Oleh : Ariefdhianty Vibie 
(Ibu Rumah Tangga dan Aktivis Dakwah)

Ramadan telah berlalu, menyisakan duka dan haru bagi para warga terdampak pandemi Covid-19. Bagaimana tidak? Di tengah kungkungan keterbatasan, kebutuhan hidup pun sulit untuk dipenuhi. Pemerintah tidak bisa optimal untuk menyediakan kebutuhan rakyatnya, sehingga rakyat tetap turun tangan berjibaku untuk bisa bertahan hidup, terlepas dari ancaman corona.

Hari Raya Idul Fitri di tengah keterbatasan adalah satu-satunya pilihan. Tidak berjabat tangan dan berpelukan dengan keluarga terkasih, bahkan tidak bersua dengan sanak saudara nan jauh di sana. Beginilah kondisi Ramadan dan Idul Fitri yang sangat jauh berbeda dengan kondisi sebelumnya.

Presiden Jokowi berpesan dalam acara ‘Takbir Virtual Nasional dan Pesan Idul Fitri dari Masjid Istiqlal’ pada Sabtu, 23 Juni 2020 yang lalu. "Jika Allah benar-benar menghendaki dan jika kita bisa menerimanya dengan ikhlas dan dalam takwa dan tawakal, sesungguhnya hal tersebut akan membuat berkah, membuahkan hikmah, membuahkan rezeki dan juga hidayah," kata Jokowi. (nasional.tempo.co, 23/06). Pesan tersebut juga didukung oleh pernyataan yang sama dari Wakil Presiden, Ma’ruf Amin, "Kalau beriman dan bertakwa pasti Allah turunkan kesuburan, kemakmuran, keamanan, keselamatan dan dihilangkan berbagai kesulitan. Itu adalah janji Allah di dalam Al-Quran," ujarnya seperti dikutip dari situs tempo.co.

Sudah diketahui oleh setiap hamba yang beriman, bahwa tujuan dari puasa Ramadan adalah demi mewujudkan takwa, seperti firman Allah Swt. dalam surat al-Baqarah ayat 183 yang artinya, "Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa." Maka berpuasa serta merayakan Idul Fitri di tengah pandemi Covid-19 ini seharusnya semakin menumbuhkan ketakwaan, baik itu dalam tataran individu, masyarakat, maupun negara. 

Ketakwaan dan tawakal tidak bisa hanya diungkapkan dengan lisan saja, melainkan dengan niat serta amal perbuatan nyata. Ibnu Qayyim berkata, “Hakikat takwa adalah menaati Allah atas dasar iman dan ihtisab, baik terhadap perkara yang diperintahkan ataupun perkara yang dilarang. Oleh karena itu, seseorang melakukan perintah itu karena imannya, yang diperintahkan Allah disertai dengan pembenaran terhadap janji-janji-Nya. Dengan imannya itu pula, ia meninggalkan yang dilarang Allah dan takut terhadap ancaman-Nya. Orang beriman akan senantiasa berusaha mewujudkan ketakwaan di situasi apapun, yaitu dengan mengamalkan segala perintah Allah serta menjauhi apa yang dilarang-Nya. Pandemi ini harus kita ambil hikmah dan pelajarannya untuk bersegera menuju perintah Allah yaitu menerapkan segala syariat-Nya yang belum terlaksana. Bisa jadi, pandemi ini adalah ujian atau bahkan hukuman bagi manusia yang tidak taat. Oleh karena itu, sertakan taubat menuju ketakwaan ini, serta buktikan ketakwaan kita dengan berjuang di jalan agama Allah serta menerapkan seluruh aturan-Nya.

Selain berusaha mewujudkan ketakwaan, kaum muslim pun mesti bersikap tawakal terhadap segala ketentuan yang sudah Allah turunkan, termasuk adanya pandemi ini. “Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan memberikan baginya jalan keluar (bagi semua urusannya). Dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (segala keperluan) nya,” (QS. ath-Thalaaq : 2-3). Maka tawakal yang benar, menjadi faktor utama berhasilnya usaha seorang hamba, baik dalam urusan dunia maupun agama, bahkan menjadi datangnya kemudahan dari Allah Ta’ala bagi hamba tersebut untuk meraih segala kebaikan dan perlindungan dari segala keburukan.

Sikap tawakal yang dibarengi dengan usaha sungguh-sungguh untuk mewujudkan ketakwaan akan mendatangkan kebaikan dan pertolongan dari Allah. Oleh karena itu, baik kita maupun pemerintah (sebagai pengurus rakyat) sudah seharusnya bersama-sama mewujudkan ketakwaan dan tawakal ini, apalagi semangat Ramadan masih terasa panas. Maka dari itu, bersegeralah menuju pertolongan Allah dengan menerapkan aturan-aturan-Nya.

Wallahu a'lam bishshawab.
 
Top