Oleh : Verawati S.Pd
(Pegiat Opini Islam dan Praktisi Pendidikan)

Bagaikan bola salju yang bergulir. Penyebaran Covid-19 kian waktu kian bertambah banyak. Per tanggal 25/06/2020 ada 49 ribu lebih kasus Covid-19 dengan angka kematian mencapai 2,573 orang. Baru-baru ini pula terdapat klaster baru yaitu di pasar. Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (IKPPI) mencatat sebanyak 529 pedagang positif Corona (Covid-19) di Indonesia. Kemudian, di antara ratusan pedagang yang positif Corona tersebut sebanyak 29 lainnya meninggal dunia. (okezone.com, 13/06/2020)

Salah satu pasar yang menjadi klaster penyebaran Covid-19 adalah Pasar Cileungsi. Dilansir oleh Kompas.com,23/06/2020, terdapat 7 pedagang yang dinyatakan positif Covid-19 pada hari ini, Selasa (23/06/2020). Dengan demikian, jumlah pasien dari klaster Pasar Cileungsi mencapai 40 pasien. Jumlah ini akan dipastikan terus bertambah, mengingat beberapa pasar di berbagai wilayah sudah menjadi klaster.

Namun, meski sudah banyak kasus yang terkena Covid-19 ini, para pedagang di pasar tersebut justru menolak dan mengusir kedatangan petugas kesehatan. Sebagaimana yang terjadi di Pasar Cileungsi, para pedagang menolak para tenaga medis yang hendak melakukan rapid tes. Ketua Bidang Infokom DPP Ikatan Pedagang Pasar Indonesi (Ikappi) Reynaldi Sarijowan, ketika dihubungi, Kamis (11/6/2020). Reynaldi menilai edukasi terkait protokol kesehatan bagi para pedagang di pasar masih minim. Pemerintah setempat menurutnya kurang maksimal dalam mensosialisasikan protokol kesehatan di pasar. (Detiknew.com, 11/6/2020)

Memaksimalkan Peran Pengurusan

Kondisi semacam ini tentu tidak akan terjadi, apabila peran pemerintah maksimal. Khususnya dalam mensosialisasikan bahaya Covid-19. Misalnya dengan mendatangi orang per orang atau duduk bersama dan jika akan tes rapid dilakukan di rumahnya masing-masing barangkali akan mudah diterima. Selain itu, kebutuhan pokok masyarakat pun dicukupi. Tidak hanya warga pasar, tapi semua warga yang tengah diberlakukan lockdown.

Namun, hal tersebut nampaknya sulit dilakukan oleh penguasa saat ini, yang berpijak pada asas kapitalisme. Betul, tidak bisa dipungkiri pasar memang memiliki peran vital dalam perdagangan dan perekonomian Indonesia. Masyarakat, khususnya pedagang pastinya merugi dan kesulitan ketika pasar dihentikan. Akan tetapi, sangat disayangkan jika warga pasar kurang mendapatkan sosialisasi dan edukasi terkait bahaya virus Covid-19 ini. Lagi dan lagi membuktikan kepada kita bahwa lalainya penguasa dalam mengurusi rakyatnya. Lebih mementingkan perekonomian dibandingkan nyawa warga negaranya sendiri. Hal ini terlihat sedari awal penanganan adanya wabah Covid-19.

Berbeda dengan konsep kepemimpinan dalam Islam. Penanganan wabah dilakukan dengan memberlakukan karantina wilayah dan memenuhi semua kebutuhan warganya. Sedangkan wilayah yang wilayahnya aman bisa tetap beraktivitas dan membantu mencukupi kebutuhan wilayah yang terkena wabah. Sebagaimana yang dilakukan oleh Amru Bin Ash pada masa Khilafah Umar bin Khattab yang pernah mengalami wabah Thaun.

Islam juga memiliki konsep bahwa nyawa rakyat atau manusia begitu berharga. Sebagaimana hadits dari al-Barra’ bin Azib radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hilangnya dunia, lebih ringan bagi Allah dibandingnya terbunuhnya seorang mukmin tanpa hak.” (HR. Nasai 3987, Tirmidzi 1455)

Dengan konsep ini khalifah (pemimpin Islam) akan mengerahkan sekuat tenaga untuk melindungi rakyatnya. Seperti, dengan membuat vaksin, yang kemudian diberikan kepada rakyat dengan cuma-cuma. Hal ini dilakukan sebagai wujud dari pengurusan umat secara maksimal dan total.

Sebab konsep pemimpin dalam Islam sebagai pelindung dan pelayan umat. Nabi Muhammad saw. bersabda “Imam (Khalifah) adalah raa’in (pengurus rakyat) dan ia bertanggung jawab atas pengurusan rakyatnya” (HR al-Bukhari)

Kata Raa’in juga bermakna pelindung. Tidakkah kita merindukan pemimpin Islam?

Wallahu a'lam bishshawab.
 
Top