Oleh : Susi Maryam Mulyasari, S. Pd. I.
(Ibu Rumah Tangga dan Aktivis Dakwah)

Bagi seorang muslim perayaan hari raya Idul Fitri tahun ini nampaknya berbeda dengan tahun sebelumnya, banyak momen yang terlewatkan bahkan nyaris ditiadakan, di antaranya mudik, silaturahmi dengan sanak saudara, musafahah dan salat Ied sendiri harus dilakukan dengan berbagai macam ketentuan preventif penyebaran wabah Covid-19 yang sudah menjadi pandemik di seluruh dunia. 

Covid-19 telah merenggut nyawa yang tidak sedikit bahkan korban yang positifnya pun kian hari kian bertambah.  Di Indonesia sendiri penyebaran Covid-19 masih menunjukan angka yang terus meningkat, walaupun untuk beberapa provinsi menunjukan tren penyebaran yang masih fluktuatif.  Menurut para ahli lonjakan penyebaran akan meningkat, terlebih lonjakan gelombang kedua belum terjadi. 

Hal inilah yang menyebabkan berbagai macam momen di hari raya tidak bisa dilakukan karena khawatir menjadi sumber penyebaran Covid-19. Kekhawatiran yang terjadi di tengah masyarakat bukan hanya bersumber pada kerentanan akan tertularnya Covid-19, melainkan kebijakan pemerintah yang tidak proporsional dalam penanganan Covid-19. Banyak kebijakan yang tidak berpihak pada keselamatan rakyat tetapi lebih kepada pemenuhan kepentingan para pemilik modal (pengusaha), misalnya pemberlakuan New Normal dalam kondisi penyebaran yang terus meningkat, demi memenuhi tuntutan para kapitalis.  Dalih yang mereka keluarkan kenapa New Normal diberlakukan diantaranya untuk menggenjot ekonomi dan untuk menekan arus PHK. Ini artinya rakyat dikorbankan demi nafsu para kapitalis.

Kebijakan yang diambil oleh penguasa negeri, ini dapat dipahami bahwa apa yang telah ditetapkan adalah bentuk frustasi dan kebingungan yang luar biasa karena solusi yang dipikirkan hanya berkutat pada hutang dan pajak, menginduk pada tren global yang cenderung dipaksakan.  Sehingga kebijakan yang diambil hanya dalam bentuk statment membangun tanpa adanya bentuk riil kebijakan tepat sasaran. 

Di antara statment membangun adalah ucapan selamat Idul Fitri oleh presiden dan wakil presiden dengan disertakan ungkapan bahwa modal keluar dari wabah ini adalah tawakal, takwa dan mendapat rida dari Allah Swt. serta kita harus meningkatkan kesabaran dan lain-lain. Tapi kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan dalam penangan wabah ini tidak berpijak pada syariah, bagaimana mungkin Allah Swt. akan rida kepada negeri ini, jika seluruh kebijakan dan aturan yang ditetapkan semuanya mengacu pada hukum buatan manusia dan itu merupakan bentuk kemaksiatan nasional yang dilakukan oleh penguasa negeri ini. 

Jika kita mau konsisten dengan statment yang dikeluarkan oleh penguasa negeri ini bahwa modal keluar dari wabah ini dengan meningkatkan ketakwaan kepada Allah Swt., hal yang harus kita lakukan adalah mengembalikan makna takwa kepada makna sebenarnya yaitu melaksanakan seluruh perintah Allah Swt. dan menjauhi larangan-Nya di seluruh aspek kehidupan, intinya kembali kepada syariah Islam sebagai solusi atas permasalahan wabah ini. 

Permasalahan yang menjerat negeri ini bukan hanya sekedar wabah Covid-19 lebih dari itu, permasalahan yang terjadi adalah permasalahan multidimensi yang sudah kronis. Oleh karena itu Covid-19 dan masalah lainnya bisa diselesaikan dengan syariat Islam yang diterapkan oleh penguasa di dalam bingkai khilafah.
Sebagaimana Allah Swt. sampaikan di dalam firman-Nya:
“Dan jika penduduk negeri beriman dan bertakwa kepada Allah sesungguhnya Kami (Allah) bukakan kepada mereka (pintu-pintu) berkah dari langit dan bumi; Tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka lantaran apa yang telah mereka kerjakan”. 
(QS. al-Araf : 96)

Wallahu a'lam bishshawab.
 
Top