Oleh : Depi Fitriyani (Member Akademi Menulis Kreatif)

Sobat fillah, tidak terasa sudah beberapa bulan kita menjalini kehidupan di tengah pandemi Covid-19. Semua aktivitas di luar harus terhenti dan tidak bebas lagi mau kesana dan kesini.

Biasanya dari pagi sampai sore dihabiskan untuk sekolah, kerja atau kegiatan di luar dan lainnya serta pulang di hari yang sudah gelap. Kebiasaan itu yang dilakukan sebelum wabah Covid-19 melanda negeri ini. 

Sekarang kita hanya bisa diam di rumah, sekolah dari rumah, kerja dari rumah dan ibadah pun di rumah saja. Bagaimana perasaan kita selama menjalani masa-masa itu?

Pasti terselip rasa bosan. Selama pandemi hanya bisa berdiam di rumah saja. Tidak bisa bertemu teman, main bareng teman, belajar bareng teman dan kumpul bareng orang-orang terkasih.

Mau bagaimana lagi, ini sungguh di luar kuasa kita sebagai manusia. Kita berharap kemarin bisa salat tarawih di masjid, tadarusan, salat ied berjemaah di masjid, dan silaturahmi bersama sanak saudara. Ternyata Allah berkata lain, hingga semua itu terjadi. Sangat berbeda dari tahun sebelumnya.

Pandemi yang terjadi saat ini adalah salah satu ujian dari Allah subhanallahu wa ta'ala. Tentu tidak semua manusia memiliki respon yang sama dalam menghadapi ujian ini. 

Diibaratkan ujian menghadapi ujian sekolah. Ketika sudah diumumkan ujian pekan depan. Pasti tidak semua siswa responnya sama. Ada yang menyambutnya dengan gembira, karena ia telah belajar sungguh-sungguh untuk mempersiapkan ujian itu. Dan ada pula yang marah dan menggerutu "Kok cepat banget sih ujiannya, kan aku belum siap."

Begitulah dalam hidup ini. Kita tidak akan mengetahui apa yang akan terjadi besok ataupun lusa. Kehidupan ini bagaikan sebuah misteri yang tidak mampu kita tebak. 

Bagi orang-orang yang beriman ujian bak tamu istimewa. Ketika ia datang, tidak ada rasa marah ataupun murka terhadap ujian itu. Karena ia paham ini adalah bagian dari qadha (ketetapan) Allah. 

Terkadang kita tidak sadar suka marah dan jengkel kalau diberikan ujian sama Allah. Jika kita marah dan merasa tidak senang terhadap qadha Allah, haram hukumnya.

Al-Qirafi menuturkan dalam ad-Dakhirah adanya ijma (kesepakatan) atas keharaman marah terhadap qadha dari Allah. 

Keharaman marah terhadap qadha ini ditunjukkan oleh hadis dari Mahmud bin Lubaid bahwa Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda :
"Sesungguhnya jika Allah akan mencintai suatu kaum, maka Dia akan memberikan ujian kepada mereka. Barangsiapa yang bersabar, maka kesabaran itu bermanfaat baginya. Dan barangsiapa marah (tidak sabar) maka akan kemarahan itu akan kembali kepadanya." (HR. Ahmad dan at-Tirmidzi)

Luar biasa balasan jika kita mampu bersabar terhadap qadha dari Allah, termasuk pula ketika munculnya pandemi ini.

Yakinlah jika Allah sedang menguji keimanan kita. Bagaimana sikap kita dalam merespon ujian ini, tentu akan dinilai oleh Allah. 

Begitu banyak waktu luang selama pandemi. Terus sabar dan nikmati saja waktu-waktu istimewa ini. Dan pastinya harus kita manfaatkan untuk kegiatan yang positif. 

Jadi, terus tebarkan kebaikan meski hanya dari rumah. Insyaallah akan bernilai ibadah di mata Allah, dilandasi dengan niat yang ikhlas.

Wallahu a'lam bishshawab.
 
Top