Oleh : Nira Syamil
Kontributor media Lenteranyahati

Bupati Bandung Dadang M Naser mengakui jika banyak warganya yang kurang taat dalam menerapkan protokol kesehatan. Bahkan dia sempat membandingkan dengan warga Jepang yang disiplin. Menurut Dadang selama pandemi covid-19 sampai ada pemberlakuan PSBB, kesadaran masyarakat Kabupaten Bandung terhadap protokol kesehatan masih tidak maksimal. Masih banyak masyrakat (beraktivitas) tidak bermasker, ujar Dadang, Rabu (3/5/2020).

Kondisi tersebut berbanding terbalik dengan masyarakat Jepang yang memiliki kesadaran kesehatan tinggi. Menurut Dadang, di Jepang itu, satu orang bisa membawa sampai 5 masker. Bukan hanya masker, Dadang juga menyebut banyak masyarakat yang tidak memperdulikan sosial dan physical distancing. Kerumunan banyak terjadi di pusat-pusat perbelanjaan juga pasar tradisional. Saat adaptasi kehidupan baru (AKB) nanti, Dadang berharap agar masyarakat bisa meniru kedisiplinan dan kepedulian masyarakat Jepang terhadap kesehatan.

Selain itu Dadang  mengungkapkan ajakannya untuk kembali pada nilai Pancasila. Menurut Dadang, Pancasila dalam bahasa lokal Kabupaten Bandung dapat diinterpretasikan menjadi Sabilulungan. Di mana di dalamnya ada kebersamaan, gotong royong, silih asah, asih, asuh, saling menghargai dan menghormati.

Mari kita aplikasikan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Menjalankan nilai-nilai dalam syariat Islam, kebersamaan dan toleransi, itu juga berarti menjalankan Pancasila, ucap bupati usai kegiatan yang berlangsung di kediamannya di Kecamatan Ciparay, Senin (1/6/2020). (www.galamedianews.com)

Tak dipungkiri Jepang merupakan salah satu negara yang berhasil melawan wabah Covid-19 dengan cepat meski tidak mematuhi rulebook yang dianjurkan WHO. Jepang sendiri tidak yakin resep apa yang telah mengantarkannya mencapai prestasi tersebut, namun diakui bahwa tidak ada kebijakan tunggal, melainkan paket penanganan menyeluruh yang juga didukung oleh kebiasaan bangsa Jepang seperti melepas sepatu jika memasuki ruangan, disiplin, selalu menjaga kebersihan dan tidak bersalaman jika bertemu orang lain. Kebijakan yang dianggap sangat penting menekan kasus Covid-19 di Jepang adalah menutup sekolah segera setelah kasus ditemukan. Respons cepat semacam ini memang menjadi satu keunggulan inbuilt Jepang yakni lewat keberadaan pusat kesehatan publiknya. Pusat kesehatan publik memiliki puluhan ribu tenaga paramedis yang sudah terlatih dalam menyusuri jejak infeksi di tahun 2018. (kompas.com)

Kedisiplinan masyarakat memang sangat penting dalam mencegah penularan Covid-19 mengingat karakter penularannya yang antar manusia dalam interaksi sehari-hari. Namun tak kalah penting adalah kebijakan pemerintah untuk mengatasi wabah disertai dengan perangkat aturan yang membumi dan membuat rakyat taat. Kebijakan ini tentu bukan sekedar larangan keluar rumah apalagi himbauan menerapkan ide yang belum jelas aturan turunannya.

Mengambil nilai-nilai fiqih Islam dalam mengatasi wabah pernah dilontarkan oleh Wakil Presiden Maruf Amin. Beliau meyakini fiqih Islam dapat berperan menjadi solusi dalam penanganan pandemi Covid-19. Sebab, pandemi Covid-19  ini, kata Ma'ruf, merupakan pengalaman baru berbagai negara di dunia, sehingga membuat pemerintah di dunia gamang dalam membuat keputusan penanggulangan.

"Saya yakin (fiqih Islam) dapat memberikan solusi dan sumbangan pemikiran untuk mengatasi  pandemi Covid 19 beserta seluruh dampaknya, saya yakin karena fiqih Islam dimaksudkan untuk memberikan kemaslahatan bagi umat seluruh dunia," ujar Ma'ruf saat teleconference di acara Simposium Tahunan Ekonomi Islam Al Baraka ke-40, Sabtu (9/5).

Kondisi saat ini menjadi pertimbangan paling utama dalam menetapkan fatwa, karena tidak ada alternatif penggantinya. Bagaimana melaksanakan ibadah di tengah pendemi Covid-19, baik untuk tenaga medis, para penderita, ataupun umat Islam pada umumnya, tentang tata cara pemulasaraan jenazah (tajhiz al-janaiz) pasien positif Covid-19 yang sesuai protokol kesehatan, dan fatwa terkait instrumen ekonomi yang dapat digunakan sebagai mitigasi dampak pandemi Covid-19, kata Ma'ruf.

Namun perlu dicatat bahwa  Islam diterapkan secara parsial tidak akan menyelesaikan permasalahan manusia. Sebab fakta permasalahan manusiapun saling terkait dan berkelindan antar  aspek kehidupan. Masalah pandemi yang menyebabkan PHK massal dan  peningkatan KDRT adalah salah satu contoh betapa permasalahan kehidupan manusia saling berkaitan. Karenanya penyelesaiannyapun haruslah menyeluruh dan sistemik. Kabar baiknya adalah Islam merupakan seperangkat aturan kehidupan yang menyeluruh. Penerapan Islam secara menyeluruh  selama 13 abad telah terbukti mengantarkan manusia pada kehidupan gemilang termasuk dalam mengatasi wabah. Seperti apa Islam mengatasi wabah?

Alfiyah Kharomah., STr. Kes mengungkapkan dalam tulisannya yang berjudul Cara Islam  Selesaikan Pandemi Covid-19. Menurutnya, ada lima hal yang dilakukan pemerintah, yakni:

Edukasi prefentif dan promotif
Pembinaan pola sikap dan perilaku sehat baik fisik, mental maupun sosial, pada dasarnya merupakan bagian dari pembinaan Islam itu sendiri. Islam memerintahkan kepada setiap orang untuk mempraktekan gaya hidup sehat, pola makan sehat dan berimbang serta perilaku dan etika makan. Allah SWT telah berfirman:


Makanlah oleh kalian rezeki yang halal lagi baik yang telah Allah karuniakan kepada kalian. (TQS. An-Nahl [16]: 114)


Makan ketika lapar dan berhenti sebelum kenyang, mengisi perut dengan 1/3 makanan, 1/3 air dan 1/3 udara, termasuk kaitannya dengan syariah puasa baik wajib maupun sunnah.


2. Sarana dan Prasarana Kesehatan


Pelayanan dan kesehatan berkualitas hanya bisa direalisasikan jika didukung dengan sarana dan prasarana kesehatan yang memadai serta sumber daya manusia yang profesional dan kompeten. Penyediaan semua itu menjadi tanggung jawab dan kewajiban negara. Karenanya negara wajib membangun berbagai rumah sakit, klinik, laboraturium medis, apotik, lembaga litbang kesehatan, sekolah kedokteran, apoteker, perawat, bidan serta sekolah kesehatan lainnya yang menghasilkan tenaga medis.


Pelayanan kesehatan harus diberikan secara gratis kepada rakyat baik kaya ataupun miskin tanpa diskriminasi baik agama, suku, warna kulit dan sebagainya. Pembiayaaan untuk semua itu diambil dari kas Baitul Mal, baik dari pos harta milik negara maupun milik umum.


3. Membangun Sanitasi Yang Baik

Syariah sangat memperhatikan kebersihan dan sanitasi seperti dibahas dalam hukum-hukum thaharah. Tata kota dan perencanaan ruang dilaksanakan dengan senantiasa memperhatikan kesehatan, sanitasi, drainase, keasrian dan sebagainya. Hal itu sudah diisyaratkan dalam berbagai hadits:


Sesungguhnya Allah Maha Indah dan mencintai keindahan, Maha Bersih dan mencintai kebersihan. Maha Mulia dan mencintai kemuliaan. Karena itu bersihkanlah rumah dan halaman kalian dan janganlah kalian menyerupai orang-orang Yahudi (HR. At Tirmidzi dan Abu Yala)


Jauhilah tiga hal yang dilaknat, yaitu buang air dan kotoran di sumber/ saluran air, di pinggir atau ditengah jalan dan di tempat berteduh. (HR. Abu Dawud)


Di samping itu juga ada larangan membangun rumah yang menghalangi lubang masuk udara rumah tetangga. Beberapa hadis di atas mengisyaratkan pengaturan pengelolaan sampah dan limbah yang baik, tata kelola drainase dan sanitasi lingkungan yang memenuhi standar kesehatan dan pengelolaan tata kota yang higienis, nyaman sekaligus asri.


4. Membangun Ide Karantina

Dalam sejarah, wabah penyakit menular sudah terjadi pada masa Rasulullah SAW. Wabah tersebut adalah kusta yang menular dan mematikan dan belum ada obatnya. Untuk mengatasi wabah tersebut salah satu upaya Rasulullah adalah dengan menerapkan karantina atau isolasi terhadap penderita. Ketika itu Rasul memerintahkan untuk tidak dekat-dekat atau melihat para penderita kusta tersebut.


Jika kalian mendengar wabah terjadi di suatu wilayah, janganlah kalian memasuki wilayah tersebut. Sebaliknya jika wabah itu terjadi di tempat kalian tinggal, janganlah kalian meninggalkan tempat itu. (HR. Al-Bukhari)


Dari hadits tersebut maka negara menerapkan kebijakan karantina dan isolasi khusus yang jauh dari pemukiman penduduk apabila terjadi wabah penyakit menular. Ketika diisolasi, penderita diperiksa secara detail lalu dilakukan langkah-langkah pengobatan dengan pantauan ketat. Selama isolasi, diberikan petugas medis yang mumpuni dan mampu memberikan pengobatan yang tepat kepada penderita.
Pemerintah pusat tetap memberikan pasokan bahan makanan kepada masyarakat yang terisolasi.


5. Islam Menginspirasi Negara Menciptakan Vaksin

Umat Islam terdahulu mengembangkan ikhtiar baru mengatasi pandemi, yakni vaksinasi. Cikal bakal vaksinasi itu dari dokter-dokter muslim zaman Khilafah Utsmani, bahkan mungkin sudah dirintis di jaman Abbasiyah. Ini diceritakan pada buku 1001 Inventions Muslim Heritage in Our World. Di halaman 176 tertera: The Anatolian Ottoman Turks knew about methods of vaccination, they called vaccination Ashi or engrafting, and they had inherited it form older turkic tribes.

Vaksinasi adalah proses memasukkan kuman yang telah dilemahkan ke dalam tubuh untuk mengaktifkan sistem kekebalan yang sebenarnya sudah ada didalam tubuh tapi belum aktif.

Sebagai muslim kita harus waspada dan optimis sekaligus. Waspada, bahwa virus apapun saat ini bisa menyebar ke negeri-negeri muslim yang lambat mengantisipasi. Namun juga optimis bahwa untuk setiap penyakit, Allah pasti juga menurunkan obatnya. Bahkan sistem  Islam menyediakan berbagai layanan kesehatan melalui upaya preventif, kuratif dan promotif. Penerapan aturan Islam secara menyeluruh akan menjadikan kehidupan umat sesuai kehendak Allah Maha Pencipta sekaligus mengantarkan manusia pada kehidupan aman, tentram dan sejahtera. Dalam kondisi normal ataupun wabah, kembali kepada Islam adalah kewajiban bagi umatnya. Kembali kepada aturan Allah dalam seluruh aspek kehidupan dalam naungan sistem pemerintahan Islam yakni daulah Islam.

Wallahu a'lam bishshawab.
 
Top