Oleh : Shafiya
Pemerhati Sosial

Pendidikan adalah pintu masa depan. Ingin mendapatkan pendidikan berkualitas, fasilitas yang memadai, biaya yang ramah bahkan gratis, saat ini sangat sulit untuk diwujudkan. Pasalnya untuk masuk ke sekolah atau perguruan tinggi bergengsi dengan fasilitas yang memadai dan unggul, orang tua harus mengumpulkan pundi-pundi rupiah yang tidak sedikit. Hal ini sungguh memprihatinkan bagi anak dan orang tua.

Dilansir oleh kompas.com, 3/06/2020, mahasiswa keluhkan biaya UKT selama pandemi, bahwa sejak pandemi virus corona mulai menginfeksi Indonesia pada awal Maret lalu, seluruh kegiatan pembelajaran di perguruan tinggi mulai beralih melalui daring atau online. Sejak itu pula, beragam keluhan mulai dirasakan oleh para mahasiswa, baik dari efektivitas maupun fasilitas pembelajaran yang kurang memadai. Secara bergiliran, nama sejumlah kampus pun memuncaki trending di media sosial twitter dalam beberapa minggu terakhir. Mereka menuntut agar uang kuliah tunggal (UKT) diturunkan dan mendapat fasilitas yang memadai saat kuliah daring, seperti subsidi pulsa bagi mahasiswa.

Keluhan serupa juga datang dari Aliansi Mahasiswa UIN Banten yang menuntut penggratisan UKT. Sebagaimana dilansir dari bantennews.co.id, 22/06/2020, bahwa tuntutan yang diajukan oleh Aliansi Mahasiswa ini kepada pihak kampus UIN Banten yakni sebagai berikut:
1. Menggratiskan UKT mahasiswa semester ganjil tahun ajaran 2020/2021 tanpa syarat.
2. Memberikan subsidi kuota internet selama perkuliahan online.
3. Transparansi anggaran pengeluaran kampus selama pandemi Covid-19.
4. Memberikan pelayanan akademik secara maksimal kepada mahasiswa.
5. Membuat regulasi tentang pemberian nilai mata kuliah minimal B kepada mahasiswa.
6. Membuka seluas-luasnya kebebasan berpendapat dan berkreasi mahasiswa di muka umum.
7. Memberikan kejelasan status Organisasi Kemahasiswaan UIN Banten selama pandemi.

Senada dengan hal di atas, pada hari Senin, 22/6/2020, sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam aliansi Gerakan Mahasiswa Jakarta Bersatu melakukan aksi unjuk rasa di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).
Mahasiswa tersebut meminta audiensi langsung dengan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim guna membahas aspirasi mereka terhadap dunia perguruan tinggi.

Sebagaimana diberitakan detik.com, massa membentuk kerumunan di depan gerbang Kemendikbud. Mereka membakar ban di trotoar. Salah satu tuntutan yang mereka sorot adalah soal pembiayaan kuliah di masa pandemi. Mereka meminta adanya subsidi biaya perkuliahan sebanyak 50 persen, (detiknews.com, 22/06/2020).

Merespons tuntutan mahasiswa, Mendikbud Nadiem Makarim mengeluarkan Permendikbud 25 Tahun 2020 terkait ketentuan penyesuaian uang kuliah tunggal (UKT). Nadiem mengatakan kebijakan ini dimaksudkan guna memberikan keringanan kepada mahasiswa di tengah pandemi virus corona.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) juga merealokasi dana Rp 1 triliun guna meringankan beban mahasiswa di masa pandemi corona. Nadiem mengatakan bantuan anggaran ini untuk 410 ribu mahasiswa, terutama di perguruan tinggi swasta (PTS), (kompas.com, 21/06/2020).

Pendidikan Ideal Berkualitas

Dinamika pendidikan yang mencemaskan hati dan perasaan para orang tua saat ini merupakan hasil dari penerapan sistem kapitalisme sekularisme. Membuat jurang pemisah agama dan aktivitas kehidupan termasuk di dalamnya dunia pendidikan. Hal ini berbeda dengan pendidikan ideal yang datang dari Sang Pencipta Allah Swt., yaitu sistem  pendidikan Islam. Tujuan pendidikan di dalam Islam adalah membentuk manusia yang: (1) Memiliki kepribadian Islam; (2) Handal menguasai pemikiran Islam; (3) Menguasai ilmu-ilmu terapan IPTEK (ilmu, pengetahuan, dan teknologi); dan (4) Memiliki keterampilan yang tepat guna dan berdaya guna.

Di dalam Islam, negara berkewajiban memenuhi kebutuhan setiap manusia dalam kehidupannya. Semua kebutuhan ini harus terpenuhi bagi setiap individu, baik laki-laki maupun perempuan. Termasuk di dalamnya kebutuhan pendidikan pada tingkat dasar, menengah, dan pendidikan tinggi.

Negara wajib menyediakannya untuk seluruh warga dengan cuma-cuma. Kesempatan pendidikan tinggi secara cuma-cuma dibuka seluas mungkin dengan fasilitas yang memadai dan unggul. Hal ini karena Islam menjadikan pendidikan sebagai salah satu kebutuhan primer bagi masyarakat.
Islam mewajibkan umatnya untuk menempuh pendidikan baik laki-laki maupun perempuan, yakni menuntut ilmu.

Allah Swt. berfirman dalam  Al-Qur’an Surat Al- Mujadalah: 11, yang artinya:

“Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu, “Berlapang-lapanglah dalam majelis”, maka lapangkanlah, niscaya Allah akan member kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan, “Berdirilah kamu”, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”.

Dalam Surat Az-Zumar: 9, Allah Swt. berfirman, yang artinya:

“(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah di waktu-waktu malam dengan bersujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharap rahmat Tuhan-nya? Katakanlah, “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran”.

Rasulullah saw. bersabda,

قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم:كُنْ عَالِمًا اَوْ مُتَعَلِّمًا اَوْ مُسْتَمِعًا اَوْ مُحِبًا وَلَا تَكُنْ خَامِسًا فَتُهْلِكَ (رَوَاهُ الْبَيْهَقِ )

Telah bersabda Rasulullah saw., “Jadilah engkau orang yang berilmu (pandai) atau orang yang belajar, atau orang yang mendengarkan ilmu atau yang mencintai ilmu. Dan janganlah engkau menjadi orang yang kelima maka kamu akan celaka.” (H.R Baihaqi)

Peradaban Islam menempatkan pendidikan sebagai suatu prioritas. Negara  bukan saja menurunkan biaya pendidikan, akan tetapi menyelenggarakan pendidikan secara gratis. Mulai dari tingkat dasar (ibtidaiyah) hingga pendidikan tinggi (universitas). Dalam kehidupan normal (bukan saja pandemi) negara menyediakan sekolah/kampus, asrama, buku, alat tulis, perpustakaan, laboratorium, fasilitas kesehatan, bahkan baju ganti untuk para pelajar dan mahasiswa secara gratis apalagi di masa pandemi.

Negara berkewajiban mendorong manusia untuk menuntut ilmu, melakukan tadabbur, dan ijtihad. Berbagai perkara yang bisa mengembangkan potensi akal manusia dan memuji eksistensi orang-orang berilmu.

Kebijakan negara secara sistemis akan mendesain sistem pendidikan dengan seluruh perangkat pendukungnya. Bukan hanya dari sisi anggaran, namun juga terkait media, riset, tenaga kerja, industri, sampai pada tataran politik luar negeri.

Negara wajib menyediakan fasilitas dan infrastruktur pendidikan yang cukup dan memadai. Seperti gedung-gedung sekolah, laboratorium, balai-balai penelitian, buku-buku pelajaran, dan lain sebagainya.

Negara juga berkewajiban menyediakan tenaga-tenaga pengajar yang ahli di bidangnya. Sekaligus memberikan gaji yang cukup bagi guru dan pegawai yang bekerja di kantor pendidikan.

Para Sahabat telah sepakat mengenai kewajiban memberikan ujrah (gaji) kepada tenaga-tenaga pengajar yang bekerja di instansi pendidikan negara khilafah di seluruh strata pendidikan.

Khalifah Umar bin Khaththab ra. pernah menggaji guru-guru yang mengajar anak-anak kecil di Madinah sebanyak 15 dinar setiap bulan.

Berdasarkan sirah Nabi saw. dan tarikh Daulah Khilafah Islam (Al-Baghdadi, 1996), negara Islam juga memberikan jaminan pendidikan secara gratis dan kesempatan seluas-luasnya bagi seluruh warga negara untuk melanjutkan pendidikan ke tahapan yang lebih tinggi dengan fasilitas (sarana dan prasarana) yang disediakan negara.

Misalnya, Madrasah al-Muntashiriah yang didirikan Khalifah al-Muntahsir Billah di kota Baghdad. Di sekolah ini setiap siswa menerima beasiswa berupa emas seharga satu dinar (4,25 gram emas). Kehidupan keseharian mereka dijamin sepenuhnya oleh negara. Fasilitas sekolah disediakan seperti perpustakaan beserta isinya, rumah sakit, dan permandian.

Begitu pula dengan Madrasah an-Nuriah di Damaskus yang didirikan pada abad 6 H oleh Khalifah Sultan Nuruddin Muhammad Zanky. Di sekolah ini terdapat fasilitas lain seperti asrama siswa, perumahan staf pengajar, tempat peristirahatan, para pelayan, serta ruangan besar untuk ceramah dan diskusi.

Seluruh pembiayaan pendidikan di dalam Islam diambil dari baitulmal, yakni dari pos fai’ dan kharaj serta pos milkiyyah ‘amah. Seluruh pemasukan negara khilafah, baik yang dimasukkan di dalam pos fai’ dan kharaj, serta pos milkiyyah ‘amah, boleh diambil untuk membiayai sektor pendidikan. Jika pembiayaan dari dua pos tersebut mencukupi maka negara tidak akan menarik pungutan apa pun dari rakyat.

Jika harta di baitul mal habis atau tidak cukup untuk menutupi pembiayaan pendidikan, maka negara meminta sumbangan sukarela dari kaum Muslim. Jika sumbangan kaum muslim juga tidak mencukupi, maka kewajiban pembiayaan untuk pos-pendidikan beralih kepada seluruh kaum muslim.

Dengan demikian, maka solusi yang harus ditempuh dalam mengatasi masalah pendidikan di tengah wabah, bukan saja menurunkan biaya, akan tetapi segera melepas sistem pendidikan yang berbasis kapitalisme sekularisme dan mengambil sistem pendidikan Islam.

Wallahu a’lam bishshawab.
 
Top