Oleh : Titin Khadijah
Muslimah Peduli Umat

Sungguh ironi, pasar dimana tempat masyarakat kecil untuk melakukan transaksi jual beli, menjadi kluster baru Covid-19. Di New normal ini.

Dilansir oleh Okezone.com,
Menurut DPP IkAPPi, data kasus Covid-19  di pasar tradisional di seluruh Indonesia, sebanyak 529 orang yang meninggal 29 orang.

Dengan banyaknya pedagang yang terpapar Corona, dampaknya 12 juta orang pedagang di pasar tradisional kehilangan mata pencaharian, dikarenakan  masyarakat takut terpapar Covid-19, dengan berbelanja di pasar tradisional.

Dewan pakar ikatan ahli kesehatan masyarakat, Hermawan Saputra menyatakan bahwa penanganan pasar tradisional berbeda dengan tempat lainnya dalam mencegah penyebaran Covid-19.

Pasar mempunyai karakter yang berbeda dalam memastikan protokol kesehatan, pasalnya aktivitas di pasar tidak hanya aktivitas antara manusia tapi melibatkan barang dan uang.

Pendekatan penanganan, pasar tradisional beda dengan penanganan sekolah, perkantoran, dan juga kawasan industri. Karena pasar mempunyai karakter yang berbeda, ada penjual, ada pembeli, ada barang ada uang. (Okezone.com, 12/6/2020)

Terlambatnya pemerintah memberikan sosialisasi dan pengawasan, sehingga protokol kesehatan hanyalah formalitas belaka. Sebagian para pedagang, banyak yang tidak memakai masker, jaga jarak fisik, serta mekanisme ganjil-genap kurang diikuti, seperti yang sudah dilakukan di Kota Malang Raya. Terlambatnya tes Covid-19 di pasar tradisional, sehingga terjadi kluster baru di pasar tradisional, karena virus sudah menyebar kemana-mana.

Dan yang lebih memprihatinkan, adanya penolakan dari para pedagang tradisional yang terjadi di pasar tradisional daerah Bogor, dari pemeriksaan tim Covid-19. Adanya kekhawatiran dari mereka, kalau ada yang sampai terpapar positif Covid-19,mereka akan dikarantina  dua minggu, dan tidak bisa berjualan lagi, sedangkan mereka punya keluarga yg harus dinafkahi, dan mereka juga khawatir tidak mendapat kompensasi, atau bantuan tunai dari pemerintah. Ironis juga.

Islam Memberikan Solusi

Pemerintah harus memberikan tes dan tracing, ini sangat penting sekali, di tengah pandemi Covid-19. Keterlambatan dalam melakukan tes dan tracing, semakin banyak orang yg meninggal, begitu tes menunjukkan positif, dalam dua minggu harus mengisolasi diri.

Pusat wabah harus segera ditentukan dengan cepat dan diusahakan wabah tidak meluas. Menjamin semua kebutuhan dasar masyarakat di daerah yang diisolasi. Negara harus hadir secara nyata, di saat rakyat diisolasi, pastinya rakyat tidak bisa mencari nafkah. Negara tidak boleh berlepas tangan, negara harus  memenuhi kebutuhan pangan rakyat, agar tidak mati kelaparan.

Merawat, mengobati, dan melayani  orang-orang sakit di daerah wabah, walaupun dalam kasus Corona belum ada obatnya, tapi daya tahan
tubuh pasien harus diperkuat dengan makanan yang bergizi, untuk prosentase kematian bisa diminimalkan. Memperkuat, dan meningkatkan sistem kesehatan obat-obatan, sumber daya manusia, dan lainnya.

Para tenaga medis baik perawat, dokter dan tim medis lainnya  diberikan pendidikan, dan pelatihan setinggi-tingginya, standarisasi sumber daya manusia, seperti perawat dan medis, harus diupayakan. Negara harus mendorong untuk menemukan metode, obat untuk berbagai penyakit, terutama vaksin untuk penyakit yang sedang mewabah.

Peran serta rakyat terhadap negara pun harus ada. Menaati segala ketetapan negara dengan dasar ketakwaan kepada Allah. Sabar dan ikhtiar, tidak putus asa bagi yg ditimpa musibah. Masyarakat saling membantu satu sama lainnya. Rasulullah saw. bersabda, "Tidaklah beriman kepadaku orang yang tidur dalam keadaan kenyang, sedangkan tetangganya kelaparan sampai ke lambungnya. Padahal ia (orang-orang yang kenyang) mengetahui nya."

Itulah  Islam memberikan solusi nya. Semoga Covid-19 cepat berlalu dari muka bumi ini, diganti dengan kehidupan Islam yang hakiki.

Wallahu a'lam bishshawab.
 
Top