Oleh : Sofia Ariyani, S.S
Muslimah Pegiat Literasi


Hasil tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) yang menangani kasus penyiraman air keras terhadap Novel Baswedan menuai kritik. Lantaran sidang Novel Baswedan, penyidik senior KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) baru mulai digelar, dan hasil persidangannya tak hanya mengecewakan pihak Novel Baswedan tapi juga seluruh masyarakat. Pasalnya, hukuman yang diberikan kepada pelaku hanya 1 tahun penjara. Mengingat betapa fatal tindakan pelaku terhadap penyidik senior pemberantas korupsi ini, mata kiri yang disiramkan air keras oleh pelaku membuat buta permanen dan mata kanannya hanya berfungsi 40 persen saja.

Dilansir oleh merdeka.com, Wakil Ketua Komisi III DPR RI Ahmad Sahroni menyayangkan tuntutan ringan terhadap terdakwa penyerang Novel Baswedan. Dua penyerang Novel hanya dituntut jaksa satu tahun.

"Saya sebagai pimpinan Komisi III DPR menyayangkan keputusan tersebut, tapi masih ada keputusan lain sebelum keputusan final," ujar Sahroni melalui pesan singkat, Jumat (12/6).

"Semoga pengadilan objektif melihat kasus ini dan juga adil dalam proses keadilan," ujar Sahroni. (merdeka.com, 12/06/2020)

Setelah 3 tahun menunggu dengan kondisi penglihatan yang nyaris buta kedua matanya, JPU malah menjatuhkan hukuman penjara 1 tahun terhadap kedua pelaku. Apalagi pekerjaan Novel Baswedan adalah aktivitas mulia, memberantas korupsi, kemaksiatan yang sudah mengurat akar di negeri ini. Maka sungguh mengganggu nalar bagi masyarakat ketika hukuman yang ditetapkan tak setimpal dengan perjuangan dan pengorbanan penggawa KPK ini.

Sepatutnya pemberantas kejahatan tingkat tinggi ini mendapat perhatian dan dukungan dari negara juga masyarakat. Namun hal itu tak seiring sejalan dengan para pemangku kepentingan. Sesiapa yang menjegal kepentingannya tak tanggung-tanggung nyawa pun dapat terancam.

Inilah keadilan yang lahir dari rahim kapitalisme. Ideologi kapitalisme yang telah mengonfirmasi bahwa aturan Tuhan tidak berlaku di ranah publik. Maka mereka meracik aturan sendiri untuk mengatur kehidupan. Undang-undang atau hukum yang dibuat adalah berdasarkan akal manusia yang lemah. Maka wajar undang-undang yang diperuntukkan bagi kehidupan manusia tidak mampu mengatasi berbagai persoalan hidup, apalagi membuat adil di antara sesama.

Selama satu milenium lebih negara Islam berdiri tegak gemilang. Tersebab pilar-pilar keadilan ditegakkan, yaitu syariat-syariat Allah Swt. Karena Islam tak melulu mengatur ranah ibadah ritual, akan tetapi lebih dari itu. Islam mengatur segala lini kehidupan. Pun aspek hukum. Hukum di dalam Islam bukanlah buah dari kepentingan penguasa. Melainkan ia perintah Allah Swt.bagi seluruh kaum muslimin yang harus ditegakkan. Maka makna yang terkandung di dalam jinayat (ditujukan atas penganiayaan terhadap badan), qishash (balasan setimpal), hudud (sanksi-sanksi atas kemaksiatan yang telah ditetapkan kadarnya oleh Allah Swt.) adalah keadilan. Tidak sebagaimana hari ini, keadilan yang adjustable, sesuai dengan kepentingan dan kantong. Bagi mereka yang berkantong tebal maka kebal akan hukuman. Sebaliknya, mereka yang tak mampu membeli keadilan, builah tempatnya.

Pada hal yang menimpa Novel Baswedan selayaknya pelaku mendapat hukuman yang setimpal. Novel Baswedan adalah korban dari tindak penganiayaan berat, karena dianiaya dengan menyiramkan air keras ke wajah yang mengakibatkan mata kirinya buta permanen. Maka hukum Islam akan memberikan qishash (balasan setimpal) atau diyat (denda) terhadap pelaku penganiayaan.

Dan syariat telah menetapkan secara adil dalam firman Allah Swt.,

"Dan Kami telah tetapkan terhadap mereka di (At Taurat) bahwasanya jiwa (dibalas) dengan jiwa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, dan luka luka (pun) ada qishashnya. Barangsiapa yang melepaskan (hak qishash)-nya,  maka melepaskan hak itu (menjadi) penebus dosa yang dikembalikan. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim". (QS. Al Maidah: 45)

Di dalam penetapan qishash terdapat keadilan bagi korban maupun pelaku. Karena di dalam qishash memberikan efek jera (zawajir) dan sebagai penebus (jawabir), dikarenakan uqubat dapat menebus sanksi akhirat. Dalam hal ini seorang muslim yang dijatuhi hukuman qishash di dunia oleh negara maka akan gugur sanksinya di akhirat. Sebagaimana hadis Rasulullah saw.,

Dari ‘Imran bin Hushain Rhadiyallahu 'anhu bahwasannya ada seorang wanita dari (kabilah) Juhainah mendatangi Nabi Muhammad saw. dalam keadaan hamil hasil perzinaan, wanita tersebut berkata: “Wahai Nabiyallah, aku telah melakukan dosa yang patut mendapat hukuman had, maka laksanakanlah (hukuman had tesebut) kepadaku”. Kemudian Nabi Muhammad saw. memanggil walinya (keluarganya) dan berkata “Perlakukanlah  ia dengan baik, jika dia sudah melahirkan, bawalah ia kepadaku”. Kemudian (walinya) melakukannya (melakukan perintah Rasul saw.) Kemudian Nabi saw. meminta untuk menghadirkan wanita tersebut dan menyuruh (orang) untuk mengencangkan bajunya (mengikat kencang bajunya), lalu beliau memerintahkan agar wanita itu dirajam. Rasul pun menyalatinya. Umar ra. berkata “Apakah engkau menyalatinya wahai Rasulallah, padahal ia telah berzina?”, Rasul pun berkata “Dia telah melakukan taubat dengan taubat yang apabila dibagikan kepada 70 penduduk Madinah, niscaya mereka semua akan mendapatkan bagian. Apakah engkau menemukan ada yang lebih baik dari seseorang yang sepenuh hati menyerahkan dirinya kepada Allah Swt.? (HR.Muslim)

Demikianlah keadilan di dalam Islam. Keadilan yang hakiki. Karena berasal dari Sang Maha Pencipta, yang Maha Mengetahui segala sesuatu dari pada manusia yang penuh lalai dan lemah. Bukan keadilan yang mudah dibuat dan dibeli oleh kekuasaan manusia. Dan sistem hukum pidana dalam Islam disyariatkan sebagai bentuk preventif dari tindak kejahatan.

وَلَكُمْ فِى ٱلْقِصَاصِ حَيَوٰةٌ يَٰٓأُو۟لِى ٱلْأَلْبَٰبِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

"Dan dalam qishash itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, hai orang-orang yang berakal, supaya kamu bertakwa." (QS. al-Baqarah: 179)

Sistem sanksi yang adil ini tidak akan kita jumpai dalam alam kapitalis yang penuh intrik kekuasaan. Namun, hanya ada ketika negara menerapkan syariat Islam secara kafah dalam isntitusi Daulah Khilafah Islamiyah. Negara sebagai kepanjangtanganan Asy-Syari' akan tunduk dan patuh pada perintah Allah Swt. Maka keadilan pun akan dirasai oleh seluruh umat manusia.

Wallahu a'lam bishshawab.
 
Top