Oleh : Risma Fajriah 
Member AMK

Pulang malu tak pulang rindu
Karena nasib belum menentu
Pada siapa aku mengadu?
Pulang malu tak pulang rindu

Begitulah penggalan lirik lagu yang  dinyanyikan oleh salah satu grup band hits di Indonesia.  Lagu grup band Armada ini mengisahkan tentang seseorang yang hidup di perantauan.
Merindukan sanak keluarga di kampung halaman namun tertahan oleh prinsip pantang pulang sebelum  menang (sukses). Dan itu membuatnya galau serta bimbang tak karuan.

Kisah yang tergambar dari lirik lagu di atas sama seperti ungkapan seorang tenaga medis di hari raya kemarin.

"Sudah hampir tiga bulan tidak ketemu sama mama, sama ayah. Paling pulang ketemu sama suami, sempat juga harus dipisah dengan anak," kata Lia, seorang dokter yang menangani pasien Covid-19 di Puskesmas Duren Sawit, dalam unggahan video di Instagram @DKI Jakarta milik Pemprov DKI Jakarta, Minggu (24/5/2020).  (Kompas.com)

Tiga bulan hidup dalam kungkungan profesionalitas karir. Menanggung beban berat yang mana nyawa sendiri jadi taruhan. Berjuang demi insan lain yang tidak ada ikatan kekeluargaan. Agenda kumpul bersama keluarga besar pun dengan terpaksa ditinggalkan.

"Sebisa mungkin saya tidak pulang ke rumah karena bisa aja saya menjadi carrier (pembawa virus)," kata Kevin. Seorang dokter yang bernasib sama seperti dokter Lia yang lebih memilih mengabdikan diri pada negara dibanding mengikuti ego semata. Alasannya tidak lain demi keselamatan bersama. Ia takut jika dirinya pulang menemui keluarga ia bisa jadi carrier pembawa virus Covid-19.

Kisah lainnya disampaikan oleh dokter Indrian yang bertugas di RSUD Pasar Minggu. Ia menitikkan air mata saat ibunya berpesan agar anaknya tetap berjuang melayani pasien Covid-19 meski berlebaran tanpa berjumpa dengan keluarganya.
"Pokoknya sabar ya. Teteh kan dari kecil mau jadi dokter. Harus dibuktikan sekarang, harus dijalani ya. Nanti kita pasti bertemu lagi," kata ibu dokter Indriani.

Itulah pesan sang ibu untuk memberi dorongan motivasi pada anaknya yang memang sejak kecil mendambakan menjadi seorang dokter. Memang saat ini peran tenaga medis sangat dibutuhkan sebagai garda terdepan dalam menangani pasien positif terjangkit virus Covid-19.

"Aku dan teman-teman di sini (di rumah sakit) kan masih terus berjuang, kita nggak akan menyerah. Kita akan tetap bertugas dengan baik semaksimal mungkin untuk melewati pandemi ini. Aku juga kangen keluargaku," kata dokter Indriani menyampaikan harapannya agar warga Jakarta tetap patuh menjalani PSBB di momen Lebaran 1441 H ini.
Terakhir dan ini sebuah harapan dokter Indriyani atas seluruh warga Indonesia agar tetap taat pada aturan PSBB.

Namun sudahkah warga Indonesia taat aturan PSBB?
Sudahkah pemerintah bijak dalam menjalankan aturan yang telah ditetapkan?

Pembatasan sosial berskala besar (PSBB) adalah istilah kekarantinaan kesehatan di Indonesia yang didefinisikan sebagai "Pembatasan kegiatan tertentu penduduk dalam suatu wilayah yang diduga terinfeksi penyakit dan/atau terkontaminasi sedemikian rupa untuk mencegah kemungkinan penyebaran penyakit atau kontaminasi."

PSBB merupakan salah satu jenis  penyelenggaraan kekarantinaan kesehatan di wilayah, selain karantina rumah, karantina rumah sakit, dan karantina wilayah.
Tujuan PSBB yaitu mencegah meluasnya penyebaran penyakit kedaruratan kesehatan masyarakat (KKM) yang sedang terjadi antarorang di suatu wilayah tertentu.

Pembatasan kegiatan yang dilakukan paling sedikit meliputi peliburan sekolah dan tempat kerja, pembatasan kegiatan keagamaan, dan/atau pembatasan kegiatan di tempat atau fasilitas umum.

PSBB dilakukan oleh pemerintah daerah tingkat provinsi maupun kabupaten/kota setelah mendapatkan persetujuan Menteri Kesehatan melalui Keputusan Menteri. (Wikipedia.com)

Masih meningkatnya kasus Covid-19 di berbagai wilayah ini dapat diartikan masih banyak masyarakat tidak taat pada aturan PSBB. Petugas medis yang menjadi garda terdepan pun merasa kecewa pengorbanannya malah dibalas dengan perilaku masyarakat yang tidak disiplin.

Kekecewaan itu terungkap dalam tagar yang sempat menjadi trending di Twitter. Tagar #IndonesiaTerserah sempat menghiasi lini masa jagat media sosial.Tagar yang berisi keputusasaan akan perilaku masyarakat dalam menghadapi bahaya Covid-19.

Peraturan yang mengharuskan siapa pun membatasi pergaulan sosial mereka. Hal ini menyebabkan sistem perekonomian benar-benar ambruk. Hingga kemarin usai umat Islam menjalankan Ramadan di tahun ini dengan beragam kesulitan.

Parahnya sepanjang  wabah terjadi, semua negara nyaris tak dapat berbuat banyak. Begitu pun dengan para penguasa negeri Pancasila yang dianggap gagap tanggap.  Banyak kebijakan yang membingungkan bahkan terkadang menyakiti hati rakyat.

Hari-hari terakhir ini, kalimat berdamai dengan corona banyak terdengar. Para pejabat terus mengajak segenap rakyak untuk terus bersiap menerima kenyataan bahwa kehidupan tidak akan kembali pulih seperti sediakala. Lahirlah sebuah anjuran untuk menjalani kehidupan normal di tengah wabah.

Inilah cerminan kebijakan plinplan penguasa. Mereka meminta rakyat berdiam, tapi bantuan kebutuhan pangan tak disediakan. PSBB diberlakukan tapi bandara dibebaskan. Rumah ibadah minta dikosongkan tapi pusat-pusat perbelanjaan dibiarkan ramai.  Kebijakan mudik juga tak serius diperhatikan. Alhasil, lalu lintas kendaraan tak terkendalikan.

Kondisi ini tidak hanya terjadi di Indonesia. Lihatlah negara paman sam. Di tengah merebaknya korban positif corona, Trump sebagai presiden kerap mengambil langkah kontroversial.

Alih-alih meminta rakyat di rumah saja, Trump malah meminta agar rumah-rumah ibadah dibuka sebagaimana sektor penting lainnya. Yang sebelumnya toko obat, restoran, supermarket dan lainnya yang memang telah lebih dulu dibebaskan.

Rupanya  menormalisasikan sistem ekonomi kapitalisme dipandang jauh lebih penting dibanding menyelamatkan nyawa segenap rakyat. Padahal AS merupakan salah satu negara dengan kasus corona terbanyak di dunia 1,6 juta orang positif dan 338 ribu orang meninggal dunia.

Hal ini disebabkan di bulan November mendatang di AS akan dilaksanakan pemilu presiden. Ada kepentingan bagi Trump meraup suara-suara demonstran di daerah pemilihan yang meminta pelonggaran. Sudah dapat diartikan bahwa kapitalisme global tidak benar-benar menjaga kepentingan kesehatan masyarakat.

Wabah terbukti meluluhlantakkan perekonomian global di berbagai lini kehidupan hingga salah satu kekuatan  *Big Money* mengambil keputusan brutal. Bersembunyi di balik narasi *New Normal Life* Dan membiarkan rakyat bekerja menyambung penghidupan.
Karena apa pun dampaknya, tetaplah mereka menerima keuntungannya.

Sebagai negara pengekor,   Indonesia dengan mudah ikut termakan propaganda.  Berdamai dengan corona seolah menjadi satu-satunya pilihan. Sejatinya ini hanyalah satu jebakan, agar rakyat tertutup mata bahwa ada banyak persoalaan yang berujung pada kerusakan sistem yang dijalankan, disertai hadirnya rezim yang tak berperasaan dan memiliki kepedulian.

Namun dari semua ini, corona telah banyak memberikan pelajaran. Bahwa kekuasaan yang tak berbasis pada akidah Islam hanya akan melahirkan kefasadan.
Berbeda dengan kekuasaan yang tegak atas landasan iman.  Kekuasaan Islam yang terbukti membawa berkah bagi seluruh alam. Yang merupakan kekuasan yang berasal dari Sang Maha Pencipta kehidupan.

Khilafah (kekuasaan Islam) senantiasa menerapkan urusan umatlah yang menjadi urusan utama.
Harta, kehormatan, akal dan nyawa rakyat dianggap begitu berharga. Pencederaan terhadap rakyatnya diakui sebagai pencederaan terhadap Allah dan Rasul-Nya. Sebab semuanya adalah jaminan dari tegaknya hukum syara'.

Saat negara sedang ditimpa kesulitan baik karena suatu musibah atau serangan musuh. Di saat itulah kekuasaan tampil sebagai perisai utama.  Dimana penguasa siap membela rakyat dan rela mandahulukan kepentingan rakyat di atas kepentingan dirinya sendiri.

Sudah saatnya umat kembali ke pangkuan sistem Islam. Dimana negara dan penguasa siap menjadi pengurus dan pelindung umat. Hingga tercipta kehidupan yang dilingkupi kemuliaan dan keberkahan.

Wallaahu a'lam
 
Top