Oleh : Ummu Adi
Kontributor media Lenteranyahati


(یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ كُتِبَ
 عَلَیۡكُمُ ٱلصِّیَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِینَ مِن قَبۡلِكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ)

"Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa."
(QS. al-Baqarah 183)

Ayat di atas menyebutkan bahwa hasil dari ibadah puasa adalah takwa, atau keadaan diri dalam keimanan yang tinggi karena ampunan Allah di malam-malamnya, sehingga Allah menjadikannya benteng penghalang antara kemaksiatan dengan ibadah dan ketaatan hanya karena Allah Swt semata.

Ramadhan kita tahun ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Dimana kondisi wabah corona di negeri ini masih juga belum berakhir meskipun sudah berjalan hampir setengah tahun. Padahal sebelumnya kita berharap bahwa wabah ini hilang seiring datangnya bulan maghfirah sebagaimana kisah masa sahabat dahulu. Namun faktanya tidak, walaupun ramadhan kini berlalu wabah masih terus menghantui. Kebijakan new normal yang dikeluarkan penguasa pun mendapatkan banyak kritikan, karena malah membuat masyarakat resah disebabkan kondisi pandemi yang tidak jelas.

Adakah yang salah dengan kita dan negeri ini yang membuat Sang Pencipta makhluk enggan mengangkatnya?
Bagaimanakah seharusnya menghentikan wabah ini dengan takwa? 

Dalam sambutan presiden pada acara 'Takbir Virtual Nasional dan Pesan Idul Fitri dari Masjid Istiqlal' pada Sabtu, 23 Mei 2020. Beliau mengatakan.

"Jika Allah benar-benar menghendaki dan jika kita bisa menerimanya dengan ikhlas dan dalam takwa dan tawakal, sesungguhnya hal tersebut akan membuat berkah, membuahkan hikmah, membuahkan rezeki, dan juga hidayah," kata Jokowi.

Indah sekali sambutannya, pesannya penuh ajakan keimanan kepada ketentuan Allah Swt, agar rakyat bisa ikhlas menerima segala kondisi sekarang dengan takwa dan tawakal, dan hasil dari keimanan dan takwa pun tak lepas disampaikan oleh wakil presiden juga, beliau mengatakan.

"Kalau beriman dan bertakwa pasti Allah turunkan kesuburan, kemakmuran, keamanan, keselamatan dan dihilangkan berbagai kesulitan. Itu adalah janji Allah di dalam Al-Quran," kata Ma'ruf.

Tak ada yang salah dari lisan-lisan mereka, tapi yang bermasalah adalah saat ayat-ayat tersebut dijadikan tameng atas ketidakbecusan mereka mengurusi urusan rakyat. Mereka mengatakan itu seakan-akan hendak melepaskan tanggung jawabnya sebagai pemimpin ummat atas nama keimanan terhadap qadha.

Tidakkah mereka tahu makna iman, takwa dan tawakal yang keluar dari lisan mereka itu membutuhkan bukti, bukan sekedar pemanis belaka? Ulama sepakat bahwa makna iman itu diucapkan dengan lisan, diyakini dalam hati dan dibuktikan dengan perbuatan. Faktanya, itu cuma pemanis bibir semata karena setiap mereka ditawarkan syariat Tuhannya sebagai solusi, mereka menolak dengan berbagai macam alasan sampai membuat mereka terjebak sendiri dalam kesesatan berfikir.

Sedangkan takwa adalah keadaan seseorang yang taat kepada Allah dan takut akan azabnya, senantiasa menjalankan setiap perintahNya dan menjauhi segala larangannya, selalu berhati-hati dalam beramal dan ringan melaksanakan ketaatan karena takut mendapatkan murka Tuhannya. Sehingga baginya layak mendapatkan derajat yang tinggi di sisi Tuhannya. Sebagaimana Allah berfirman

"Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang paling takwa diantara kalian"
(Qs. Al Hujurat: 13)

Namun, kembali mata ini melihat kontra isi lisan dengan faktanya. Amanah yang mereka dapatkan entah dengan curang atau tidak, malah membuat mereka semakin berani menantang Allah Sang Pemilik kedaulatan. Kebijakan-kebijakan yang keluar dari persekongkolan mereka membuat hati rakyat menjerit dan menangis seperti kenaikan BPJS, listrik, sembako, dan lain-lain, tak peduli kebijakan keluar saat hari-hari biasa atau pun wabah. Bahkan di bulan berkah penuh ampunan pun tak membuat mereka takut untuk bermaksiat kepada Allah. Sehingga wajar ketakwaan yang muncul dari mulut-mulut mereka hanya ketakwaan semu yang malah menambah panjang waktu bencana.

Selain kata di atas, mereka berani mengatakan tawakal atas segala usaha dan kebijakan yang telah dikeluarkan, tak peduli kandungan makna besar di dalamnya yang terpenting tujuan utama tersampaikan. Tawakal dalam islam adalah kondisi menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah dan ridha terhadap ketetapan Allah. Namun umumnya orang mengatakan kata tawakal ini berkaitan dengan usaha yang telah dikeluarkan yang akhirnya dia memasrahkannya kepada Allah. Padahal Allah berfirman dalam Al Qur'an

"apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang yang bertawakal" (ali imran : 159)

Dalam ayat tersebut menempatkan tawakal pada awal niat dibuat bukan pada akhir usaha. Sehingga seharusnya tawakal dalam kondisi wabah ini, terjadi sebelum wabah masuk ke negeri ini. Sehingga wabah bisa dihindari atau terkontrol. Jadi seharusnya pemerintah bergerak melakukan upaya maksimal agar wabah tidak masuk demi keselamatan negara dan rakyatnya, dan pemerintah melakukan dengan sadar bahwa usahanya adalah bagian dari perintah Allah, meskipun hasil akhirnya ternyata wabah tetap masuk maka ini adalah qadha Allah yang harus kita terima bersama dengan ikhlas. Faktanya pemerintah tidak melakukan pencegahan tersebut sehingga rakyat dipaksa menerima qadha Allah atas pilihan penguasanya.

Dari ketiga makna di atas kita bisa ambil kesimpulan bahwa negeri ini kacau karena menjauhi keimanan kepada Allah, sehingga takwa tak bisa diraih yang akhirnya menempatkan tawakal pada posisi yang salah. Akibatnya Pencipta makhluk kecil ini masih belum mengangkat wabah ini, dan masih menjadi ujian bagi negeri ini ataupun negara-negara luar.

Meskipun begitu, sifat Allah Swt yang Maha Pengampun tidak akan pernah berakhir selama dunia ini masih ada dan nafas masih di kerongkongan, pintu taubat masih terbuka lebar. Walaupun Ramadhan telah meninggalkan kita, tetapi memohon ampun saat ini kepada Allah atas segala kesalahan dan dosa masa lalu lebih baik daripada bertahan pada kesombongan diri yang mengantarkan pada kehancuran diri dan negeri.

Memperbaiki kebijakan yang salah karena bertanggung jawab terhadap amanah pun lebih mulia ketimbang muter-muter membuat kebijakan baru yang membuat rakyat bingung dan gaduh. Karena dengan begitu keimanan negeri ini bisa kembali, ketakwaan pun dapat diraih hingga tawakal pun mampu ditempatkan pada posisinya yang akhirnya setiap usaha yang diberikan akan mendatangkan ridha Allah Swt dan mampu mengganti negeri berwabah menjadi penuh berkah, sehingga hasil takwa yang disampaikan wakil presiden pun bisa terealisasi dengan sempurna. Jika demikian, maka tak ada lagi alasan untuk menolak syariat Allah secara kafah.

Wallahu a'lam bishawab
 
Top