Oleh : Ummu Najla
Komunitas Ibu Peduli Generasi

Booming di tengah masyarakat saat ini, aplikasi Tik Tok yang sukses menyedot perhatian seluruh lapisan masyarakat. Tak hanya generasi muda, mereka yang belum melek huruf sampai yang kadaluarsa pun asyik terhanyut di dalamnya.

Sebuah  platform berbagi video singkat lipsync yang bisa dikreasikan dengan berbagai latar lagu ini begitu digandrungi. Sampai-sampai, pejabat publik pun terbuai di dalamnya. Segala aksi dan tingkah narsis mereka buat tanpa kemaslahatan. Bahkan video seronok tak bermoral pun tak luput dari rekaman.

Demi menaikkan rating, segala event pun digelar. Mulai dari kontes 1 Million Audition. Event TikTok Gala pada 14 September 2018, di Jakarta dihadiri para pemenang kreator dari dari 20 kreator top TikTok seluruh dunia. Termasuk Amerika Serikat, Inggris, Korea Selatan, Jerman, Asia Tenggara dan masih banyak lagi.

Hingga berbagai macam challenge pun digelar. Salah satunya Any Song Challenge yang berhasil membuat tiga elit politik berlaku layaknya remaja alay. Tiga Gubernur Indonesia yakni Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil mendadak kepo di salah satu acara talkshow di televisi swasta. (Liputan6.com)

Alhasil, Populernya aplikasi yang dirilis oleh Zhang Yiming pada September 2016 ini, mengalahkan Facebook, Messenger, dan Instagram, sepanjang 2019.

Padahal, aplikasi ini sempat diblokir Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo)  karena kontennya dianggap negatif untuk anak-anak. Pemblokiran ini terjadi setelah dilaporkan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Anak (Kemen PPA), Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), serta masyarakat luas.

Namun, sekonyong-konyong pemblokiran itu segera dicabut, setelah perwakilan Tik Tok mendatangi Kemkominfo dan membuat kesepakatan. Pihak Tik Tok sepakat membersihkan seluruh konten negatif, menaikkan batas minimal usia pengguna dari 12 tahun menjadi 16 tahun, dan membuka kantor perwakilan di Indonesia untuk mempercepat komunikasi pemerintah dengan pihaknya jika ada pengaduan.

Generasi Pembebek

Pemuda zaman now, begitu rentan dengan virus budaya Asing. Segala genre, challange dan aksi narsisme dilakoni demi eksistensi diri. Semua tren terbaru dikepoin hingga lupa jati diri. Begitu alay tanpa filter, tanpa ilmu, tanpa reserve.

Betapa bahayanya virus budaya ini menyerang hingga ke urat syaraf. Dampaknya seakan lebih dahsyat bak corona yang mematikan akidah dan akhlak. Raib sudah rasa malu. Musnah sudah kepribadian Islam (syaksiyah Islamiyah). Tergadaikan pula keimanan. Padahal Rasulullah saw. bersabda:

“Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka”. (HR. Abu Daud dan Ahmad)

Beginilah hebatnya Kapitalisme yang bergerilya dan menyerang segala lapisan. Tak ada satu pun yang luput. Hedonisme, liberalisme, sekulerisme, konsumerisme, materialisme dan isme-isme yang lain sukses menyerbu benteng pertahanan terakhir umat Islam.

Racun berbalut madu yang mereka tawarkan merobohkan benteng ketakwaan. Hingga tak perlu sang misionaris memurtadkan umat Islam. Cukup dengan menjauhkan mereka dari ajaran Islam saja, sudah sukses menenggelamkan kebangkitan Islam.

 Sebagaimana yang diungkapkan Napoleon Bonaparte, “Selama Al-Qur’an ini berkuasa di tengah-tengah kaum muslimin, dan mereka hidup di bawah naungan ajaran-ajarannya yang sangat istimewa, maka kaum muslimin tidak akan tunduk kepada kita, kecuali kita pisahkan mereka dari Al-Qur’an.”. Hal tersebut diamini William Ewart Gladstone (1809-1898), mantan Perdana Menteri Inggris.

Alhasil, misi inilah yang kemudian dijalankan pengemban Kapitalisme dalam setiap aksinya. Mereka akhirnya sibuk merilis produk-produk baru yang melenakan umat Islam. Dibumbui dengan iming-iming kesenangan dan kepuasan. Hingga para pemuda Islam membebek pada Barat dan melupakan syariat-Nya.

Allah Swt berfirman:
”Dan sekali-kali tidaklah ridha terhadap engkau orang-orang Yahudi dan Nasrani itu, sehingga engkau mengikut agama mereka. Katakanlah: Sesungguhnya petunjuk Allah, itulah dia yang petunjuk.” (QS. Al-Baqarah: 120)

Rasulullah saw bersabda:
“Sungguh, kalian benar-benar akan mengikuti kebiasaan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta, sehingga sekiranya mereka masuk ke dalam lubang biawak sekalipun kalian pasti akan mengikuti mereka.” Kami bertanya; “Wahai Rasulullah, apakah mereka itu kaum Yahudi dan Nasrani?” Beliau menjawab: “Siapa lagi kalau bukan mereka?” (HR. Muslim)

Sosok Generasi Islam

Sejatinya, sosok pemuda dalam Islam adalah sang revolter yang tak akan alay dan tunduk pada budaya Barat. Kepribadiaan Islam (syaksiyah Islamiyah) yang mulia dan khas senantiasa menghiasi setiap langkah dan keadaan. Syariat Allah dan Rasul-Nya mengakar dan menghujam kuat dalam sanubari. Hingga menjadi kepemimpinan berfikir (qiyadah fikriyah) dalam mengambil setiap keputusan.

Ketakwaan menjadi landasan dalam berperilaku. Sehingga keimanan akan selalu membentengi diri dari perkara yang dimurkai Allah. Kehati-hatian (wara’) adalah perisai malu yang akan menjauhkannya dari perkara syubhat apalagi haram.

Rasulullah saw bersabda:
 “Ada tujuh golongan manusia yang akan dinaungi oleh Allâh dibawah naungan ‘Arsynya pada hari tidak ada naungan selain naungan Allâh Azza wa Jalla (yaitu): imam yang adil; pemuda yang tumbuh dalam ibadah kepada Allâh Azza wa Jalla....” (HR. al-Bukhâri dan Muslim)

  Harusnya pemuda zaman now berkaca pada pemuda tempo dulu. Walaupun jadul tapi revolusioner. Tak sibuk mementingkan egosentris dan eksistensi diri. Tapi mengutamakan kepentingan umat dan kejayaan Islam. Nama mereka harum tertoreh dalam tinta sejarah Islam.

Coba tengok bagaimana sosok Usamah bin Zaid. Beliau diangkat oleh Rasulullah menjadi komandan pasukan dalam penaklukan Syam di usia 18 tahun. Begitupula kisah Zaid bin Tsabit yang gagah berani berjihad di usia 13 tahun. Kemudian diperintahkan untuk menghimpun wahyu di usia 21 tahun. Belajar bahasa Syria dan Ibrani dalam 17 hari dan menjadi penerjemah Nabi.


Sejarah pun mencatat, heroiknya Muhammad al-Fatih Sang Penakluk Konstantinopel. Beliau pun mampu menjadi Sultan di usia muda. Juga, Imam Syafi’i yang telah hafal Al-Qur'an di usia 9 tahun dan menjadi Imam besar peletak dasar ilmu fiqih, serta mazhab Syafiiyah. Sosok Ibnu Sina yang hafal Al-Qur'an di usia 5 tahun dan menjadi Bapak Kedokteran dunia.

Itulah gambaran generasi muda militan Islam terdahulu yang gaungnya masih terdengar hingga kini. Dan tentunya masih banyak sosok gemilang lainnya yang berjaya mengharumkan nama Islam.

Harusnya mereka yang mengaku kalangan millenial dan generasi digital malu jika tidak bisa meneladaninya. Bukankah Sang Penguasa Jagad Raya telah melabeli kita sebagai umat terbaik. Maka, jangan sampai kita menghinakan dan menghambakan diri kita kepada Barat Sang Kapitalisme. Yang justru akan menyesatkan dan menjerumuskan kita. Hanya Islamlah sistem terbaik yang harus kita ikuti dan perjuangkan di muka bumi ini.   Sebagaimana Allah Swt. berfiman:

”Kalian semua adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah."  (TQS. Ali Imran 110)
Wallahu a’lam bish shawab
 
Top