Oleh : Hj. Yeni

Makna Istiqomah menurut an- Nawawi adalah tetap dalam ketaatan, sehingga Istiqomah memiliki pengertian bahwa seseorang senantiasa berada didalam ketaatan di atas jalan lurus dalam menjalankan ibadah kepada Allah.

Selama Ramadhan umat diberi pelatihan (riyadhah). Mereka dipaksa untuk menahan hawa nafsu lapar, haus dan dorongan sexual sejak fajar hingga magrib, mereka didorong untuk melakukan tilawah Qur'an, qiyamullail dan banyak bersedekah dan banyak lagi amalan- amalan sunat lainnya yang dilaksanakan oleh umat demi mendapat pahala berlimpah. Pada penghujung sepuluh hari Ramadhan kaum muslimin juga berlomba-lomba menghidupkan masjid-masjid dengan beritikaf untuk mendapatkan keutamaan Lailatul Qadar.

Semangat dibulan Ramadhan itu jangan lah pudar  seharusnya terus berlanjut walau ramadhan telah berakhir sebab hikmah ibadah shaum selama sebulan penuh justru menguatkan dan menaikan derajat ke level taqwa (QS.al-Baqarah{2};183).

Sayang, pada sebagian Muslim, semangat taqwa itu begitu cepat pudar pada saat Ramadhan berlalu. Padahal amal yang paling di cintai oleh Allah adalah keteguhan dan ke Istiqomah. Suatu ketika Nabi Saw dimintai nasehat oleh seorang sahabat. Beliau bersabda: katakanlah, "Aku beriman kepada Allah." Kemudian beristiqomahlah!(HR.Muslim). Allah juga menyebutkan besarnya keutamaan orang yang istiqomah dalam ketaatan ( QS.Hud [11]:112). Juga derajat yang agung (QS.al-fushshilat[41]:30).

Agar menjadi hamba yang senantiasa Istiqomah dalam ketaatan, kaum muslimin perlu menghayati sejumlah hal:
Pertama : Mengingat kematian dan tempat kembali kepada Allah SWT. Setiap muslim meyakinkan diri bahwa kehidupan ini fana. kelak akan kembali kepada Allah SWT. Pada saat itu tak ada yang bisa menyelamatkan dirinya selain ketaqwaan banyak ayat yang menyebutkan penyesalan manusia di akherat karena melepaskan diri dari agama Allah SWT (QS.as-Sajdah[32]:12).
Baginda Rasulullah Saw mengngatkan bahwa kedudukan seseorang dihadapan Allah SWT justru ditentukan dipenghujung kehidupan bukan diawal : " sungguh amal-amal itu ditentukan saat penutupan (akhir)-nya (HR.al-Bukhari).

Kedua: Menjadikan Allah dan Rasulnya sebagai satu- satunya yang ditaati secara mutlak. Sikap Istiqomah bisa runtuh ketika manusia lebih memilih mentaati pihak selain Allah dan rasulnya. Padahal kelak pada hari akhir, orang orang seperti itu akan menyesal. Mereka bahkan akan melaknat para pejabat, pimpinan dan raja yang dulu
mereka taati di dunia (Q.S. Al ahzab [33): 66-68).

Ketiga: mentaati setiap perintah Allah SWT tanpa memisahkan satu hukum dengan hukum yang lain. Semestinya umat Islam tidak memilah milah hukum Islam seperti yang terjadi saat ini. Sebagian diambil sebagian ditinggalkan. Riba makin merajalela, LGBT dilindungi dan dijadikan teman, hukum kufur disanjung sanjung syariah Islam ditinggalkan bahkan diantara mereka ada yang mengatakan sebagian  syariah Islam mengancam tatanan kehidupan masyarakat. padahal Allah mengancam orang dengan siksa yang sangat  berat  kepada orang yang mengambil sebagian sebagian syariah Islam(QS.al-Baqarah [2]:85).

Keempat: Bersabar dalam ketaatan. Istiqomah dalam ketaatan membutuhkan kesabaran. Orang yang istiqomah akan dihadapkan pada ragam ujian sampai ia menghadap Allah SWT.(QS.al-Ankabut [29]:2).
Sabar yang diperlukan oleh seorang muslim  yang sedang meniti Istiqomah adalah sabar dalam menghadapi musibah, sabar dalam menjalankan ketaatan dan sabar dalam menghadapi musibah. Rasulullah bersabda " akan datang kepada manusia suatu zaman saat orang berpegang teguh pada agamanya seperi orang yang menggenggam bara api (HR.at-Tirmizi).

Kelima: Tetap beramal wali cuma sedikit. Nabi Saw bersabda "Amalan  yang paling dicintai Allah adalah amal yang paling berkelanjutan  walaupun hanya sedikit" (HR.Muslim).

Demikianlah, keistiqomahan adalah buah yang harus diraih pasca ramadhan. Ada sebelas bulan lagi yang harus dijalani hingga bertemu dengan ramadhan tahun depan. Jadilah hamba Allah yang senantiasa mentaati-Nya sepanjang hayat.
 
Top