Oleh : Yeni Marlina, A.Ma
Pemerhati Sosial dan Aktifis Muslimah

Tersentak pagi ini penulis membaca tulisan kisah nyata dari perjalanan hidup seorang pemuda.  Cerita ini dibagi oleh seorang guru kami melalui pesan WA-group para ibu-ibu Tokoh Muslimah.  Bagi penulis group ini bagian dari bilik yang setiap saat harus diintip karena di sinilah kami para tokoh muslimah bisa saling berbagi dan menyemangati. 

Ceritanya sangat menarik dan menggiring kita membayangkan situasi saat itu.  Walau sudah puluhan tahun lalu, penulis melihat ada sebuah inspirasi semangat baru yang bisa dilahirkan kembali di zaman ini.

Ringkas ceritanya, berkisah tentang seorang mahasiswa. Dia masih menjadi mahasiswa IPB saat menghilang lima belas tahun silam di Pulau Seram, Maluku.
Dia kembali ke kota hanya dengan sandal jepit dan baju lusuh. "Tapi, dia disambut bak seorang pahlawan yang baru saja kembali dari medan laga."
Dia dielu-elukan segenap penjuru. Hari itu, 22 September 1979 di Hotel Salak, Bogor.

Lelaki berkulit legam itu dikelilingi teman-temannya.
Dia hanya mengenakan sandal jepit.
Temannya membawakan sepatu dan jas untuknya.
Dia menolak memakainya.
Namun, temannya bersikeras.

Muhammad Kasim Arifin, inilah nama pemberian dari kedua orangtuanya. Nama yang indah dan mengalirkan doa. Kasim adalah nama anak laki-laki muslim yang baik (lovely).
Dilahirkan di Langsa, Aceh, 18 April 1938 adalah mahasiswa yang kembali setelah 15 tahun.

Teman-temannya sudah lama sarjana dan banyak yang sudah menjadi pejabat.  Kasim hanya seorang petani yang bersahaja. Tapi dia justru jauh menjulang dibandingkan semua orang.

Di tahun 1964, dia hanya seorang mahasiswa biasa yang mengikuti Program Pengerahan Mahasiswa, yang sekarang bernama Kuliah Kerja Nyata (KKN). Di masa itu, mahasiswa harus siap ditempatkan di pelosok negeri.
Kasim mendapat lokasi di Waimital, Pulau Seram, Maluku.

Dia pun mendatangi daerah terpencil itu sebab didorong hasrat untuk membumikan semua pengetahuannya.
Di Waimital, dia bertemu keluarga petani miskin yang datang melalui program transmigrasi.

Nuraninya terketuk, dia ingin berbuat sesuatu, menanggalkan semua identitas kota pada dirinya. Hidup sederhana bak orang desa memakai sandal jepit dan baju lusuh. Dia ikut menemani petani yang berjalan kaki 20 kilometer menuju sawah dan melakukannya setiap hari dan bolak-balik.  Serta ikut membantu petani untuk mengolah tanah.

IPB adalah asal kampusnya, diajarkannya pengetahuan yang didapatnya di kampus pertanian ini.
Membantu masyarakat untuk membuka jalan desa, membangun sawah baru, membuat irigasi.
Bahkan tidak menunggu bantuan dari pemerintah.
Dia membangkitkan semangat masyarakat untuk bergotong-royong. Bahkan Kasim peduli pada petani lebih dari dirinya sendiri.

Gayung bersambut, dia pun mendapat kasih sayang dari semua orang
hingga disapa: 
 "ANTUA" yaitu sebutan bagi orang yang dihormati di Waimital.

Dalam kelarutannya untuk membantu masyarakat, sampai-sampai dia lupa pulang.
Seharusnya dia di Waimital hanya tiga bulan.
Tapi dia merasa tugasnya belum selesai. Bahkan saat semua teman-temannya pulang, dia tetap menjadi petani. Bahkan semua temannya telah diwisuda, dia masih setia di kampung itu. Hingga semua temannya lulus dan menjadi pejabat, dia tetap memilih di kampung itu hingga 15 tahun.
Di Aceh, orang tuanya memanggil.

Singkat cerita walau dalam waktu yang panjang dari ukuran masa kuliah hingga dikukuhkan tamat dengan sebuah prosesi wisuda.  Kasim tetap tercatat sebagai mahasiswa saat itu, tentu dengan kisah spesialnya ini. Sang Rektor IPB, Prof. Andi Hakim Nasution kala itu, memanggilnya kembali, hingga mungutus teman Kasim untuk menjemputnya kembali ke Jakarta demi menyempurnakan studi hingga selesai dangan gelar Sarjana Pertanian.  Dinobatkan dalam prosesi wisuda layaknya akhir masa pengabdian mahasiswa dililitkan toga.
Dengan berat hati, Kasim memenuhi hal ini hingga akhirnya datang ke Jakarta dan Bogor -kota hujan- tepatnya Kampus IPB.

Uniknya lagi pengerjaan skripsipun harus dibantu oleh kawan-kawannya, karena begitu banyak yang harus dituangkan.  Kasim bercerita selama 28 jam kisahnya di Waimital, dari situlah jadi sebuah skripsi.
Cerita demi cerita diikuti sembari terharu, karena Kasim bukan seperti kebanyakan orang yang hanya berpikir untuk kuliah lalu bekerja, mengumpul harta, kemudian hidup bahagia. Dia menemukan bahagianya dengan cara lain.
Saat dia melihat petani tersenyum, hatinya mekar.
Selagi senyum itu belum hadir, dia akan menganggap tugasnya jauh dari kata selesai.

Pun hidup di tengah-tengah masyarakat sebuah kebahagiaan yang berarti. Dia mencintai tunas yang tumbuh lalu mekar jadi tanaman. Inilah sebagian dedikasi diri seorang Kasim setelah 15 tahun melebur dengan para petani,  hingga di tahun 1979 tersebut akhirnya naik ke panggung wisuda dilakoni oleh sang
Insinyur Pertanian paling istimewa ini. Bahkan diabadikan kepiawaiannya dalam sebuah puisi menggugah  oleh rekan penyairnya Taufiq Ismail.

Di Waimital, namanya selalu harum, bahkan diabadikan menjadi nama jalan.

Di tahun 1982, Kasim mendapatkan penghargaan Kalpataru dari pemerintah untuk jasa-jasanya membangun masyarakat desa dengan wawasan lingkungan hidup.  Inipun bukan suatu hal yang prestise buat Kasim. Termasuk tawaran untuk studi banding ke Amerika Serikat pun dia tolak.

Itulah sekelumit cerita inspiratif, yang sebagian penulis ringkas.  Semoga tidak mengurangi alur cerita aslinya.  Harapannya kisah ini bisa memantik kembali para pemuda-pemudi muslim khususnya dan para orang tua umumnya.

Karena mengikuti banyaknya fenomena niat dan tujuan para pencari ilmu di kalangan intelektual masa sekarang ini. Bak air mengalir deras mengikuti trend hidup yang tentunya sudah sangat jauh bervariatif dibandingkan masa tahun 60-an hingga 70-an masa cerita Kasim di atas.  Kentalnya paham materialisme tidak bisa dihindari karena memang derasnya konspirasi yang dibawa asing ke negeri-negeri muslim.

Gagal kuliah berakhir dengan Drop Out (DO) hal yang biasa. Menjadi kalangan galau dan frustasi  banyak datanya. Pergaulan bebas serba hedonis jangan ditanya.  Kalau begini apa yang bisa diharapkan? Jadi pejabat pun tidak jarang tanpa noda. 

Tak menutup mata, aktivis dakwah pun juga ada, namun jumlah mereka yang sudah tersadarkan masih jauh dari kebutuhan untuk sebuah pembaharuan.
Sementara dunia saat ini telah menuntut peran serta intelektual muda tidak hanya semata dibutuhkan terjun ke masyarakat dalam berbagai aktivitas sosial.  Namun dibutuhkan juga membawa sebuah pemikiran yang mencerahkan bagi umat.  Aktivitas dakwah adalah aktivitas yang mesti melekat juga bagi kalangan intelektual. Tidak semata meraih gelar akademisi sampai level tertinggi. Namun disempurnakan juga dengan tugas luhur dari Allah untuk menjadi "agent of changes" di tengah-tengah masyarakat.

Keterlibatan dalam aktivitas dakwah dan kajian keislaman sebagai bekal untuk terjun ke masyarakat membawa ide-ide cemerlang. Tidak akan membuat tujuan utama ilmu terapan meleset.  Karena seorang aktivis yang shaleh akan efisien dalam membagi waktunya. Jika kesadaran ini muncul di tengah-tengah kalangan akademisi, maka masyarakat siap untuk bangkit dari keterpurukan pemikiran yang jumud menuju kepikiran yang berkembang dan dinamis. Tentunya pemikiran yang dituntun oleh syariat Islam yang bisa membangkitkan.  Kerinduan umat menunggu Kasim yang lainnya sesuai tuntutan era zaman sekarang, bantuan terjun ke masyarakat secara fisik dan bantuan yang membangkitkan secara pemikiran.
 
Top