Oleh : Tawati

Satuan Narkoba Polres Majalengka berhasil mengungkap lima kasus penyalahgunaan narkoba dalam satu bulan terakhir ini. Dari jumlah pengungkapan sebanyak 5 kasus yang terjadi merupakan peredaran narkotika jenis sabu dan kasus tindak pidana bidang kesehatan dengan tersangka yang diamankan sebanyak 8 orang tersangka.

Kapolres Majalengka DR Bismo Teguh Prakoso menjelaskan, jumlah barang bukti yang diamankan narkoba berupa sabu sekitar 14 paket terbungkus plastik bening seberat 5,59 gram dan ribuan obat obatan terlarang jenis Dextromethorpan, Tramadol dan Trihexyphenidyl sebanyak 3.596 butir.

Kami tetap komitmen terus memburu para pengedar obat-obat terlarang maupun Narkotika lainnya di wilayah Majalengka, apalagi saat ini obat-obatan sudah banyak yang diedarkan kepada anak di bawah umur sehingga dibutuhkan peran serta orang tua dan penanganan yang optimal seperti rehabilitasi. (Radar Majalengka, 13/6/2020)

Narkoba adalah segala materi (zat) yang menyebabkan hilangnya kesadaran pada manusia atau hewan dengan derajat berbeda-beda, seperti hasyisy (ganja), opium, dan lain-lain. (maaddatun tusabbibu fil insan aw al hayawan fuqdan al wayi bidarajaatin mutafawitah). (Ibrahim Anis dkk, Al Mujam Al Wasith, hlm. 220).

Syaikh Saaduddin Musid Hilali mendefisinikan narkoba sebagai segala materi (zat) yang menyebabkan hilangnya atau lemahnya kesadaran/penginderaan. (Saaduddin Musid Hilali, At Ta`shil As Syari li Al Kahmr wa Al Mukhaddirat, hlm. 142). Tak ada perbedaan di kalangan ulama mengenai haramnya narkoba dalam berbagai jenisnya, baik itu ganja, opium, morfin, mariyuana, kokain, ecstasy, dan sebagainya.

Sebagian ulama mengharamkan narkoba karena diqiyaskan dengan haramnya khamr, karena ada kesamaan illat (alasan hukum) yaitu sama-sama memabukkan (muskir). Sebagian menyatakan haramnya narkoba bukan karena diqiyaskan dengan khamr, melainkan karena dua alasan; Pertama, ada nash yang mengharamkan narkoba, Kedua, karena menimbulkan bahaya (dharar) bagi manusia. (Syaikh Wahbah Zuhaili, Al Fiqh Al Islami wa Adillatuhu, juz IV, hlm. 177)

Dari Ummu Salamah r.a, ia berkata: “Rasulullah SAW melarang dari segala yang memabukkan dan mufattir (yang membuat lemah)” (HR. Abu Daud no. 3686 dan Ahmad 6: 309). Yang dimaksud mufattir, adalah zat yang menimbulkan rasa tenang/rileks (istirkha') dan malas (tatsaqul) pada tubuh manusia. (Rawwas Qal’ahjie, Mu’jam Lughah Al Fuqoha`, hlm. 342). Dari Ibnu ‘Abbas r.a, Rasulullah saw. bersabda: “Tidak boleh berbuat madlarat dan hal yang menimbulkan madlarat.” (HR. Ibnu Majah no. 2340, Ad Daruquthni 3: 77, Al Baihaqi 6: 69, Al Hakim 2: 66).

Di samping nash, haramnya narkoba juga dapat didasarkan pada kaidah fiqih tentang bahaya (dharar) yang berbunyi: Al ashlu fi al madhaar at tahrim (hukum asal benda yang berbahaya [mudharat] adalah haram). (Taqiyuddin An Nabhani, Al Syakhshiyah Al Islamiyah, 3/457; Muhammad Shidqi bin Ahmad Al Burnu, Mausuah Al Qawaid Al Fiqhiyah, 1/24).

Kaidah ini berarti bahwa segala sesuatu materi (benda) yang berbahaya, hukumnya haram, sebab syariah Islam telah mengharamkan terjadinya bahaya. Dengan demikian, narkoba diharamkan berdasarkan kaidah fiqih ini karena terbukti menimbulkan bahaya bagi penggunanya. Sanksi (uqubat) bagi mereka yang menggunakan narkoba adalah tazir, yaitu sanksi yang jenis dan kadarnya ditentukan oleh Qadhi, misalnya dipenjara, dicambuk, dan sebagainya.

Sanksi tazir dapat berbeda-beda sesuai tingkat kesalahannya. Pengguna narkoba yang baru beda hukumannya dengan pengguna narkoba yang sudah lama. Beda pula dengan pengedar narkoba, dan beda pula dengan pemilik pabrik narkoba. Tazir dapat sampai pada tingkatan hukuman mati. (Saud Al Utaibi, Al Mausuah Al Jina`iyah Al Islamiyah, 1/708-709; Abdurrahman Maliki, Nizhamul Uqubat, 1990, hlm. 81 & 98).

Dalil keharaman narkoba sudah sangat jelas. Maraknya narkoba hingga diedarkan kepada anak di bawah umur adalah buah penerapan sistem sekularisme di negeri ini, akidah yang memisahkan aturan agama dalam kehidupan. Standar perbuatan dilihat dari aspek manfaat dan materi semata. Bukan berdasarkan halal dan haram. Jika itu menguntungkan bahkan bisa menghasilkan materi maka akan diambil, sekalipun bertentangan dengan syariah.

Sudah saatnya kita mencabut akar masalah dari segala sumber masalah yang menjangkiti umat hari ini. Buang sekularisme, terapkan Islam kafah dalam mengatur kehidupan ini. Agar hidup berkah, selamat dunia dan akhirat. Wallahu a’lam.

Penulis adalah Muslimah Revowriter Majalengka dan Member Writing Class With Hass
 
Top