Oleh: Devi Saraswati
 (Aktivis Dakwah Kampus)

Waktu terasa cepat berlalu. Bulan Ramadan telah meninggalkan kita semua, bulan yang didalamnya penuh dengan kebahagiaan, curahan berkah, rahmat dan ampunan dari Allah Ta’ala bagi setiap hambanya yang menjalankan puasa dan beramal saleh. Dengan adanya kumandang takbir, Ramadan telah pergi meninggalkan kita, dan tentunya seluruh umat Islam di Indonesia akan merayakan hari kemenangan yaitu Hari Raya Iedul fitri yang jatuh pada hari Minggu (24/5/2020) .



Iedul Fitri adalah hari dimana Allah mencurahkan kebahagian kepada setiap orang yang telah berpuasa dan hari dimana manusia terlahir kembali sebagai manusia yang bertakwa. Namun, tahun ini, suasana Iedul Fitri sangat lah berbeda tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, karena  adanya wabah virus atau dikenal dengan Covid-19 yang menjangkiti banyak  negara di dunia. Sehingga tidak ada mudik dan silaturahmi secara langsung  meskipun hal ini itu sudah menjadi tradisi tahunan yang sudah terjadi sejak lama.



Dikutip dari Tempo.Co Jakarta, Presiden Joko widodo atau Jokowi juga memberikan sambutan pada acara Takbir Virtual Nasional dan pesan iedul fitri dari masjid Istiqlal pada sabtu (23/5/2020), dimana pesan tersebut disampaikan dalam bentuk video yang diambil dari kediaman presiden di Istana Bogor, Jawa Barat.
Ucapnya ‘’ Hari raya Iedul fitri adalah momentum yang tepat untuk terus menjaga keutuhan bangsa, menjaga keutuhan erat tali persaudaraan, dan ikatan persatuan di antara kita sebagai anak bangsa. Meskipun hari kemenangan ini sangatlah berbeda karena adanya wabah namun, ‘’ Jika Allah benar-benar menghendaki dan jika kita bisa menerimanya dengan ikhlas dan dalam takwa dan tawakal, sesungguhnya hal tersebut akan membuat berkah, membuahkan hikmah, membuahkan rezeki, dan juga hidayah.



Ia pun berharap agar seluruh masyarakat bisa menerima kondisi ini baik dalam keadaan senang mapun sedih, berlimpah atau kekurangan, sulit ataupun mudah, rumit atau sederhana.



Tidak ketinggalan wakil presiden KH. Ma’ruf Amin juga memberikan ucapan iedul fitri, Ia mengatakan bahwa umat yang beriman dan bertakwa akan diberikan ganjaran dan keberkahan. Kalau beriman dan bertakwa pasti Allah turunkan kesuburan, kemakmuran, keamanan, keselamatan, dan dihilangkan berbagai kesulitan. Itu adalah janji Allah didalam Al-Qur’an. (Tempo.com 23/5/2020).



Dengan demikian sambutan yang diberikan oleh Presiden dan Wakil Presiden dapat dilihat bahwa keduanya memberikan pesan yang sama untuk rakyat Indonesia agar bersabar dalam menghadapi pandemi Covid-19 yang tengah melanda Indonesia saat ini dengan meningkatkan ketakwaan dan tawakal agar dapat meraih ridanya Allah. Apa yang telah mereka ucapkan itu memang benar. Tapi kebijakan-kebijakan mereka dalam menangani wabah tidak berpijak pada syariah, juga tidak ada taubat nasional untuk membuang hukum-hukum buatan manusia yang selama ini menjadi rujukan mengelola bangsa. Dapat dilihat bahwa bagaimana pemerintah mengelola bangsa ini , ekonomi yang ribawi, politik kekuasaan yang diabai terhadap pemenuhan kebutuhan rakyat secara maksimal dan sosial budaya yang semakin dijauhkan dari nilai-nilai takwa, bukan itu saja pemerintah pun sudah melakukan kebijakan seperti social distancing, stay at home, pemberlakuan protokol kesehatan, pemberlakukan PSBB ditengah pandemi ini.



Namun pada kenyataannya penyebaran Covid-19 tidak kunjung mereda malah semakin meningkat setiap harinya. Pemerintah juga sering tidak konsisten terkesan berpihak pada pemilik modal seperti melarang mudik namun membolehkan pulang kampung, menutup masjid namun membuka mall, menaikkan tarif listrik dan BPJS ditengah ekonomi yang sedang sulit/surut. Seolah rakyat dibiarkan hidup sendiri melawan Covid-19, hal tersebut dapat dibuktikan dengan seruan presiden untuk berdamai dengan virus Corona beberapa waktu lalu.



Lalu bagaimana kita bisa keluar dari wabah ini jika takwa yang diucapakan tidak selaras dengan apa yang dilakukan.
Padahal, seharusnya sebagai penguasa sudah selayaknya untuk mengurusi urusan-urusan rakyatnya  sebagaimana sabda Rasulullah Shalallahu’alaihi wassalam yang artinya, ‘'seorang imam adalah pemelihara pengatur urusan rakyatnya dan dia akan diminta pertanggung jawaban terhadap rakyatnya (H.R Bukhari dan Muslim)’’. 



Maka dari itu penguasa wajib mengurusi urusan rakyatnya berupa sandang, pangan dan papan, rakyat juga seharusnya bisa menerima hak-hak mereka berupa jaminan kesehatan, pendidikan, dan keamanan secara gratis. Kemudian dalam Islam takwa bermakna tunduk dan patuh terhadap ketentuan syariah dimana melaksanakan hukum-hukum Allah Ta’ala dalam dalam segala aspek kehidupan baik dalam aspek politik, ekonomi, sosial budaya dan sebagainya. Takwa bukan hanya sekedar dalam ranah individu ataupun masyarakat namun takwa juga seharusnya diwujudkan oleh negara.



 Solusi tuntas yang bisa mengeluarkan bangsa ini dari wabah ini hanyalah Islam karena dalam Islam  kekuasaannya yang dibangun atas dasar takwa yang totalitas dalam menjalankan hukum Allah. Islam harus diterapkan secara kafah (menyeluruh). Yakinlah jika segala kebijakan yang diambil berdasarkan hukum Allah, tentu akan meraih keridaan Allah Swt, sebagaimana firman Allah dalam surat al-Anam [6]: 153 yang artinya : ‘’Sungguh, inilah jalanku yang lurus (Islam), karena itu ikutilah jalan itu dan jangan kalian mengikuti jalan-jalan lain sehingga kalian tercerai berai dari jalannya. Yang demikian itu Allah perintahkan agar kalian bertakwa".



Maka sudah selayaknya kita bersegera untuk menerapkan Islam secara kafah, sehingga bisa menjadi rahmat bagi semesta alam, memberi solusi atas segala permasalahan hidup manusia.

Wallahu a'lam

 
Top