Oleh : Wulandari Muhajir
Muslimah Makassar

Siapa yang tidak kenal dengan tingkah menggemaskan dari tokoh animasi Nussa dan Rara? Kartun produksi domestik ini terbilang cukup sukses dan populer. Terbukti wajah kakak beradik yang menggemaskan tersebut sering wara-wiri saluran tv dan youtube sambil menebar pesan-pesan islami.

Namun di balik kesuksesan animasi buatan anak negeri tersebut, ada saja pihak-pihak yang meradang, dengan menyebut kartun Nussa sebagai tontonan yang kaku, konservatif, dan sebutan tidak mengenakkan lainnya.

Tidak sampai di situ, mereka juga berpendapat konsep kartun Nussa tidak cocok untuk ditayangkan di saluran televisi. Sebab serial Nussa menggambarkan Islam sebagai kebenaran mutlak dan menolak paham pluralisme.

Tentu saja tuduhan-tuduhan itu terbilang dangkal. Mengingat konten yang disajikan dalam kartun Nussa berupa syariat Allah Swt. Syariat yang saat ini sudah banyak ditinggalkan oleh umat Islam.
Dan untuk memahamkan kaum muslim tentang penting dan wajibnya kembali pada syariat Rasulullah adalah dengan menggiatkan dakwah. Salah satunya dengan memanfaatkan dunia animasi sebagai uslub dan wasilah dakwah.
Pesan-pesan baginda Rasulullah dikemas dengan apik dalam bentuk serial kartun yang bisa dinikmati hampir semua umur. Dakwah yang disampaikan Nussa terbilang mampu mengimbangi selera masyarakat milenial saat ini, yang lebih cenderung pada produk instan. Payah membaca konsep tulisan yang panjang lagi monoton.

Berdasarkan fakta tersebut, maka tuduhan 'konservatif' yang dilayangkan pada kartun Nussa jelaslah salah alamat. Kehadiran Nussa justru menunjukkan kepada umat Islam tentang cara mengembangkan sarana dan teknik dakwah yang kreatif.

Perlu ditekankan pula bahwa mereka yang menuduh kartun Nussa kolot, secara tidak langsung juga menyebut hadis-hadis Rasulullah ketinggalan zaman, tidak sejalan dengan kondisi saat ini, na'uzubillah.

Selain itu, tanggapan bahwa kartun Nussa tidak cocok ditanyangkan di saluran tv lantaran menolak paham pluralisme. Tanggapan itu jelas keliru. Konsep yang diusung Nussa tersebut memang harus didakwahkan kepada seluruh umat muslim yang saat ini akidahnya mulai terkontaminasi. Menganggap bahwa semua agama benar.

Konsep menolak pluralisme sudah sesuai dengan apa yang telah syariatkan dalam Islam. Ini berdasarkan pada firman Allah Swt.,

“Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam.” (TQS. Ali Imran: 19)

Mengambil agama selain Islam tidak akan diterima Allah, sebagaimana firman-Nya:

“Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya. Dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (TQS Ali Imran: 85)

Berdasarkan ayat tersebut jelaslah Islam sebagai satu-satunya agama yang diridhai oleh Allah, sejak awal kemunculannya hingga hari kiamat tiba. Jadi tidak ada paham pluralisme (semua agama sama) dalam Islam.

Tapi bukan berarti Islam adalah agama ekstrim. Islam menolak pluralisme bukan berarti menolak pluralitas (keberagaman). Islam tidak memaksa dan mengharuskan tiap manusia untuk bersyahadat. Apalagi sampai menggunakan kekerasan. Itu tidak dibenarkan dalam syariat. Sesuai dengan firman-Nya Allah yang memerintahkan untuk berdakwah dengan lemah lembut.

"Serulah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah (lemah lembut) dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik." (TQS an-Nahl: 125)

Kehadiran kartun Nussa juga menjadi secercah harapan bagi ibu-ibu, yang selama ini pusing mencari referensi tontonan yang sehat dan aman untuk buah hatinya.
Bagaimana tidak pusing, di era industri 4.0 saat ini faktanya tontonan dikuasai dan disetir oleh kaum kapitalis yang tabiatnya liberalis dan hedonis. Kaum pemburu materi yang mengabaikan norma-norma agama. Serta tutup mata dari dampak yang ditimbulkan atas kerakusan mereka.
Ini terjadi utamanya di jagad dunia maya yang memang tidak ada ketentuan yang terlalu mengikat atau istilah kerennya liberal. Adegan tidak senonoh, tidak pantas untuk dipublikasikan, serta tidak layak ditonton anak-anak justru menjadi tema pamungkas untuk menuai pundi-pundi materi.
Kaum kapitalis yang hedonis menumbalkan tabiat bersih dan kepolosan anak-anak demi nafsu keserakahan. Mereka mendorong anak-anak ke dalam pusaran. Anak-anak dibiarkan ikut menikmati produk liberal buatan mereka. Akibatnya anak dewasa sebelum waktunya. Dewasa dari sisi biologis namun tidak dibarengi dengan kedewasaan psikis atau akalnya.

Hal inilah yang menjadi salah satu pemicu munculnya perilaku menyimpang generasi muda. Seperti candu film dewasa, candu narkoba, pergaulan bebas, seks bebas dan sebagainya.

"Berdasarkan hasil survei yang dilakukan, dari 100 remaja, 51 remaja perempuannya sudah tidak lagi perawan," kata Sugiri Syarief (ketua BKKBN). Selain di Jabotabek, ungkap beliau, hasil yang sama juga diperoleh di wilayah lain di Indonesia.
Di Surabaya, gadis atau remaja perempuan lajang yang sudah tidak perawan lagi mencapai angka 54 %, di Medan 52 %, Bandung 47 %, dan Yogyakarta 37 %. Data ini dikumpulkan BKKBN hanya dalam kurun waktu 2010 saja dan kemungkinan di tahun 2011 angkanya akan lebih jauh besar.
Berdasarkan survei Komisi Perlindungan Anak (KPA) yang dilakukan terhadap 4.500 remaja di 12 kota besar seluruh Indonesia ditemukan hasil bahwa 62,7% remaja mengaku pernah berhubungan badan, 93% remaja pernah berciuman dan 21% remaja telah melakukan aborsi. (Kompas.com,9/5/2010).

Data tersebut memang sudah lama. Namun perlu diperhatikan bahwa tiap tahunnya embargo tontonan bobrok semakin mengkhawatirkan. Dan berdasarkan fakta yang ada, bahwa satu dekade lalu penggunaan gawai terbilang kecil saja jika dibandingkan sekarang yang seolah menjadi kebutuhan. Juga kala itu, anak kecil yang berselancar di dunia maya masih terbilang sedikit. Namun sekarang malah anak yang belum bisa membaca tulisan sekalipun sudah mampu mengutak-atik media sosial.

Tentu kita tidak ingin kerusakan tersebut menjadi penyakit kronis di tubuh generasi muda harapan bangsa. Maka saatnya menentukan referensi tontonan yang sehat lagi bermanfaat, terlebih bagi anak-anak yang masih polos. Dan salah satu referensi yang tepat adalah animasi Nussa dan Rara.

Wallahu a'lam bish shawab.
 
Top