Oleh : Imas Isfu Muflihah 
Ibu Rumah Tangga

Segala pujian kita panjatkan kepada Allah Swt., yang telah memberikan berbagai kenikmatan di antaranya nikmat iman dan Islam, dan juga memberikan kita kekuatan untuk bisa merampungkan ibadah Ramadan yang istimewa di tengah masa pandemi Corona (Covid-19).

Ramadan kali ini kita diuji bukan hanya kesabaran menahan lapar dan haus, akan tetapi juga kesabaran dengan adanya wabah virus Corona. Hal ini mengharuskan kita mengikuti protokol kesehatan dan lebih banyak diam di rumah. Namun demikian, insyaallah tidak mengurangi kualitas ibadah kita dalam menjalankan ibadah di bulan Ramadan.

Semoga Idul Fitri kali ini membawa keberkahan buat kita semua. Sehingga kita terlahir menjadi manusia-manusia yang  bertakwa sesudah menjalankan ibadah puasa selama sebulan lamanya. Sebagaimana tujuan puasa ini termaktub dalam Al-Qur'an surat al-Baqarah ayat 183, yang artinya: "Hai orang-orang yang beriman diwajibkan atas  kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”.  Tentunya takwa yang diharapkan adalah hakikat takwa, yang sesuai  dengan firman Allah Al-Qur'an surat Ali Imran ayat 162.

Idul Fitri identik dengan hari kemenangan, yakni kita  menang mengendalikan hawa nafsu selama satu bulan penuh. Sementara kemenangan yang hakiki adalah saat ketakwaan benar-benar mewujud dalam diri kita sebagaimana dalam firman Allah dalam Al-Qur'an surat al-Baqarah ayat 183 di atas.

Kata takwa berasal dari kata waqa yang artinya melindungi, yakni melindungi diri kita dari azab dan murka Allah dengan cara menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Takwa ini sebagaimana dikatakan olehThalq bin Habib dalam tafsir Ibnu Katsir 1/2440. Dengan demikian takwa haruslah totalitas dalam segala aspek kehidupan. Takwa bukan pula hanya dalam tataran individu tapi harus pula dalam kehidupan bermasyarakat, bernegara, bahkan hubungan antar Negara juga.

Iman dan takwa adalah kunci keunggulan masyarakat jazirah Arab pada zaman Rasulullah. Pun ketika tandu kepemimpinan diteruskan oleh para khalifah. Kegemilangan Islam di bawah naungan khilafah menjadi negara adidaya yang unggul di berbagai bidang, sehingga dapat menguasai dua pertiga dunia. Namun, sejak keruntuhan khilafah Islam pada tahun 1924, kondisi umat Islam sangat menyedihkan. Bangsa kafir menjajah Islam secara ideologis dan sistemik, sehingga  Islam berhasil dipecah belah  menjadi lebih dari 50 negara. Sebagian rezimnya bahkan ada yang menjadi antek negara kapitalis dan lainnya menjadi antek komunis.

Kenyataan itu menjadi ujian ketakwaan kita kepada Allah. Untuk membuktikan ketakwaan kita, tentu tiada pilihan lain, selain berjuang bersama mengembalikan Islam sebagai solusi kehidupan. Perubahan akan terjadi ketika ada keinginan untuk berubah, sebagaimana termaktub dalam Al-Qur'an surat ar-Ra'd ayat 11. Demikian pula ketika kita ingin mendapat pertolongan Allah, tentu kita harus menolong agama-Nya, sebagaimana dalam firman Allah dalam Al-Qur'an surat Muhammad ayat 7.

Pandemi Corona menyingkap betapa rapuhnya kapitalis global. Bahkan, Henry Kissinger seorang senior politisi Amerika mengatakan pandemi corona akan mengubah tatanan dunia global selamanya. Dengan demikian, tatanan kehidupan saat ini harus diganti dengan sistem yang mewujudkan keadilan. Tiada lain adalah sistem yang diusung oleh Islam yakni sistem pemerintahan khilafah. Dengan system khilafah tentunya syariat Islam dapat diterapkan secara kafah, dan Islam sebagai rahmatan lil 'alamiin akan benar-benar terwujud kembali. Ini sesuai dengan janji Allah dalam Al-Quran Surat an-Nur ayat 25,yang artinya : “Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan beramal saleh di antara kalian, bahwa Dia sungguh-sungguh akan memberikan kekuasaan kepada mereka di muka bumi, sebagimana Dia pernah memberikan kekuasaan kepada orang-orang sebelum mereka”. 
Wallahu a'lam bishshawab.
 
Top