Oleh: Ummu Layana


Libur akhir tahun ajaran 2019-2020 tinggal menghitung hari. Kegiatan belajar mengajar ditengah wabah virus Corona yang selama ini dilakukan adalah dengan belajar jarak jauh yaitu memanfaatkan teknologi komunikasi yang ada. Belajar seperti ini memang tidak semudah kalau belajarnya dengan bertatap muka. Namun demi menjaga diri dan dalam rangka memutus rantai penyebaran virus maka kegiatan belajar mengajar memeng harus dilakukan dengan jarak jauh.
Virus Corona ini sudah melumpuhkan aktivitas diberbagai sektor, termasuk dunia pendidikan. Acaman virus ini terhadap anak-anak sangatlah besar, sehingga harrus benar-benar menjaga diri agar tidak tertular dengan cara melaksanakan protokol kesehatan yang didalamnya termasuk menghindari kerumunan guna memutus mata rantai virus. Karena kesehatan yang merupakan hal yang sangat penting untuk diprioritaskan untuk saat ini.
Meskipun demikian, Kementerian pendididikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI telah menyatakan , Tahun Ajaran Baru 2020/2021 akan tetap dilaksanakan pada 13 Juli 2020 . Lantas apa jadinya jika sekolah yang notabene tempat berkumpul anak-anak pada tahun ajaran baru ini akan dibuka, padahal untuk saat ini alih-alih berkurang bahkan jumlah penderita  positif Covid-19  setiap harinya mengalami penambahan. Penambahan penderita positif Covid-19 pada anak juga terjadi di Surabaya.
Dilansir dari m.kumparan.com (/6/ 2020), fakta ini diungkapkan Koordinator Protokol Komunikasi, Gugus Tugas Percepatan Penanganan  COVID-19 Surabaya, M fikser.
“Kemarin (30/5) ada tambahan delapan kasus. Untuk anak usia 0-4 tahun ada 36 kasus, sementara anak usia 5-14 tahun ada 91 kasus. Jadi sekarang total 127 kasus anak yang terinfeksi COVID-19.” Ungkap Fikser ketika ditemui Basra ( Berita Anak Surabaya), Minggu (31/5)
Selain di Surabaya, di Jakarta juga tidak kalah banyaknya kasus positif Covid-19 yang menimpa anak-anak. Terdapat pada HaiBunda.com yaitu dilihat dari situs corona.jakarta.go.id, pada Minggu, 31/5/2020, hingga hari ini ada 91 balita (0-5 tahun) di Jakarta positif terinfeksi Covid-19. Data menunjukkan sebanyak 42 balita perempuan positif Covid-19 sedangkan balita laki-laki sejumlah 49 anak.
Seperti yang dilansir nasional.okenone.com, (27/5/ 2020), Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Retno Listyarti  meminta  Kementerian Pendidikan dan Kebudayan (Kemendikbud) dan Kementerian Agama  (Kemenag) terus mengkaji langkah pembukaan sekolah  pada 13 Juli 2020. Langkah pembukaan sekolah dikhawatirkan mengancam kesehatan anak karena penyebaran virus Covid-19  belum menurun. Bahkan kasus Covid-19 pada anak Indonesia cukup besar dibandingkan negara lain. Retno juga mengungkapkan, dari data Kementerian Kesehatan terdapat 831 anak terinveksi Covid-19 (data 23 Mei 2020). Usia anak tertular itu berkisar 0-14 tahun.
Dengan melihat data-data yang  ada dapat kita simpulkan bahwa anak-anak juga sangat rentan terhadap virus ini sehingga perlu perhatian yang lebih. Bagaimana kalau sekolah dibuka disaat seperti ini dimana penyebaran Covid -19 ini belum ada penurunan, apakah tidak menambah  resiko yang lebih besar? Apa iya anak-anak bisa melakukan aktivitas dengan tetap melaksanakan protokol kesehatan? Mengingat dunia anak adalah dunia bermain tentunya anak akan kesulitan untuk jaga jarak dengan yang lain.
Anak merupakan  aset bangsa yang sangat berharga sehingga anak-anak harus dilindungi dari berbagai mara bahaya,salah satunya adalah Covid-19. Merekalah penerus tongkat estafet kepemimpinan dan kemajuan bangsa ini. Pendidikan sangat penting bagi mereka namun kesehatan juga tak kalah penting. Menjadikan bangsa yang berprestasi unggul dengan tanpa membahayakan  kesehatannya adalah hal yang utama.
Jadi hendaknya pemerintah harus memastikan  0 positif Covid-19 sebelum membuka kegiatan belajar mengajar disekolah. Dan memastikan anak-anak aman dalam belajarnya.
Tentunya membutuhkan usaha yang sangat keras untuk mewujudkan semua itu. Diantaranya adalah dengan meminimalisir adanya mobilisasi manusia baik daerah maupun luar negeri. Kebijakan yang diambil harus benar-benar sesuai dengan tugas pemerintah sebagai pengatur dan pengayom rakyatnya. Sehingga harus mengutamakan kepentingan rakyat diatas kepentingan yang lain.
Namun ini tidak mungkin terjadi dalam sistem kapitalisme, penguasa akan segera mendongkrak pertumbuhan ekonomi dengan alasan apapun. Nyawa manusia tidak diperhitungkan dalam kapitalis, karena tolok ukur dalam menjalankan pemerintahan adalah asas manfaat. Jadi jika rakyat diperhitungkan tidak memberikan manfaat bagi negara, maka akan dibiarkan, sesulit apapun keadaannya. Memang sejak awal sudah jelas watak asli kepemimpinan ini dalam menangani wabah yang sedang melanda negeri, tidak serius sama sekali. Dimulai dari meremehkan datangnya wabah, kemudian bermunculan kebijakan yang mencla mencle yang membingungkan rakyat. Hingga keputusan new normal  dalam keadaan yang masih upnormal. Ini jelas tidak memberikan solusi tetapi masalah yang bertubi-tubi. Jangankan memastikan 0 positif covid-19, menunjukkan penurunan saja tidak.
Apa yang dilakukan oleh pemimpin saat ini tentu berbanding terbalik dengan apa yang dilakukan Rosulullah. Rasulullah memberikan teladan pada masanya saat terjadi wabah. Nabi Muhammad Saw bersabda:
"Jika kalian mendengar ada thaun (wabah) di suatu wilayah, janganlah kalian memasuki wilayah tersebut. Dan apabila kalian berada di wilayah yang terkena wabah, janganlah kalian keluar dan lari darinya. (HR Bukhari dan Muslim)
Para ulama memaknai hadis Nabi ini sebagai upaya untuk meminimalisir risiko penularan wabah. Dengan adanya amanat membatasi pergerakan masyarakat dari satu tempat ke wilayah lainnya, maka penanganan terhadap pasien maupun suspect epidemi pun cenderung bisa dikontrol dan ditangani secara baik.
Anjuran Rasulullah Saw terkait sikap menghadapi wabah juga seperti yang diriwayatkan Aisyah Ra;
"Wabah penyakit adalah sejenis siksa (azab) yang Allah kirim kepada siapa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Allah menjadikan hal itu sebagai rahmat bagi kaum Muslimin. Tidak ada seorangpun yang terserang wabah, lalu dia bertahan di tempat tinggalnya dengan sabar dan mengharapkan pahala, juga mengetahui bahwa dia tidak terkena musibah melainkan karena Allah telah mentakdirkannya kepadanya, maka dia mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mati syahid." (HR. Bukhari, An-Nasa'i, dan Ahmad)
Dalam Fathul Bari, Ibnu Hajar Al-Atsqalani menjelaskan, makna gamblang dan akurat (Manthuq) hadis ini adalah orang yang memiliki sifat tersebut (Berdiam diri di rumah saat terjadi wabah) akan mendapatkan pahala syahid walaupun yang bersangkutan tidak sampai meninggal dunia.
Islam tidak hanya mencegah tindakan yang membahayakan diri sendiri, Islam juga sudah barang tentu melarang umatnya untuk mencelakai orang lain. Hal ini sesuai dengan hadis Nabi Saw;
"Tidak boleh ada bahaya dan tidak boleh membahayakan orang lain." (HR. Ad-Daraquthni, Al-Baihaqi, dan Al-Hakim)
Imam As-Suyuthi dalam Al-Asybah wa An-Nazha'ir menjelaskan, berdasarkan hadis ini, lantas lahirlah prinsip pokok fikih Adh-dhararu yuzalu, bahaya haruslah dihilangkan, yang kemudian dikembangkan menjadi kaidah Dar’ul mafasid muqaddamun ala jalbil mashalih, menolak bahaya lebih utama ketimbang mengambil maslahat atau manfaat.
Berkaca dari penjelasan tersebut diatas kita seharusnya menyadari bahwa hanya Islam yang mampu menangani wabah dengan cepat dan cerdas. Memastikan wabah sudah tidak ada baru bisa diberlakukan aktifitas diluar rumah.Tidak membahayakan diri sendiri dan orang lain itu adalah hal yang sangat diprioritaskan dalam Islam. Rakyat tanpa kawatir keluar rumah, dalam berbagai urusan: sekolah,bekerja dan aktivitas lainnya tanpa ada rasa was-was karena wabah telah ditangani dengan tuntas. Islam adalah aturan Allah , jadi sudah barang tentu Sang Kholiqlah yang lebih tahu segala sesuatu mengenai makhluk ciptaan-Nya.
Wallahu a'lam bishshawab.

 
Top