Oleh : Umniyatul Ummah
Ibu Rumah Tangga dan Pegiat Dakwah

Pandemi Corona (Covid-19) hingga saat ini belum menunjukan tanda-tanda akan berakhir. Jumlah pasien positif kian hari masih merangkak naik. Walaupun pemerintah sudah melakukan berbagai upaya dengan segala kebijakannya, namun sepertinya belum dapat mengatasi wabah ini. Mulai dari social distancing, Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), hingga yang terbaru new normal life (kebiasaan hidup baru).


Kebijakan yang ketiga ini sebagian orang mengkhawatirkan akan munculnya gelombang kedua pandemi. Hal ini tentu sangat berbahaya jika terus dilakukan mengingat kondisi masing-masing wilayah di negara kita berbeda-beda, bahkan sebagian wilayah cenderung belum berada di zona aman. Maka sudah seharusnyalah pemerintah beserta jajarannya mengambil sikap yang cepat dan tepat agar pandemi ini segera berlalu dari hadapan kita dan masyarakat dapat hidup normal sebagimana sebelum terjadinya kowabah.


Dari sekian banyak negara ada beberapa negara yang dapat menekan laju penyebaran virus Covid-19 ini. Salah satunya adalah Jepang. Negara ini memang sangat terkenal dengan kedisiplinannya. Baik disiplin waktu maupun disiplin terhadap peraturan dan kebijakan yang diberlakukannya. Oleh karena itu tidak aneh jika faktor kedisiplinan yang biasa dilakukan oleh masyarakat Jepang memberikan andil yang cukup besar dalam mengatasi wabah Covid-19.


Bahkan salah satu pejabat di Jawa Barat yaitu Dadang M Naser selaku Bupati Bandung sempat membandingkan masyarakatnya dengan masyarakat Jepang yang lebih disiplin. Beliau mengajak masyarakatnya untuk menanamkan nilai-nilai yang ada dalam Pancasila agar dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Harapannya adalah ketika masyarakat sudah menjalankan nilai-nilai tersebut masyarakat akan taat dan patuh terhadap peraturan dan kebijakan yg diberikan oleh pemerintah. Termasuk dalam menghadapi atau melawan wabah Covid-19 ini. Sebagaimana dilansir DARA.ID, Bupati Bandung Dadang M Naser mengatakan:


"Mari kita aplikasikan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Menjalankan nilai-nilai dalam syariat Islam, kebersamaan dan toleransi, itu juga berarti menjalankan Pancasila,” ucap bupati usai kegiatan yang berlangsung di kediamannya di Kecamatan Ciparay, Kabupaten Bandung, (Senin, 1 Juni 2020).


Bupati mengungkapkan, Pancasila dalam bahasa lokal Kabupaten Bandung dapat diinterpretasikan menjadi Sabilulungan. Di mana di dalamnya ada kebersamaan, gotong royong, silih asah, asih, asuh, saling menghargai dan menghormati.


Namun Pancasila sebagai dasar negara dan ideologi bangsa, menurut bupati belum menjadi karakter masyarakat yang sesungguhnya. Pancasila baru sebatas dihafal, aplikasinya belum komprehensif dan masih parsial.


Bila Pancasila sudah dijalankan, maka masyarakat akan selalu taat pada aturan dan anjuran dari pemerintah. Termasuk dalam kondisi menghadapi wabah Covid-19, menurutnya bila jiwa Pancasila dijalankan oleh masing-masing individu, maka akan menjadi senjata untuk melawan pandemi global tersebut.


Memang, kesadaran masyarakat yang masih rendah cukup menjadi perhatian di negeri ini. Salah satunya euforia wisata yang berpotensi memunculkan gelombang kedua Covid-19 yang lebih dasyat, namun solusi untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dengan menanamkan nilai-nilai Pancasila juga perlu dikritisi terutama statement bupati "menjalankan nilai–nilai dalam syariat Islam, kebersamaan dan toleransi, itu juga berarti menjalankan pancasila". Karena cara pandang kapitalisme inilah terpaksa rakyat sendiri yang harus memenuhi kebutuhan kesehatan  maupun kebutuhan hidup yang lainya. Negara seakan abai dan kurang peduli terhadap rakyatnya. Padahal sejatinya negara adalah yang paling bertanggung jawab dalam urusan rakyatnya.


Sementara Pancasila adalah falsafah Bangsa Indonesia yang digali dari akar budaya dan adat istiadat masyarakat. Di mana selanjutnya dijadikan dasar negara dan secara yuridis formal ditetapkan pada tanggal 18 Agustus 1945. Oleh karena itu tentunya Islam  tidak sama dengan Pancasila. Islam telah ada sebelum Pancasila lahir. Bahkan jauh sebelum Indonesia ini memproklamirkan kemerdekaannya sebagai sebuah negara. Kegemilangan Islam dalam menyatukan berbagai agama, bangsa, etnik, suku dan ras serta Islam mampu menyelesaikan seluruh permasalahan kehidupan manusia serta telah terbukti dan teruji sepanjang sejarah peradaban manusia. Kegemilangan inilah yang saat ini dirindukan oleh umat agar penderitaan demi penderitaan segera berakhir.


Islam sebagai agama dan juga sebuah ideologi yang darinya terpancar seperangkat aturan, sudah tidak diragukan lagi dalam menyelesaikan segala macam persoalan hidup, termasuk dalam menangani wabah. Negara berada di garda terdepan, hadir sebagai penanggung jawab urusan umat. Pada wilayah yang terkena wabah, negara akan melakukan karantina atau isolasi. Sebagaimana sabda Rasulullah Saw:


"Apabila kamu mendengar wabah berjangkit di suatu negeri, janganlah kamu datangi negeri itu. Dan apabila wabah itu berjangkit di negeri tempat kamu berada, maka janganlah keluar dari negeri itu karena hendak melarikan diri.” (HR al-Bukhari)


Tindakan yang demikian itu tentu dimaksudkan agar wabah tidak menyebar ke daerah lain. Untuk itu suplai berbagai kebutuhan mereka harus terpenuhi. Apalagi saat ini kecanggihan teknologi begitu mendukung tinggal kebijakan seperti apa yang diambil oleh penguasa.


Sistem politik Islam menempatkan urusan rakyatnya berada di pundak seorang pemimpin yakni Khalifah. Khalifah sebagai pemimpin tertinggi bertanggung jawab melayani urusan rakyatnya. Pemenuhan kebutuhan dasar wajib dipenuhinya secara merata baik makanan, kesehatan ,pendidikan dan keamanan. Imam Bukhari meriwayatkan dari Ibn Umar ra, ia berkata, Rasulullah Saw bersabda:


“Seorang imam yang berkuasa atas masyarakat bagaikan penggembala dan dia bertanggung jawab atas gembalaannya (rakyatnya).” (HR al-Bukhari)


Di samping itu, setiap muslim harus menyadari bahwa terjadinya pandemi dalam waktu yang lama sudah seharusnya kita yakini bahwa ini semua adalah dengan izin Allah, sebagai musibah, ujian, dan teguran sayangnya Allah untuk kita semua.


Yakin bahwa ini adalah ketetapan Allah yang akan menjadikan kita bersabar menghadapi pandemi ini, sambil terus berupaya keras dan maksimal menjalani semua aktivitas-aktivitas kita, melaksanakan peran-peran kita dengan baik sebagai ibu, istri, anak, ataupun bagian dari masyarakat, walaupun saat ini sebagian besar aktivitas kita lakukan di rumah dengan tetap memperhatikan kesehatan diri dan keluarga kita. Kita yakin, bahwa banyak sekali hikmah yang Allah berikan bagi kita atas kejadian ini. Allah berfirman yang artinya:


“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah, dan barang siapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (TQS At-Taghabun{64}:11)


Selanjutnya, kita sebagai rakyat pun punya peran untuk menyelamatkan keluarga kita, bahkan menyelamatkan umat dengan terus mengopinikan ke tengah-tengah umat dan melakukan kritik terhadap penguasa, bahwa kebijakan yang dilakukan akan memberikan dampak berbahaya bagi umat.


Begitulah ketika nilai-nilai Islam senantiasa melekat pada diri seorang muslim. Baik dari sisi sebagai penguasa maupun sebagai rakyat akan tumbuh kesadaran akan ketundukan terhadap aturan Allah Swt. Oleh karena itu tidak ada alasan lagi untuk menjauh dari aturan yang datang dari manusia yang dipenuhi hawa nafsu dunia dan kembali pada aturan yang datang dari al-Khaliq al-mudabbir yaitu Allah Swt. Dalam wujud penerapan syariah secara kaffah niscaya keberkahan dan kebahagiaan dapat kira raih.


Wallahu a’lam bishshawwab.
 
Top