Oleh : Neneng Sriwidianti
Pengasuh Majelis Taklim dan Member AMK


Aneh tapi nyata. Itulah fakta yang terjadi dengan para pejuang wabah Covid-19. Banyak di antara mereka yang belum menerima insentif Covid-19 seperti yang dijanjikan oleh pemerintah. Banyak pegawai medis yang diberhentikan di tengah wabah. Menyedihkan dan miris, mereka yang berada di garda terdepan penanggulangan wabah, tetapi  nasibnya tidak sesuai dengan pengorbanannya,  padahal mereka mempertaruhkan nyawa dalam menangani kasus Corona. Begitulah wajah bengis demokrasi, tidak menghargai jasa paramedis, padahal mereka ada di garda terdepan penanggulangan wabah.

Dilansir oleh tempo.co,  seperti yang dikatakan oleh perawat di Rumah Sakit Penyakit Infeksi (RSPI) Sulianti Saroso, Anitha Supriono, hingga kini belum menerima insentif sebesar Rp 7,5 juta yang dijanjikan pemerintah. Anita merupakan salah satu perawat yang bertugas di ruang Intensive Care Unit (ICU) menangani pasien-pasien positif Covid-19.

"Insentif yang dibilang maksimal tujuh setengah juta itu memang sampai sekarang belum (diterima)." kata Anitha kepada Tempo, (24/5/2020) 

Dilansir oleh, merdeka.com, lain lagi yang dialami oleh salah satu tenaga medis di Wisma Atlet Kemayoran yang mengatakan, pencairan insentif  terkendala akibat masa libur lebaran. Akibatnya masih ada sejumlah tenaga medis yang hingga hari ini belum juga menerima insentif tersebut.

"Terakhir karena Bank Indonesia sudah tutup karena lebaran. Dijanjikan tanggal 15 sih" kata dia kepada merdeka.com yang tak ingin disebutkan namanya. (25/5/2020)

Masih banyak kasus serupa yang menimpa para tenaga medis. Padahal mereka sudah mempertaruhkan nyawanya, meninggalkan keluarganya, tetapi mereka tidak mendapatkan perlakuan yang manusiawi dari pemerintah. Atau banyak korban dari tenaga medis yang gugur saat menangani wabah.

Begitulah, watak sistem kapitalis demokrasi sebagai monster perusak, tidak manusiawi. Jangankan memberikan perlindungan dengan kebijakan terintegrasi agar Covid-19 tidak terus melonjak, bahkan proteksi finansial juga tidak mereka dapatkan sebagaimana mestinya.

Selain ada yang belum mendapatkan tunjangan, THR perawat honorer dipotong bahkan ada yang  dirumahkan karena RS daerah kesulitan dana. Padahal gugurnya tenaga medis atau pemecatan sama dengan berkurangnya prajurit di garda depan medan tempur.

Terlihat jelas, negara tidak mempunyai️ persiapan yang matang menghadapi masalah tersebut. Sebetulnya, tidak ada alasan bagi negara, tidak memberikan tunjangan kepada paramedis karena bank tutup. Seharusnya jauh-jauh hari sudah ada perencanaan matang terkait hal itu, agar insentif tersebut bisa dinikmati oleh paramedis dan keluarga di hari raya ini.

Ditinjau dari sisi manapun, terbukti sistem demokrasi-kapitalis telah gagal memosisikan dirinya sebagai pengatur, pelindung rakyat termasuk para pejuang wabah. Seharusnya umat Islam sadar, bahwa sistem kapitalisme telah menimbulkan kerusakan di seluruh lini kehidupan. Sistem ini harus secepatnya dicampakkan.

Islam datang membawa seperangkat aturan yang sempurna dan komprehensif bagi manusia, lintas zaman, lintas benua, dan lintas generasi spesies manusia.

"Dan (ingatlah) pada hari (ketika) Kami bangkitkan pada setiap umat seorang saksi atas mereka dari mereka sendiri, dan Kami datangkan engkau (Muhammad) menjadi saksi atas mereka. Dan kami turunkan Kitab (Al-Qur'an) kepadamu untuk menjelaskan segala sesuatu, sebagai petunjuk, serta rahmat dan kabar gembira bagi orang yang berserah diri (muslim)." (QS. An-Nahl [16] : 89)

Dalam urusan sistem kesehatan pun, Islam juga memiliki paketnya, bahkan paket komplet termasuk bagaimana memberikan perhatian penuh kepada paramedis.

"Bahwasanya Rasulullah saw. pernah mengirim seorang tabib (dokter) kepada Ubay bin Ka'ab. Kemudian dokter tersebut memotong uratnya dan melakukan al-kay (pengecoran besi panas)." (HR. Muslim)

Rasulullah saw. pada saat mendapatkan hadiah berupa seorang tabib (dokter) dari Muqauqis, Raja dari Mesir, kemudian beliau menjadikan tabib tersebut melayani kesehatan penduduk Madinah tanpa ditarik biaya (Abdurrahman Al Maliki dalam Politik Ekonomi Islam, 2001).

Dan masih banyak bukti-bukti lain yang menunjukkan, betapa luar biasanya perhatian Islam terhadap kesehatan di masa itu. Apalagi perhatian terhadap dokter dan tenaga kesehatan lainnya. Dengan perhatian yang luar biasa pada pasien, maka Islam dapat dipastikan memberikan fasilitas terbaik untuk tenaga medisnya.

Tenaga medis diberikan tunjangan dan akses pendidikan mudah dan gratis serta sarana prasarana. Agar pola pikir yang muncul dalam diri tenaga medis adalah pola pikir melayani tak semata-mata hitung-hitungan materi.

Islam memberikan perlindungan kepada para tenaga medis yang menjadi pertahanan terakhir wabah dengan diberlakukannya karantina wilayah. Ini semata-mata dilakukan untuk mencegah semakin merebaknya wabah. Maka wabah tak akan sempat menjadi pandemi. Dengan terpusatnya wabah di satu wilayah saja, memudahkan para tenaga medis untuk fokus dan segera memberikan penanganan.

Selain itu, Islam menjamin sarana dan prasarana kesehatan yang terbaik dan berkualitas tinggi. Pola pikir menjaga nyawa telah menjadikan penguasa di era keemasan untuk menjaga aset tenaga medisnya. Sehingga dapat dipastikan berkualitas tinggi. Dijamin pula sarana perlindungan diri seperti APD, akan dipenuhi. Sehingga tak akan banyak tenaga medis yang dikorbankan.

Inilah buah dari diterapkannya sistem Islam kafah oleh negara. Islam yang diturunkan oleh zat yang Maha Tinggi, Allah Swt. yang telah membawa manusia kepada sebuah peradaban yang agung, selama 13 abad. Saatnya kaum muslimin berjuang untuk menegakkan kembali khilafah Islamiyah, sehingga barakah akan senantiasa menaungi alam semesta.
Wallahu a'lam bishshawab.
 
Top