Oleh : Ratna Handayani
(Aktivis Dakwah)

Idul fitri identik dengan Hari Kemenangan. Pada hari itu kita merayakan kemenangan. Tentu kemenangan dalam mengendalikan hawa nafsu setelah sebulan penuh berpuasa. Namun demikian, kemenangan yang hakiki bukanlah semata kita mampu  menahan makan dan minum serta segala hal yang membatalkan puasa selama Ramadan. Kemenangan hakiki adalah saat ketakwaan bisa kita raih. Bisa benar-benar mewujud dalam diri kita.

Dikatakan, “Takwa adalah mengerjakan ketaatan kepada Allah Swt. berdasarkan cahaya-Nya dengan mengharap pahala-Nya dan meninggalkan kemaksiatan kepada Allah berdasarkan cahaya-Nya karena takut terhadap azab-Nya.”  (Tafsîr Ibnu Katsîr, I/2440)

Dengan demikian takwa haruslah total. Harus mewujud dalam segala aspek kehidupan. Takwa juga bukan hanya harus ada pada tataran individual saja. Takwa pun harus ada dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. 

Namun sayangnya, kehidupan kita hari ini menerapkan sistem sekularisme yaitu adanya pemisahan agama dari kehidupan. Agama hanya diimplementasikan dalam ranah  ibadah spiritual saja. Maka kita bisa lihat bagaimana kondisi kehidupan kita hari ini banyaknya problematika dalam segala lini kehidupan. Seperti pandemi Covid-19 yang belum usai. Terlebih adanya kebijakan-kebijakan pemerintah yang terkesan plin-plan dan tidak menyelesaikan masalah yang ada.

Maka, apa yang disampaikan oleh Wakil Presiden Ma'ruf bahwa momen idul fitri harus dimanfaatkan umat muslim untuk memperkuat iman dan takwa. "Kalau beriman dan bertakwa pasti Allah turunkan kesuburan, kemakmuran, keamanan, keselamatan dan dihilangkan berbagai kesulitan. Itu adalah janji Allah di dalam Al-Quran," kata Ma'ruf.

Lalu pertanyaannya apakah negara hari ini sudah menerapkan hukum Allah secara menyeluruh sebagai bentuk ketakwaan kepada Allah? Kita bisa pastikan bahwa bukanlah hukum-hukum Allah yang diterapkan untuk mengatur kehidupan saat ini. Namun aturan buatan manusialah yang lahir dari akal yang bersifat terbatas. Maka aturan-aturan yang ada bukannya menyelesaikan masalah yang ada, malah menambah masalah. Solusi yang diberikan hanya tambal sulam.

Ketakwaan Penyokong Keberhasilan Menghadapi Pandemi

Dalam menghadapi pandemi ini, fasilitas kesehatan dan teknologi saja tak akan cukup. Diperlukan fondasi sebagai dasar bangunan yang akan menyelesaikan semua masalah ini. Dasar itu adalah ketakwaan. Sebagaimana tujuan utama puasa Ramadan adalah menambah ketakwaan terhadap Allah Swt. Jika tujuan puasa berhasil kita dapat, insyaallah tidak akan lama lagi kita akan bisa melewati pandemi. Namun, ketakwaan ini perlu ada kolaborasi dari tiga aspek.

Pertama, ketakwaan individu. Tidak bisa dipungkiri, ketakwaan individu memiliki kedudukan yang penting. Individu yang bertakwa mampu memilih aktivitas mana yang dibolehkan agama mana yang tidak. Termasuk dalam menghadapi pandemi. Ia akan memutuskan tindakan tersebut membahayakan dirinya atau tidak. Ia pun akan memaksimalkan skala prioritas. Sehingga, di musim pandemi sekaligus merayakan idul fitri akan memilih aktivitas yang bisa mendatangkan pahala sekaligus tidak mengancam jiwa. Ia akan memilih diam di rumah daripada pergi berdesak-desakan di pasar. Untuk ibadah pun akan memperhatikan keselamatan.

Kedua, ketakwaan masyarakat. Sejatinya ketakwaan individu saja tak akan cukup. Perlu dukungan dari ketakwaan masyarakat. Masyarakat yang bertakwa akan berbondong-bondong saling menjaga, memperhatikan dan mengingatkan. Jika ada individu yang menyalahi aturan, masyarakat segera mengingatkan. Masyarakat akan bersama menjaga kondisi tetap terkendali. Mereka tidak akan berdesak-desakkan di pusat niaga. Atau mudik di tengah pandemi demi menjaga keamanan sanak keluarga. Jika masyarakatnya bertakwa, mereka akan mengikuti aturan negara pula. Sehingga mudah diatur.

Ketiga, ketakwaan negara. Ketakwaan negara adalah mahkota dari dua ketakwaan sebelumnya. Tidak bisa dipungkiri negara mengambil peran paling urgen dalam masalah ini. Ketakwaan individu sewaktu-waktu bisa luntur mana kala tak ada bentengnya. Pun ketakwaan masyarakat suatu saat bisa sirna jika tak ada penjaganya. Benteng dan penjaga ketakwaan itu adalah negara. Negara memiliki andil dan kewajiban dalam penerapan aturan. Jika pemimpinnya bertakwa, tapi negaranya tidak berlandaskan akidah Islam, maka sia-sia. Pasalnya, manusia bisa berubah. Pemimpin adalah individu. Jika lingkungannya tidak baik, maka pemimpin bisa ikut arus. Begitu pula sebaliknya, tak cukup menggunakan negara berlandaskan akidah Islam tanpa pemimpin yang bertakwa. Meskipun aturannya benar, bisa saja ada penerapan yang diselewengkan. Maka, ketakwaan negara hanya dapat dicapai jika pemimpinnya bertakwa dan aturan negara juga berdasarkan akidah Islam. Pemimpin yang bertakwa hanya akan menjalankan aturan sesuai dengan perintah Al-Qur'an dan Sunah. Ia akan melaksanakan dengan sungguh-sungguh. Karena paham bahwa kepemimpinan yang ada di pundaknya adalah amanah yang kelak akan diminta pertanggungjawaban.

Kebijakan negara menjadi payung ketakwaan dalam menghadapi pandemi. Negara yang bertakwa inilah yang akan mampu menghadapi pandemi. Sebagaimana yang dilakukan para pemimpin sebelumnya di negara Islam, Rasul dan para Sahabat telah memberikan contoh cara menghadapinya. Maka, pemimpin saat ini harusnya tinggal mengikuti contoh itu. Dengan landasan mengurusi urusan umat, ia harus mengeluarkan kebijakan yang sesuai hukum syara. Bukan sesuai takaran pikiran manusia. Sebagaimana membuka perdagangan dan transportasi demi jalannya pertumbuhan ekonomi. Jika masalah pandemi sudah merambah ke mana-mana, buah ketakwaan dari pemimpin harusnya taubatan nasuha. Minta maaf kepada Allah sebanyak-banyaknya. Dan mengubah segala kebijakan disesuaikan dengan pandangan Islam. Tiga prinsip Islam dalam menanggulangi wabah antara lain:

Pertama, jika terjadi wabah maka penguncian area yang terkena wabah harus dilaksanakan sesegera mungkin. Kebijakan ini serupa dengan kebijakan lockdown atau karantina wilayah. Sehingga seluruh kebutuhan pokok umat dipenuhi negara. Wabah pun akan cepat mereda.
“Apabila kalian mendengarkan wabah di suatu tempat maka janganlah memasuki tempat itu, dan apabila terjadi wabah sedangkan kamu sedang berada di tempat itu maka janganlah keluar rumah.” (HR Muslim)

Kedua, Isolasi yang sakit. Jika ada penyakit yang menular, maka wajib bagi pasien yang terjangkit melakukan isolasi. Baik itu isolasi mandiri ataupun ditangani tenaga medis. Di sini dibutuhkan kesadaran masyarakat sebagai garda terdepan dalam memerangi wabah ini. Sehingga tenaga kesehatan sebagai garda terakhir tidak akan mendapatkan beban yang begitu berat. Kematian para nakes pun akan bisa dihindari. Kesadaran yang dilandasi oleh keimanan akan menghasilkan amal yang produktif. Artinya, masyarakat yang memahami bahwa Islam harus dipakai dalam kehidupannya, mereka akan melakukan social distancing dengan maksimal. Karena mereka memahami bahwa hal demikian adalah bentuk ikhtiar dalam kesembuhan yang merupakan perintah Allah Swt.
“Sekali-kali janganlah orang yang berpenyakit menular mendekati yang sehat.” (HR. Imam Bukhari Muslim)

Ketiga, pengobatan hingga tuntas. Bagaimana pun, nyawa manusia lebih berharga dibanding dunia dan isinya. Maka pengobatan harus maksimal dan ditunjang dengan sistem kesehatan yang baik. Fasilitas rumah sakit akan prima, APD mumpuni, tenaga medis yang banyak dan berkualitas, juga pendanaan yang sehat. Sungguh sayang, sistem kesehatan di negeri ini pun tak lepas dari cengkeraman korporasi. Alih-alih menggratiskan pelayanan kesehatan, Indonesia malah menaikan iuran BPJS. Sangat minim empati! Oleh karena itu, jika kita menginginkan permasalahan pandemi ini berakhir, selain berikhtiar untuk menjaga diri dari virus, juga harus dibarengi dengan ikhtiar menerapkan Islam secara kafah, karena hanya dalam sistem Islamlah seluruh masalah akan tuntas diatasi.
“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.“ (QS. al-A’raf : 96) 

Wallahu a'lam bishshawab.
 
Top