Oleh : Verawati, S.Pd
(Pegiat Opini Islam)

"Bisakah kita benar-benar percaya kalau anak-anak tidak akan mengucek mata atau memegang hidung dan mulutnya selama di sekolah? Bisakah kita memastikan anak akan tetap jaga jarak 1,5 meter saat jam istirahat karena mereka sedang excited ketemu satu sama lain? Lalu siapkah guru-guru mengawasinya?" Ini kutipan dari curhatan Ibu Watik dalam laman Facebooknya. Curhatannya tersebut jadi viral dan kemudian dia membuat petisi untuk menunda masuk sekolah. Hal yang senada disampaikan pula oleh Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Retno Listyarti meminta Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dan Kementerian Agama (Kemenag) terus mengkaji langkah pembukaan sekolah pada 13 Juli 2020. (okezone.com, 27 mei 2020)

Pastinya, bukan hanya Ibu Watik yang merasa cemas akan kondisi anaknya bila sekolah dibuka kembali. Ibu-ibu dan orang tua lainnya juga termasuk saya sebagai guru dan orang tua memiliki perasaan yang sama. Pasalnya, kasus penyebaran virus Corona terus meningkat. Bahkan sudah banyak menyerang balita dan anak-anak. Dilansir oleh detiknews.com, 24/5/2020, IDAI mengungkapkan hingga 18 Mei sebanyak 3.324 anak, 129 anak berstatus PDP meninggal, 584 anak terkonfirmasi positif Covid-19, dan 14 anak meninggal akibat Covid-19. Temuan tersebut menunjukkan, bahwa tidak benar anak tidak rentan terhadap Covid-19.

Data-data tersebut menunjukkan bahwa tidak benar rumor yang mengatakan bahwa Covid-19 tidak menyerang anak. Justru jumlah anak-anak yang terserang terus bertambah dan bila dibandingkan dengan kasus di luar negeri, Indonesia memiliki posisi paling banyak. Jika masih masa PSBB saja demikian banyaknya lalu bagaimana bila sudah masuk sekolah? Menurut Retno jika hal itu dilakukan pemerintah dengan penerapan new normal, maka bisa dipastikan sekolah akan menjadi kluster baru penyebaran Covid-19.

Keselamatan jiwa Harus Lebih Diutamakan

Bosan di rumah terus, kangen sama teman dan guru, kurang efektif kalau belajar di rumah adalah sebagian alasan yang dilontarkan oleh para orang tua dan juga murid. Akan tetapi, bahwa keselamatan jiwa harus lebih dahulu diutamakan. Menunda masuk sekolah hingga wabah berakhir adalah pilihan tepat untuk menjaga keselamatan jiwa. Terus bersabar adalah sikap yang harus dimiliki sebagaimana perkataan bijak
“Siapa saja yang menyadari bahwa setiap bencana (musibah) pasti akan berakhir, ia akan benar-benar sabar saat bencana itu turun.“ (Imam al-Mawardi, Adab ad-Dunya’ wa ad-Din, 1/370)

Perkataan tersebut di atas, hendaknya kita miliki. Bersabar bukanlah pasrah, tetapi menerima dan berbuat untuk menjadi lebih baik lagi. Untuk saat ini, orang tua, anak dan juga guru harus bersabar dengan pembelajaran jarak jauh. Pendidikan karakter bisa lebih diupayakan dengan memberikan materi-materi keagamaan. Seperti  memperbanyak membaca Al-Qur'an dan wawasan seputar agama. Hal ini akan menguatkan keimanan juga ketakwaan kepada Allah Swt. Bahkan justru sangat dibutuhkan oleh semua orang termasuk anak-anak dalam menghadapi wabah saat ini. Beban pelajaran yang ringan tapi mendalam, karena membahas sesuatu yang penting akan memberikan imunitas pada anak. Seperti sejarah Nabi, keimanan dan lain-lain.

Para Kapitalis di Balik New Normal

Dengan kebijakan new normal yang terkesan dipaksakan saat ini, sebenarnya lebih berpihak pada para pemilik modal (kapitalis). Mereka hampir kolap. Selain itu, sebenarnya kebijakan new normal ini adalah secara halus pemerintah menerapkan herd immunity (kekebalan kelompok). Hal Ini juga menunjukkan, bahwa pemerintah berlepas tangan pada pemenuhan kebutuhan rakyatnya. Sebab, dengan diterapkannya kebijakan new normal pemerintah tidak akan memberikan lagi bantuan-bantuan sosial atau langsung tunai pada masyarakat. 

Sedari awal, pemerintah telah menunjukkan ketidakseriusan menangani kasus Covid-19. Masyarakat dibiarkan sendiri menghadapi wabah ini. Mulai langkanya masker dan handsanitizer hingga para tenaga medis yang kesulitan mendapatkan APD. Jika pemerintah memang betul serius menyelesaikan Covid-19. Maka, seharusnya pemerintah memberlakukan lockdown untuk wilayah yang terkena Covid-19. Menutup pintu masuk dan keluar negeri. Kemudian pemerintah menyuplai semua kebutuhan wilayah tersebut. Sedangkan wilayah-wilayah lainnya yang tidak terkena bebas bekerja dan beraktivitas serta dapat membantu wilayah yang sedang dilockdown tersebut.  

Hal ini sebagaimana dilakukan oleh Amru bin Ash ketika menangani wabah Thaun di Palestina. Menutup Pintu masuk dan keluar wilayah tersebut serta memberlakukan sosial distancing. Khalifah Umar yang saat itu menjabat kepala negara, memberikan bantuan khusus wilayah tersebut, semua kebutuhan masyarakatnya dijamin hingga wabah berakhir. 

Akhirnya dengan sangat jelas kita bisa melihat. Bahwa dalam sistem kapitalis saat ini, para penguasanya tidak benar-benar melindungi kesehatan bahkan nyawa rakyatnya. Hanya demi kepentingan ekonomi (para pemilik modal), mereka rela nyawa rakyatnya banyak yang melayang. Maka sudah saatnya masyarakat sadar, selama kehidupan ini diatur oleh sistem kapitalis, kehidupan ini akan berjalan dengan ketimpangan dan kesulitan. Selanjutnya menggantinya dengan sistem yang menjaga dan melindungi jiwa serta menjamin kesejahteraan hidup yakni sistem Islam. Masyarakat butuh new system bukan new normal.

Wallahu a’lam bishshawab.
 
Top