Oleh : Aen ummu Fathan
Ibu Pemerhati Umat

Pemerintah telah memutuskan dimulainya new normal life di tengah pandemi Covid-19. Rakyat kembali dikecewakan karena pemerintah mewajibkan Rapid Test atau Swab Test negativ Covid-19. Karena harga Rapid Test Covid-19 yang relativ mahal  Mulai dari Rp.200.000,-  hingga Rp.500.000,- sedangkan harga Swab Test dengan PCR antara 1,5 juta hingga 2,5 juta belum termasuk biaya lain sehingga tidak semua masyarakat mampu melakukannya dan karena mahalnya tes corona sehingga telah menelan korban.

Dilansir di media BBC.com salah satunya seorang bayi meninggal di kandungan ibunya yang tidak mampu membayar tes covid sebagai prasyarat operasi kehamilan. “Ibu Ervina ditolak tiga Rumah Sakit karena biaya Rapid dan Swab Test nya tidak ada yang menanggung sehingga di Rumah Sakit terakhir, anak dalam kandungannya meninggal.” kata pendamping Ervina dan juga aktivis perempuan Alita Karen. (BBC.com 18/6/2020)

Fakta di atas menunjukan standar kapitalis yang dominan dalam menilai dan menempatkan negara sebagai regulator bukan sebagai penaggung jawab, menjadikan lemahnya pemerintah dalam mengurusi rakyatnya. Sistem kesehatan berbasis asuransi yang dibangga-banggakan nyatanya tidak memberikan solusi. Rakyat yang sudah dibebankan membayar premi mahal saat membutuhkan layanan kesehatan  masih harus membayar. Padahal untuk membayar biaya bulanan asuransi kesehatan tersebut rakyat berusaha banting tulang untuk mendapatkannya. Sayangnya jerih payah rakyat itu tidak berbuah manis ketika rakyat membutuhkan uluran negara.

Rakyat saat ini hanya jadi sapi perah  bahkan ketika mereka dalam keadaan sakit pun harus menanggung beban kehidupan di saat pandemi.

Ironisnya rezim penguasa justru saat ini siap melayani para kapitalis dengan kebijakan yang menguntungkan mereka. Kondisi hidup di sistem kapitalis ini benar-benar tidak manusiawi, semua urusan termasuk urusan kesehatan serba diukur dengan takaran untung rugi. Tidak melayani masyarakat dengan sepenuh hati cenderung memilih pihak yang memiliki modal sehingga mengesampingkan kebutuhan masyarakat.

Sistem Kapitalisme peran negara tidak mampu menjadi perisai bagi rakyatnya. Sistem ini jelas-jelas menjerat masyarakat sampai  sesak dibuatnya di dalam berbagai lini kehidupan.

Hal ini berbanding terbalik dengan sistem Islam. Dimana sistem Islam berdiri di atas landasan akidah yang menjadikan hambanya tunduk dan patuh pada perintah dan larangan Allah Swt. yakni syariat Islam. Dalam Islam jaminan kesehatan itu wajib diberikan gratis oleh negara kepada rakyatnya, tanpa membebani dan memaksa rakyatnya mengeluarkan uang.

Selain kebutuhan pangan, sandang kesehatan merupakan kebutuhan primer yang harus dijamin oleh negara. Begitupun dengan pendidikan dan keamanan pun merupakan hal yang diprioritaskan negara untuk kenyamanan rakyatnya apalagi di masa pandemi seperti sekarang ini.

Di dalam sistem Islam ketika terjadi pandemi akan dipisahkan antara yang sehat dengan yang sakit. Mereka yang sakit akan dikarantina dan akan diberikan pengobatan terbaik sampai sembuh, sedangkan yang sehat bisa hidup normal dan melakukan rutinitas seperti biasanya tanpa harus merasa takut terpapar wabah.

Selain itu negara  juga menyediakan akses tes kesehatan gratis untuk rakyatnya seperti Rapid test dan Swab test. Negara menjamin fasilitas kesehatan untuk rakyatnya baik secara kualitas dan kuantitas. Hal-hal yang mendukung fasilitas kesehatan dipermudah oleh negara seperti dibangunnya pabrik obat-obatan dan alat kesehatan atau gratisnya pendidikan tenaga kesehatan, negara juga mendukung penemuan riset vaksin terhadap orang yang ahli di bidangnya. Dengan seperti itu rakyat bisa menggantungkan segala kebutuhan terhadap negara sehingga peran negara berhasil menjadi penanggung jawab terhadap rakyatnya sekaligus menjadi junnah (perisai) bagi rakyatnya, sehingga rakyat bisa berlindung dan merasa nyaman di bawah naungan negara Islam yaitu Daulah Khilafah.

Dengan begitu, masihkah kita berharap pada sistem kapitalis?

”Sesungguhnya Al-imam (Khalifah) itu (laksana) perisai, dimana orang-orang akan berperang di belakangnya (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan)nya. Jika seorang imam (khalifah) memerintahkan supaya takwa kepada Allah Azza wa Jalla dan berlaku adil, maka dia (khalifah) mendapatkan pahala karenanya, dan jika dia memerintahkan selain itu, maka ia akan mendapatkan siksa.” (HR. al-Bukhari, Muslim, an-Nasa’i, Abu Dawud, Ahmad)

Waallahu a’lam bishawab.
 
Top