Oleh : Tati Ristianti
Kontributor media Lenteranyahati.com

Dunia pendidikan adalah faktor yang sangat penting terhadap eksistensi sebuah peradaban. Bahkan, bisa dikatakan bahwa pendidikan merupakan hal yang tidak bisa lepas dari kehidupan. Melalui pendidikan yang benar, kemajuan suatu bangsa  dapat tercapai.

Namun demikian, hal itu tidak akan pernah terjadi jika seorang oknum guru yang tak amanah menjalankan tanggung jawabnya. Sebut saja EP (36), salah satu pengajar di Madrasah Aliyah (MA) Kecamatan Soreang yang mencabuli muridnya selama empat tahun. Pelaku bejat itu mengaku menyetubuhi korban karena khilaf, modus yang sudah basi, kalau tidak khilaf pasti mengaku gila.

Pengungkapan kasus ini bermula saat orang tua korban melaporkan pencabulan tersebut kepada pihak kepolisian, "Pada awalnya korban diminta untuk difoto dengan tidak menggunakan hijab. Karena takut kemudian diancam lagi akhirnya bisa sampai difoto tanpa busana. Kemudian kondisi ini dimanfaatkan pelaku untuk berhubungan badan dengan cara diancam," jelas Kapolresta Bandung Kombes Pol Hendra Kurniawan. (PRFM)

Sementara itu ketua MUI Kabupaten Bandung Yayan H. Hudaya mengutuk keras perilaku pencabulan. "Perbuatannya telah melecehkan posisi guru agama yang merupakan profesi mulia dan terhormat serta mencoreng nama baik lembaga pendidikan Islam yang mana sangat menjunjung tinggi akhlakul karimah dan norma masyarakat yang luhur," ujar ketua MUI Kabupaten Bandung.  (Detik.com)

Empat tahun lamanya bukanlah waktu yang singkat untuk menjadi budak hawa nafsu yang dilakukan oleh pelaku. Sikap dan watak yang dimiliki korban hanyalah sabar, tenang, dan pasrah (pasif). Tidak ada upaya untuk mengubah keadaan. Bahkan diklaim ia sangat menikmatinya. Apa yang menimpa korban pelecehan merupakan bencana yang sangat besar. Namun, mengekploitasi sikap sabar untuk membangun kepasifan dan kepasrahan tentu ini suatu hal yang sangat keliru.  Bukankah seorang pelajar ilmu agama harus bersifat aktif ketika mendapati bencana?

Inilah suatu bukti bahwa guru tidak hanya bertugas untuk mentransfer ilmu atau menyampaikan materi saja. Ia juga harus menanamkan pribadi yang kuat dan menghasilkan murid yang memiliki kepribadian Islam. Dengan demikian, mereka bisa menjaga moralnya dan menghilangkan setiap hal yang dapat merusaknya.

Pelecehan terhadap siswa terjadi karena diterapkannya sistem pendidikan yang tidak lagi berpijak kepada Islam, melainkan pada sekulerisme (pemisahan agama dari kehidupan) sistem pemangsa kebaikan. Dalam sistem yang rusak, guru agama yang selayaknya memiliki derajat mulia dan terhormat namun menjadi bejat tak bermoral. Hal inilah yang menyebabkan hancurnya generasi cemerlang.

Sejarah peradaban Islam yang gemilang terbukti menjamin hak-hak generasi berkualitas, menjaga serta menjamin tumbuh kembang generasi emas yang kuat, produktif, dan bertakwa. Sudah saatnya kita sadar bahwa satu-satunya sistem yang mampu mencetak generasi cemerlang hanyalah sistem Islam.

Siapa pun yang ingin mewujudkan kemuliaan, kesejahteraan, dan masa depan yang baik bagi generasi, hendaknya bersungguh-sungguh memenuhi perintah Allah. Untuk berjuang menerapkan syariah Islam secara kafah dengan menegakkan khilafah. Allah Swt. berfirman yang artinya:

"Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah kamu ke dalam Islam secara kaaffah (keseluruhan), dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sunggih, ia musuh yang nyata bagimu." (TQS. al-Baqarah: 208)

Wallahu a'lam bi ash-shawab
 
Top