga. Sungguh Islam kafah, tak hanya sekadar sebuah keyakinan tanpa ada implementasi dalam kehidupan. 

Islam telah memberikan solusi penanggulangan pandemi agar tidak semakin parah, melakukan lockdown di seluruh wilayah pandemi,  tujuannya agar yang sakit tidak bercampur dengan yang sehat. Walau aktivitas di berbagai sektor akan mengalami krisis yang parah, demi menyelamatkan jiwa-jiwa rakyat, Daulah Islam akan tetap berkorban besar dengan mengeluarkan dana skala prioritas untuk memenuhi kebutuhan primer warganya, melakukan kuratif rakyat yang sakit dan recovery yang jelas dan tuntas sepenuh hati. Khalifah rela hidup sulit demi menyelamatkan rakyat, ia tidak akan menambah berbagai kebijakan yang menyengsarakan rakyat. Khubaro (para ahli) kesehatan diberi ruang penting dalam memberikan gagasan terbaik. Khalifah pun punya power menjalankan amanah karena perintah Allah bukan perintah imperialis asing. 

Mengalami kerugian besar bagi sektor Ekonomi, hal yang pasti dihadapi saat pandemi. Namun, menyelamatkan  jiwa rakyat adalah yang paling utama. Justru dengan abainya ikhtiar kuratif dan lebih mementingkan kaum kapital di masa yang belum aman dari virus  ini,  akan semakin banyak berjatuhan korban dan tentunya akan membutuhkan dana yang lebih besar dalam penanggulangannya. 

‌Mari sejenak kita evaluasi diri,  sebelum masa pandemi ini terjadi, apakah bangsa +62 ini berada dalam kondisi normal? Tidak, kita harus menyadari bahwa kehidupan bangsa +62 dalam sistem saat ini, sudah jauh dari ketidaknormalan. Mengapa? Karena umat manusia khususnya  Islam hidup bukan dengan sistem kehidupan yang sesungguhnya. Banyak perbuatan manusia yang melampaui batas, jauh dari fitrah hingga tampak kerusakan di daratan dan di lautan. 

Kehidupan yang membawa keselamatan jiwa rakyat,  masyarakat  dan sebuah bangsa tak hanya sebatas menjalankan protokol kesehatan, tapi menjalankan protokol aturan Allah Swt. Seluruh aspek kehidupan dikembalikan kepada syariat Allah. Politik, ekonomi, budaya, sosial pergaulan, pertahanan keamanan, harus dikembalikan kepada aturan-Nya. 

Sangat berbahaya, jika virus sekuler kapitalis yang telah lama menjangkit di tubuh negeri Islam dibiarkan. Virus itu telah berhasil melemahkan imun tatanan dunia Islam, segala sesuatunya berorientasi kepada materi, tak terkecuali bangsa +62 yang mengekor ideologi kapitalis tersebut, segala kebijakan ambyar melupakan hukum Allah Swt. yang agung.

Virus tersebut tak hanya melemahkan, tapi perlahan membunuh amanah penguasa sebagai pelayan dan penanggung jawab urusan rakyat, juga  mematikan peran ulama sebagai pewaris nabi menuntun penguasa dan umat agar tak tergelincir dalam dosa, me-nonaktifkan peran penting  khubaro (para ahli) dalam berkontribusi memberikan gagasan yang brilian yang didasarkan pada keselamatan rakyat, meracuni potensi generasi muslim hingga berperilaku aneh bukan selayaknya, menginjak-ijak izzah Islam di hadapan dunia, menghilangkan peran teknologi untuk kemaslahatan dan keselamatan peradaban, menghilangkan hati nurani manusia demi kekuasaan. Bahkan Virus sekuler kapitalis itu telah nyata memutilasi tubuh kaum muslimin menjadi negeri-negeri kecil yang lemah tak berdaya, bagaikan anak kehilangan induknya hingga mudah terus dicekoki dengan kebijakan kapitalis yang rusak, hingga tak memahami identitas dirinya. 

Menyelamatkan nyawa, darah, kehormatan, kesucian, harta dan nasab (keturunan) hanya bisa terealisasi tatkala umat manusia membasmi virus sekuler kapitalisme yang sangat berbahaya bagi umat  manusia dan nyata telah membuyarkan ikhtiar pemimpin muslim dalam menanggulangi pandemi, sebagaimana yang diajarkan Rasulullah saw. dan pernah dilakukan Amirul Mukminin Umar Bin Khattab sebagai bagian dari solusi Islam.

Sebaik-baik pilihan untuk menata new normal life, tiada lain mengikuti  protokol Allah Swt. "Let's Back to Islam Kafah". Yang sudah pasti sesuai dengan fitrah dan potensi bangsa. Namun sebaliknya, meninggalkan  sistem Islam, maka kehidupan akan tetap jauh dari normal dan berdampak buruk bagi umat manusia.

Wallahu a'lam bishshawab.
 
Top