Oleh : Ati Solihati, S.TP
(Aktivis Muslimah) 

Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, Ramadan tahun ini terasa lebih “istimewa”. Bagaimana tidak. Kita melalui bulan mulia ini dengan berlomba meraih sebesar-besarnya pahala dan keberkahan, berselimutkan rasa cemas dan khawatir di tengah pandemi Covid-19. Demikian juga Hari Raya Idul Fitri tahun ini, terasa lebih “istimewa”.  Kita merayakan hari kemenangan  berselimutkan rasa yang sama.  Semoga Allah pun menilai persembahan segenap amalan kita selama bulan Ramadan tahun ini, sebagai persembahan yang lebih istimewa. Sekalipun banyak sekali kekurangan di sana-sini, tapi kesabaran dan keteguhan kita tetap berupaya meraih kemuliaan bulan suci tersebut, di tengah cekaman pandemi, mengetuk belas kasihan Sang Maha Pengasih, untuk menghadiahi kita dengan balasan dan pahala yang lebih istimewa.  Aamiin, Allaahumma aamiin.

Puasa Ramadan, Allah syariatkan kepada kita, dengan harapan agar kita mendapat pelatihan selama satu bulan penuh, untuk mengendalikan hawa nafsu kita. Bukan semata mengendalikan hawa nafsu makan dan minum atau hubungan suami istri saja, tetapi juga mengendalikan hawa nafsu amarah dan ketamakan terhadap dunia. Dan yang lebih tinggi lagi, untuk merendahkan hawa nafsu kita sehingga hanya mau tunduk dan patuh semata kepada apa yang ditetapkan Allah Swt. dan Rasulullah saw. Allah berfirman :
“Wahai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan atas kalian berpuasa (Ramadan) sebagaimana telah diwajibkan kepada orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertakwa.” (QS. al-Baqarah : 183)

Allah menjadikan tujuan diwajibkannya kita berpuasa Ramadan adalah agar selama Ramadan kita memaksimalkan amalan ibadah kita, meraih sebesar-besarnya pahala dan kemuliaan, sehingga kita menjadi hamba-Nya yang bertakwa. Takwa yang telah diraih dari pelatihan di bulan Ramadan itu diharapkan tetap terpancar pasca Ramadan, selama sebelas bulan berikutnya, sepanjang tahun tersebut. Sampai kemudian bertemu kembali dengan Ramadan berikutnya, untuk mendapatkan pelatihan kembali. Untuk me”refresh” bahkan meng”upgrade” level keimanan kita.

Betapa istimewanya kedudukan orang yang bertakwa di sisi Allah.  Allah  memberikan tiga jaminan bagi orang yang bertakwa, yaitu : 1. Jalan keluar dari segala kesulitan, 2. Rezeki dari arah yang tak terduga, 3. Kemudahan dalam segala urusan.  Sebagaimana Firman Allah Swt. :
“..Barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar, dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.  Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan( yang dikehendaki)-Nya.  Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (QS. ath-Thalaq : 2-3)

Demikianlah pasca Ramadan ini, adalah menjadi momen pembuktian apakah target pelatihan sebulan penuh selama Ramadan tercapai ataukah tidak. Apakah selepas Ramadan kita tetap dapat mempertahankan frekuensi tinggi dalam melaksanakan beragam amal ibadah dan amal saleh ataukah tidak. Apakah selepas Ramadan hawa nafsu kita tetap dapat terkendalikan dengan baik, sehingga hawa nafsu kita hanya tunduk kepada apa yang diridai Allah dan Rasul-Nya, ataukah kembali menjadi liar dan malah diperbudak hawa nafsu. Apakah selepas Ramadan ini kita tetap hanya semata tamak mengejar kehidupan akhirat, ataukah justru kembali tamak dengan kenikmatan dunia yang semu. Apakah selepas Ramadan ini kita siap mencampakkan hukum manusia dan semata meninggikan dan memuliakan hukum Allah. Inti dari semua ini, apakah pasca Ramadan, kita telah menjadi hamba Allah yang bertakwa?

Semoga pasca Ramadan ini, kita telah menjadi pribadi-pribadi yang bertakwa. Mental takwa sangat dibutuhkan oleh setiap muslim dalam mengarungi kerasnya kehidupan ini, agar tetap bisa berjalan lurus dengan semata mengharapkan rida-Nya.  Terlebih lagi dalam masa pandemi saat ini. Dengan takwa, kita mendapatkan jaminan Allah, untuk dapat keluar dari beragam kesulitan kehidupan. 

Pandemi yang terjadi semakin menambah sulit kehidupan yang sebelumnya juga penuh dengan kesulitan. Insyaallah dengan mental takwa yang telah terhunjam di dalam jiwa, akan menghadirkan jaminan kemudahan dari Allah di dalam menghadapi segala kesulitan hidup.  Bisa jadi Allah memang menghilangkan kesulitan kita.  Namun, bisa jadi juga jaminan tersebut dalam bentuk “mind set” kita dalam memandang kesulitan tersebut menjadi berubah. Mungkin kesulitan tetap ada. Tapi mental kita merasa ringan menghadapinya.  Tidak memandang kesulitan tersebut sebagai beban, tetapi sebagai sebuah tantangan dan ladang meraih pahala yang lebih besar di sisi Allah.

Takwa akan menghadirkan jaminan terbukanya pintu-pintu rezeki, bahkan dari arah yang tidak disangka-sangka. Pandemi telah mempersempit ruang gerak kita.  Secara otomatis mengurangi peluang kita juga untuk mencari penghasilan.  Secara  kalkulasi hitungan manusia hal itu akan mengurangi pendapatan kita. Tapi pendapatan tidaklah identik dengan rezeki. Bisa jadi peluang berpenghasilan berkurang.  Bisa jadi pendapatan pun berkurang.  Tapi rezeki adalah hak Allah. Allah berhak melapangkan rezeki bagi siapa saja yang dikehendakinya.  Allah pun berhak menyempitkan rezeki bagi siapa pun yang dikehendakinya. Lapang dan sempitnya rezeki tidak akan terhalang oleh pandemi. Dan Allah menjadikan takwa dalam dada sebagai pintu terbukanya pintu-pintu rezeki kita.

Takwa pun akan menjadi kunci bagi kita meraih kemudahan dalam menghadapi ragam kesulitan kehidupan. Pandemi serta dampaknya telah menghimpit setiap sendi kehidupan kita. Ketakwaan yang kita miliki menumbuhkan keyakinan bahwa semua yang terjadi di muka bumi, termasuk pandemi, terjadi semata atas izin Allah.  Sehingga tawakal secara sempurna hanya kepada Allah, disertai memaksimalkan ikhtiar sebagai ladang amalan. Meyakini sepenuhnya jika kita bertakwa, maka Allah akan menolong kita dan melepaskan kita dari segala kesulitan yang ada.

Pasca Ramadan, hendaknya menjadi momen kita mengimplementasikan takwa, yang merupakan buah yang kita tunai dari hasil penggemblengan selama satu bulan penuh Ramadan.  

Harapan besar semoga kita masih diberi kesempatan bertemu kembali dengan Ramadan tahun depan.  Aamiin.

Wallahu a'lam bishshawab.
 
Top