Oleh: Fitriani, SKM
Aktivis Dakwah Kampus


Lagi-lagi Covid-19 menjadi trend topik utama yang menggemparkan dunia termasuk Indonesia. Hal ini berdampak pada semua lini kehidupan, sosial, ekonomi, kesehatan, dan pendidikan. Belum lagi semua aktifitas serba di rumah, dari sekolah, bekerja hingga beribadah di rumah.
Akibat pandemi ini juga  pekerja yang di PHK, banyak pula pengangguran yang terjadi, dan banyak pula perusahaan-perusahaan yang tutup akibat pandemi ini. Sehingga ini menjadi salah satu faktor melemahnya perekonomian negara. Maka dari itu, pemerintah mengambil keputusan untuk menanggulangi dampak Pandemi Corona alias Covid-19 dan melindungi perekonomian nasional dengan cara berhutang.
Untuk memenuhi dana tersebut, salah satunya pemerintah melebarkan defisit anggaran  pendapatan dan belanja negara (APBN) tahun 2020 ke level 6,27% terhadap produk domestik bruto (PDB). Defisit anggaran yang melebar ke 6,27% itu setara Rp 1.028,5 triliun terhadap PDB. Untuk memenuhi itu, pemerintah rencananya akan menerbitkan utang baru sekitar Rp 990,1 triliun. Berdasarkan draf kajian Kementerian Keuangan mengenai program pemulihan ekonomi nasional yang diperoleh detikcom, pemerintah hingga saat ini sudah menerbitkan  surat utang negara (SUN) senilai Rp 420,8 triliun hingga 20 Mei 2020. (detik.com, 28/05/2020).
Bukan hanya itu, masyarakat digempur dengan daging ayam dari luar negeri akibat pemerintah kalah di WTO. Hal.ini semakin menambah serbuan barang impor. Akibat gempuran barang impor, tidak sedikit industri gulung tikar dan menimbulkan pengangguran. Maka rakyat semakin tercekik. Pajak terus bertambah belum lagi rakyat harus menanggung pembiayaan BPJS yang semakin besar. Di sisi lain sumber daya alam sebagian dikuasai swasta dan asing. Pendek kata negeri ini dikepung oleh masalah yang tidak tahu ujung nya.Disisi lain pemerintah pemerintah malah memperlebar defisit APBN. Dengan dalih pembangunan.
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan penambahan utang tentu bukan tanpa alasan. Hal ini karena kebutuhan belanja negara memang terus meningkat dari tahun ke tahun. Sementara pundi-pundi penerimaan negara tidak bisa menutup 100 persen kebutuhan belanja. Walhasil, pemerintah perlu menarik utang. Pemerintah pun berdalih semua itu dilakukan untuk memastikan pembangunan dan pelayanan terhadap masyarakat bisa dijamin oleh negara. "Pertambahan utang adalah hasil dari keseluruhan desain kebijakan fiskal kami. Ini agar masyarakat miskin bisa dilindungi ketika ekonomi terkena guncangan," ujar Sri Mulyani beberapa waktu lalu(strategi.id, 15/02/2019).
Tetapi kenyataannya pembangunan dan pemberantasan kemiskinan jauh dari kata sejahtera. Hutang makin melebar, masyarakat semakin miskin, pengangguran dimana-mana sesaat terjadinya wabah banyak yang di PHK untuk mempertahankan ekonomi perusahaan, agar tidak mencapai kerugian sehingga jalan alternatif yang diambil adalah  memangkas pekerja nya.
Berdasarkan data dari Kementerian Pembangunan Perencanaan Nasional (PPN)/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) memproyeksikan bahwa jumlah pengangguran di Indonesia akan bertambah 4,22 juta orang pada 2020. Sementara jumlah penduduk miskin pada akhir 2020 diperkirakan akan bertambah 2 juta orang dibandingkan data  September 2019.(pikiran-rakyat, 12/05/2020).
Sungguh hal ini sangat memprihatikan ditambah lagi dengan hutang negara yang tidak tahu kemana digunakan. Kesejahteraan tidak didapat oleh masyarakat bawah. Berdalih dengan alasan pembangunan-pembangunan yang sejatinya pembangunan tersebut malah menjadi beban negara dan rakyat Indonesia. Pembangunan yang belum jelas arah dan tujuan nya. Jokowi pernah mengatakan kebijakan yang sengaja menggenjot pembangunan infrastruktur dilakukan karena Indonesia sudah ketinggalan jauh dari negara-negara tetangga dalam  hal penyediaan infrastruktur dasar. Selain itu, infrastruktur merupakan kunci untuk bisa mendorong pertumbuhan industri hingga ekonomi nasional. (cnnindonesia, 15 /02/2019)
Negara Maju adalah Negara yang Taat Syariat
Negara maju adalah sebutan yang relatif tinggi melalui teknologi dan ekonomi yang merata. Jika kita membahas data dan fakta yang terjadi saat ini penetapan menjadi negara yang maju atau pun negara yang sejahtera bukan dari pinjaman hutang, untuk membangun infrastruktur,  berupa  gedung besar ataupun memperbaharui jalan dan transfortasi masuk keluarnya negara asing. Gedung-gedung besar, menara tertinggi. 
Memang tidak bisa dipungkiri sebuah  negara pastinya membutuhkan kestabilan perekonomian untuk mempertahankan negaranya, perlu pembaharuan agar negaranya terlihat bagus dimata negara tetangga. Tetapi kita lupa bahwa negara yang pembangunannya elit belum menjamin kesejahteraan umat, negara yang kita lihat adidaya belum tentu didalam nya menunjukkan perilaku yang baik, justru jika kita berguru kepada Amerika yang katanya adalah negara adidaya ternyata menyimpan potret buram yang tidak bisa disangkal. Pergaulan bebas, pembunuhan, kekerasan, LGBT semuanya menjadi budaya di sana.
Demikian juga dengan negara Korea Selatan yang kita pandang adalah negara yang luar biasa, ketaatanya pada kebijakan penguasa, dan pertumbuhan ekonomi terbesar ke-11 di dunia ternyata juga menjadi negara dengan tingkat bunuh diri yang tinggi.
Tercatat bahwa rasio bunuh diri terbesar 28,1 dari 10.000 penduduk.
Kita lupa bahwa berhasilnya suatu 
negara bukan hanya dilihat dari bangunan infrastruktur dan majunya perekonomian saja, tetapi juga mampu mencetak manusia-manusia beradab taat syariat serta melahirkan generasi unggul. Menjadikan Islam sebagai ideologi bukan sistem demokrasi yang mengadopsi kapitalisme, memperkaya diri. Sistem  kapitalisme melahirkan penguasa yang harus balas budi  kepada pemilik modal yang telah mengucurkan danaa guna duduk di kursi kekuasaan. Maka solusi dari permasalahan yang tak kunjung usai adalah dengan kembali kepada hukum Allah. Karena jelas dan nyata bahwa hanya Islam dan seperangkat aturannya  yang mampu membuka keberkahan dan kebaikan untuk manusia.
Sudah saat nya kita berbenah diri dan menjadikan Islam satu-satunya solusi yang mampu menyelesaikan permasalahan umat. Sebagaimana sabda Rasulullah, saw. “Sesungguhnya manusia yang paling dicintai oleh Allah pada hari kiamat dan paling dekat kedudukan nya di sisi Allah adalah pemimpin yang adil. Sedangkan orang yang paling dibenci oleh Allah dan paling jauh kedudukannya dari Allah adalah seorang pemimpin yang zalim (HR  at- Tirmidzi).
Wallahua’lam bish shawab

 
Top