Oleh : Pri Afifah
Anggota Komunitas Generasi Peradaban Islam dan Member Akademi Menulis Kreatif

Bulan Ramadan telah meninggalkan kita, bulan kemenangan menyambut umat Islam untuk terus meningkatkan ketakwaannya kepada Allah Swt.. Sebagaimana arti dari bulan Ramadan adalah Bulan Takwa. Serta tujuan dari bulan Ramadan adalah untuk meningkatkan takwa.

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.” (QS. al-Baqarah [2]; 183)

Disampaikan juga oleh Presiden RI Bapak Ir. Joko Widodo saat memberi sambutan dalam acara ‘Takbir Virtual Nasional dan Pesan Idul Fitri di masjid Istiqlal yang disampaikan melalui video yang diambil dari kediaman Presiden di Istana Bogor. “Jika Allah benar-benar menghendaki dan jika kita bisa menerimanya dengan ikhlas dan dalam takwa dan tawakal, sesungguhnya hal tersebut membuat berkah, membuat hikmah, membuat rizki dan juga hidayah,” kata Presiden Jokowi. (Tempo.co, 23/5/2020)

Sebagaimana disampaikan oleh Bapak Joko Widodo, sudah selayaknya ketakwaan serta tawakalnya orang beriman akan membawa berkah bagi negeri ini. Namun, keberkahan tidak hanya diucapkan dalam lisan semata. Harus diamalkan oleh seluruh orang beriman dengan menaati seluruh aturan Allah Swt. dan meninggalkan larangan Allah Swt. agar membuka keberkahan dari langit dan bumi seperti dijanjikan oleh Allah Swt. dalam Al-Qur'an.

“Jikalau sekiranya penduduk negeri ini beriman dan bertakwa, pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka atas perbuatannya.” (QS. al-A’raf [7]: 96)

Dengan demikian, takwa haruslah total. Harus terwujud dalam segala aspek kehidupan. Takwa harus ada dalam tataran berbangsa dan bernegara bukan hanya individual semata. sehingga dengan demikian terwujud prinsip Islam rahmatan lil alamin.
Sayangnya, pada sebagian kaum muslimin, takwa hanyalah hiasan lisan semata. Sehingga, bagi sebagian orang yang diberi amanah dalam mengurusi urusan rakyat menjadi abai. Misalnya, di saat masyarakat tengah fokus menghadapi pandemik Covid-19 seperti sekarang ini. Pemerintah justru mengesahkan RUU yang sangat kontroversial. Yakni, Perppu Covid-19 dan RUU Minerba. Dalam Perpres Nomor 64 Tahun 2020 pemerintah juga menaikkan iuran BPJS.

Berkenaan dengan hal itu, Hizbut Tahrir Indonesia melalui juru bicaranya, ustadz Muhammad Ismail Yusanto memberikan pernyataan yang sangat tegas.

Pertama, mengecam keras pengesahan dua RUU tersebut sebagai tindakan yang tidak rasional, zalim, dan jauh dari prinsip-prinsip keadilan. Bila selama ini DPR dikatakan sebagai wakil rakyat maka pengesahan itu telah membuktikan sebaliknya.

Kedua, pengesahan Perppu Covid-19 ini lebih tragis lagi. DPR jelas telah mengebiri sendiri kewenangan yang telah dimilikinya. Dalam hal ini hak budgeting dan malah memberikannya kepada eksekutif.

Kebijakan yang diambil pemerintah justru memberikan peluang kepada pihak-pihak tertentu untuk menggunakan uang rakyat dengan dalih penanganan Covid-19 dengan leluasa tanpa ada pemeriksaan dari lembaga keuangan negara.

Ketiga, pembatalan Perpres 75 Tahun 2019 tentang kenaikan iuran BPJS oleh Mahkamah Agung pada 2020 lalu melalui putusan MA no 7 P/HUM/2020, menyebut tiga pertimbangan utama, bahwa Perppu tersebut bertentangan dengan ketentuan yang lebih tinggi, yakni UU Nomor 40 Tahun 2004 tentang Jaminan Sosial Nasional dan UU Nomor 24 Tahun 2011 tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial; dinilai tidak tepat di tengah situasi kemampuan masyarakat yang belum meningkat, serta layanan BPJS yang belum optimal.

Keempat, semua fakta di atas adalah mitos. Yang berjalan adalah kedaulatan di tangan pemilik modal dimana dengan kekuatan modal, mereka dengan cara yang tampak prosedural, bisa mengubah undang-undang yang ada sesuai keinginan mereka.

Inilah kesalahan mendasar dalam sistem kapitalis, hukum bisa berubah sesuai kepentingan para penguasa dan pemilik modal. Berbeda dengan sistem Islam, yang siapa pun tidak bisa mengubah sistem yang telah ditetapkan oleh Allah Swt.. Maka dari itu, untuk menghilangkan kezaliman bagi masyarakat, kapitalisme harus dicampakkan. Diganti dengan sistem yang berasal dari Zat Yang Maha Pengatur, yakni sistem Islam. Sistem pemerintahannya adalah khilafah. Sebab, Allah Swt. telah menjanjikan kekuasaan kepada Rasulullah saw.. Kekuasaan yang meliputi seluruh bumi. Kekuasaan itu tentu saja khilafah.

“Sungguh, Allah telah memperlihatkan bumi kepadaku. Lalu aku pun melihat seluruh bagian timur dan baratnya. Sungguh kekuasaan umatku akan meliputi semua bagian bumi yang diperlihatkan kepadaku.” (HR. Muslim, at-Tirmidzi dan abu Dawud)

Ramadan demi Ramadan telah berlalu. Tugas besar umat Isam saat ini adalah mewujudkan ketakwaan yang hakiki. Memberikan kontribusi terbaik dalam menyadarkan umat Islam untuk kembali kepada aturan Allah Swt. membangun kembali kesadaran umat akan pentingnya menjalankan seluruh syariat yang akan membawa kemuliaan hakiki bagi dunia dan seisinya.

Wallaahu a'lam bishshawaab
 
Top