Oleh : Nisa Revolter
Praktisi Pendidikan

Akan datang suatu masa dimana kezaliman akan terpatahkan oleh kebenaran. Pada suatu masa dimana kejahatan akan sirna oleh kebaikan. Saat itu segala tipu daya tiada berguna sama sekali. Sebab ada Sang Maha Pengatur Tipu Daya berperan.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
"Dan demikianlah pada setiap negeri Kami jadikan pembesar-pembesar yang jahat agar melakukan tipu daya di negeri itu. Tapi mereka hanya menipu diri sendiri tanpa menyadarinya." (QS. Al-An'am : 123)

"Dan mereka (orang-orang kafir) membuat tipu daya, maka Allah pun membalas tipu daya. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya." (QS. Ali 'Imran : 54)

Sebagai seorang muslim tentu kita mengambil banyak pelajaran dari kisah para rasul. Sejak manusia diciptakan oleh Allah, turut bersama aturan yang mengaturnya. Aturan itulah yang dijadikan petunjuk. Diberikan melalui para rasul untuk disampaikan kepada umatnya.

Apakah seluruh manusia menerima? Ternyata tidak, hanya sebagian kecil saja yang mau mengikuti petunjuk para rasul, kebanyakan menolak. Tak hanya menolak, bahkan mereka mengecam, memberikan stigma negatif, hingga berani membunuh para nabi.

Sering kita mendengar sejarah selalu berulang, hanya berganti orang tapi memainkan peran yang sama. Benar saja, seperti penyiksaan yang didapatkan oleh Rasulullah Muhammad saw., ketika menyampaikan risalah Islam kala itu, tak semudah sekarang. Rasulullah pernah dicaci, dilempari kotoran hewan, bahkan mau dibunuh oleh kaum kafir Quraisy.

Begitu juga ternyata yang dialami para rasul sebelum Muhammad saw. hadir di dunia. Semuanya telah tercatat dalam kitab Allah, kitab yang tiada keraguan di dalamnya. Ketika Nabi Syu'aib menyeru kepada umatnya, penduduk Madyan untuk menghentikan perbuatan curang dan kembali taat kepada Allah.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
"Dan kepada (penduduk) Madyan (Kami utus) saudara mereka, Syuaib. Dia berkata, “Wahai kaumku! Sembahlah Allah, tidak ada Tuhan bagimu selain Dia. Dan janganlah kamu kurangi takaran dan timbangan. Sesungguhnya aku melihat kamu dalam keadaan yang baik (makmur). Dan sesungguhnya aku khawatir kamu akan ditimpa azab pada hari yang membinasakan (Kiamat)."

"Dan wahai kaumku! Penuhilah takaran dan timbangan dengan adil, dan janganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-hak mereka dan jangan kamu membuat kejahatan di bumi dengan berbuat kerusakan."

"Sisa (yang halal) dari Allah adalah lebih baik bagimu jika kamu orang yang beriman. Dan aku bukanlah seorang penjaga atas dirimu."

"Mereka berkata, “Wahai Syuaib! Apakah agamamu yang menyuruhmu agar kami meninggalkan apa yang disembah nenek moyang kami atau melarang kami mengelola harta kami menurut cara yang kami kehendaki? Sesungguhnya engkau benar-benar orang yang sangat penyantun dan pandai."

"Dia (Syuaib) berkata, “Wahai kaumku! Terangkan padaku jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Tuhanku dan aku dianugerahi-Nya rezeki yang baik (pantaskah aku menyalahi perintah-Nya)? Aku tidak bermaksud menyalahi kamu terhadap apa yang aku larang darinya. Aku hanya bermaksud (mendatangkan) perbaikan selama aku masih sanggup. Dan petunjuk yang aku ikuti hanya dari Allah. Kepada-Nya aku bertawakal dan kepada-Nya (pula) aku kembali."

"Dan wahai kaumku! Janganlah pertentangan antara aku (dengan kamu) menyebabkan kamu berbuat dosa, sehingga kamu ditimpa siksaan seperti yang menimpa kaum Nuh, kaum Hud atau kaum Saleh, sedang kaum Luth tidak jauh dari kamu."

"Dan mohonlah ampunan kepada Tuhanmu, kemudian bertobatlah kepada-Nya. Sungguh, Tuhanku Maha Penyayang, Maha Pengasih.”

"Mereka berkata, “Wahai Syuaib! Kami tidak banyak mengerti tentang apa yang engkau katakan itu, sedang kenyataannya kami memandang engkau seorang yang lemah di antara kami. Kalau tidak karena keluargamu, tentu kami telah merajam engkau, sedang engkau pun bukan seorang yang berpengaruh di lingkungan kami.”"

"Dia (Syuaib) menjawab, “Wahai kaumku! Apakah keluargaku lebih terhormat menurut pandanganmu daripada Allah, bahkan Dia kamu tempatkan di belakangmu (diabaikan)? Ketahuilah sesungguhnya (pengetahuan) Tuhanku meliputi apa yang kamu kerjakan."

"Dan wahai kaumku! Berbuatlah menurut kemampuanmu, sesungguhnya aku pun berbuat (pula). Kelak kamu akan mengetahui siapa yang akan ditimpa azab yang menghinakan dan siapa yang berdusta. Dan tunggulah! Sesungguhnya aku bersamamu adalah orang yang menunggu.”

"Maka ketika keputusan Kami datang, Kami selamatkan Syuaib dan orang-orang yang beriman bersamanya dengan rahmat Kami. Sedang orang yang zalim dibinasakan oleh suara yang mengguntur, sehingga mereka mati bergelimpangan di rumahnya,"

"Seolah-olah mereka belum pernah tinggal di tempat itu. Ingatlah, binasalah penduduk Madyan sebagaimana kaum Tsamud (juga) telah binasa." (QS. Hud : 84-95)

Dari ayat-ayat tersebut kita belajar bahwa sesungguhnya apa yang diinginkan para nabi dan rasul tersebut bukanlah untuk harta atau kedudukan, melainkan taat dan tunduk hanya kepada Allah semata. Demikianlah apa yang dilakukan Nabi Syuaib terhadap kaum Madyan. Namun, respon mereka justru berkebalikan. Penduduk Madyan merencanakan merajam Nabi Syuaib. Sebab kesombongannya, kaum Madyan dibalas tunai oleh Allah, binasa sebagaimana kaum sebelumnya.

Kaum Madyan bukanlah orang biasa, tentu mereka hidup bergelimang harta, tak pernah sedikitpun merasa kekurangan. Namun kesombongan yang menjadikan mereka lumpuh tak berdaya. Kedigdayaan percuma di hadapan Sang Maha Digdaya. Begitulah Allah memberikan peringatan agar dijadikan pelajaran oleh umat manusia.

"Dan betapa banyak umat yang telah Kami binasakan sebelum mereka, (padahal) mereka lebih hebat kekuatannya daripada mereka (umat yang belakangan) ini. Mereka pernah menjelajah di beberapa negeri. Adakah tempat pelarian (dari kebinasaan bagi mereka)?"

"Sungguh, pada yang demikian itu pasti terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya." (QS. Qaf : 36-37)

Ciri yang dibinasakan oleh Allah jelas dalam ayat tersebut. Pertama, "lebih hebat". Kekuatan militer yang tangguh dan kekuasaan wilayah yang luas sangat lekat dengan ciri yang dimaksud. Kedua, "menjelajah di beberapa negeri", maksudnya kekayaannya membentang sepanjang wilayah lengkap dengan aneka arsitek yang sarat akan kekuasaan.

Tentu ciri tersebut tak hanya dimiliki kaum Madyan di masa dulu, di masa Rasulullah saw. pun ketika menyerukan Islam di Makkah, hegemoni kafir Quraisy mendominasi kota Makkah. Lalu ketika Rasulullah saw. menyerukan Islam kepada mereka, semua mengabaikan kecuali sedikit dari kalangan mereka yang menerima.

Upaya menghancurkan risalah Islam oleh kafir Quraisy dengan kekuatannya agar orang-orang meninggalkan agama Islam justru tak berarti apa-apa. Penduduk Makkah berbondong-bondong memeluk agama Islam. Apakah kaum kafir Quraisy tak punya kekuatan? Tentu pengaruh mereka sangat besar, tapi sekali lagi akan percuma jika hanya untuk menolak bahkan menentang agama Allah.

Begitu juga di masa sekarang, ketika hegemoni kapitalisme, dimana para pengembannya menunjukkan kedigdayaannya. Lambat laun akan binasa sebab mengingkari bahkan mengabaikan perintah Allah.

Kapitalisme dengan asasnya memisahkan agama dari kehidupan, jelaslah agama dimarginalkan dalam mengurus umat. Aturan yang diambil jauh dari Islam. Padahal mayoritas pengembannya adalah umat muslim. Lihat saja, di luar sana identitas muslimah tapi tak menutup aurat, muslim tapi salat wajib pun tak pernah, muslim tapi membuka Al-Qur'an pun enggan, apalagi mengamalkannya. Bahkan Al-Qur'an dijadikan bahan lelucon.

"Sungguh, orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah diturunkan Allah, yaitu Kitab, dan menjualnya dengan harga murah, mereka hanya menelan api neraka ke dalam perutnya, dan Allah tidak akan menyapa mereka pada hari Kiamat, dan tidak akan menyucikan mereka. Mereka akan mendapat azab yang sangat pedih." (QS. Al-Baqarah : 174)

"Sesungguhnya orang-orang yang mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa hak (alasan yang benar) dan membunuh orang-orang yang menyuruh manusia berbuat adil, sampaikanlah kepada mereka kabar gembira yaitu azab yang pedih." (QS. Ali 'Imran : 21)

Demikianlah ketika telah sampai kepada mereka aturan Allah melalui lisan mulia para nabi dan rasul, maka tiada jalan lain kecuali taat. Hendaknya kisah lampau dijadikan pelajaran akan kehancuran yang didapatkan akibat penentangan terhadap Allah dan menolak perintah-Nya. Betapa mudahnya Allah meluluhlantakkan siapa saja penentang-Nya dan yang menjadikan utusan-Nya sebagai bahan olokan. Bukankah kehancuran ini menunjukkan betapa lemahnya manusia di hadapan Allah sekalipun memiliki kekuasaan seluas langit dan bumi? Maka mengapa masih ingkar?

Wallahu a'lam bishshawab.
 
Top