Oleh: Ummu Dinar

Menurut kajian ilmu ekonomi, pasar merupakan suatu tempat atau proses interaksi antara permintaan (pembeli) dan penawaran (penjual) dari suatu barang atau jasa tertentu.
Peranan pasar disini begitu penting bagi sebagian orang yang berprofesi sebagai pedagang. Karena disitu merupakan tempat mereka menggantungkan rezeki. Guna memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Dimana biaya hidup kian hari kian melambung tinggi.
Apalagi sejak diberlakukan PSBB, tentu pendapatan mereka merosot tajam tidak seperti pada saat normal. Oleh sebab itu ketika wacana "new normal" di berlakukan dengan mulai dibukanya pusat perbelanjaan termasuk pasar tradisiaonal, antusiasme dari para pedagang cukup tinggi. Warga pun mulai datang memadati pasar untuk berbelanja.
Namun, walaupun diberlakukan "new normal" yang berarti kita harus hidup damai serta berdampingan dengan Corona hal itu bukanlah solusi. Justru menambah masalah baru ditengah pendemi yang tak kunjung usai. Bahkan semakin hari angka positif kasus semakin tinggi.
Begitu pula, ada dilema tersendiri bagi para pedagang di pasar -pasar tradisional. Antara ancaman ekonomi atau kesehatan yang tergadai.
Bagaimana tidak, Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (IKPPI) mencatat sebanyak 529 pedagang positif Corona (Covid-19) di Indonesia. Kemudian, di antara ratusan pedagang yang positif corona tersebut sebanyak 29 lainnya meninggal dunia. (okezone.com,12/6/2020).
Hal ini tentu menambah klaster baru penyebaran Covid-19 di Indonesia. Memang pasar adalah tempat yang cukup rawan untuk menjadi klaster penyebaran Corona, sebab di pasar akan banyak orang berkumpul dan berdesakan untuk melakukan transaksi jual beli. Sehingga physical distancing akan sulit diterapkan.
Padahal kebijakan pembukaan pusat perbelanjaan termasuk pasar tradisional hanyalah untuk menyelamatkan roda perekonomian bangsa yang makin macet tak berdaya akibat Covid-19. Hal ini dipengaruhi karena absennya negara dari menjamin kebutuhan warga. Sehingga mereka terpaksa tetap bekerja walaupun nyawa taruhannya.
Sebaran virus Corona yang semakin menjadi di pasar disebabkan para pedagang memang kurang mengindahkan himbauan untuk tetap mematuhi protokol kesehatan.
Selain interaksi yang dilakukan antara penjual dan pembeli juga terjadi pertukan berbagai macam barang. Uang menjadi alat tukar yang sah, dihawatirkan menjadi alat penyebaran virus yang sangat efektif. Karena dengan cepat berpindah dari satu orang kepada oyang yang lain.
Seperti yang disampaikan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor, Mike Kaltarin, Ia mengatakan bahwa petugas gabungan sudah berusaha memberi pengertian kepada massa agar mau diperiksa. Sebab, sejak PSBB proposional parsial diterapkan menuju new normal, semakin banyak masyarakat yang tidak mengindahkan protokol kesehatan untuk pencegahan virus.
Sedangkan antisipasi yang dilakukan pemerintah dengan langsung menurunkan Satuan Tim Gugus Tugas penangan covid -19 untuk melakukan tes dipasar dinilai kurang tepat. Kedatangan mereka justru membawa ketakutan tersendiri bagi para pedagang dan pembeli.
Seperti yang dilakukan ratusan pedagang dan pengunjung pasar di Pasar Cileungsi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, mengusir petugas Covid-19 dari Gugus Tugas Kabupaten Bogor. Dimana insiden itu terjadi pada Rabu (10/6).
Pasalnya mereka tidak melakukan pendekatan secara persuasif kepada para pedagang. Seharusnya pendekatan dilakukan dengan hati - hati dan komunikatif, sehingga para pedagang tidak antipati kepada para petugas.
Masyarakat merasa takut dan terusik dengan kedatangan Tim Gugus Tugas yang ingin melakukan tes disana. Alangkah lebih baiknya bila sedari awal ada komunikasi yang baik antara pihak pasar dan Tim Gugus Tugas.
Apabila pedagang dan pengunjung sudah sama-sama memahami akan himbauan pemerintah untuk tetap menaati protokol kesehatan di tengah kebijakan "new normal" petugas bisa melakukan tes namun tidak langsung datang ke pasar dan dilakukan ditempat itu juga. Sehingga tidak terjadi keributan dengan warga.
Masalah yang kian ruwet yang membelit negeri ini karena pemerintah yang kurang serius dalam mengurusi rakyatnya. Rakyat hanya  bak sapi perah, demi kepentingan pengusaha.
Inkonsistensi dan ketidakseriusan pemerintah dalam menangani kasus sejak awal telah menurunkan kepercayaan masyarakat kepada mereka.
Munculnya penolakan terhadap petugas Covid -19 menunjukkan kualitas kepemimpinan mereka. Padahal kepemimpinan yang benar akan membentuk sinergisitas antara masyarakat dan petugas medis. Serta pemerintah yang merupakan salah satu faktor terpenting dalam menangani wabah.
Dalam sudut pandang Islam, Kepemimpinan yang benar dibangun berdasar paradigma yang sahih. Bahwa kekuasaan adalah alat untuk menerapkan hukum-hukum Allah.
Penguasa memiliki kapasitas sebagai peri'ayah (pelayan dan pengayom) masyarakat.
Rasulullah saw. bersabda:
… ﺍﻹِﻣَﺎﻡُ ﺭَﺍﻉٍ ﻭَ ﻣَﺴْﺆُﻭْﻝٌ ﻋَﻦْ ﺭَﻋِﻴَّﺘِﻪِ
Imam (pemimpin) itu pengurus rakyat dan akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyat yang dia urus (HR al-Bukhari dan Ahmad).
Seharusnya peran negara saat terjadi wabah adalah menentukan tes dan tracing dengan cepat. Menentukan pusat wabah dan menjaga secara ketat agar wabah tidak meluas. Selain itu, Negara hadir secara langsung dalam merawat, mengobati dan melayani orang-orang yang terinfeksi di daerah wabah.
Menjamin semua kebutuhan dasar didaerah yang diisolasi. Menjaga wilayah lain yang tidak masuk zona, tetap produktif. Memperkuat dan meningkatkan sistem kesehatan meliputi fasilitas kesehatan, obat - obatan dan Sumber Daya Manusia (SDM).
Selain itu negara juga harus tetap mengedukasi masyarakat untuk tetap menaati protokol kesehatan yang telah ditetapkan. Dengan dorongan ketakwaan kepada Allah Swt.
Karena dengan keimanan dan ketakwaan kepada Allah Swt masyarakat yang ditimpa wabah akan sabar menghadapi cobaan dan tidak putus asa. Dengan dorongan keiman pula masyarakat akan saling membantu.
Memberlakukan sanksi yang tegas, juga perlu dilakukan negara kepada siapa saja yang melanggar kebijakan yang diambil, seperti tidak patuh pada prokes dan sebagainya. Sebab bila ada yang melanggar dia telah mendzalimi diri sendiri dan orang lain.
Masyarakat wajib patuh kepada pemerintah sebab dalam Islam ini diperintahkan Allah Swt dalam firmanNya:
“Hai orang-orang yang beriman, ta’atilah Allah dan ta’atilah Rasul, dan ulil amri diantara kamu (TQS. An. Nisa’ [4]: 59).
Wallahu'alam bishawab.

 
Top