Oleh : Pepi Kalima
 Mahasiswi STMIK GICI Batam

Siapa sih yang enggak tahu Lathi? Sebuah lagu yang dilahirkan dari kreativitas pemuda pemudi anak negeri yang kemudian booming di kalangan netter. Tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di seluruh penjuru dunia. Sejak dirilis bulan Maret lalu, video klip yang diunggah oleh Weird Genius melalui situs YouTube ini sudah ditonton lebih dari 40 juta pengunjung jagad YouTube. Wow!

Selain banyaknya pengunjung, tidak sedikit juga yang kemudian membuat video-video yang berkaitan dengan Lathi. Mulai dari video reaction, video cover dance atau nyanyian bahkan yang baru-baru ini menjadi trending yaitu #lathichallenge.

#lathichallenge sendiri adalah ajang dimana para pembuatnya menunjukkan kreativitas menggunakan lagu ini. Konsep ide, kemampuan mengedit dan make-up yang kemudian banyak tertuang melalui #lathichallenge itu sendiri.

Lagu yang menggabungkan konsep musik EDM (Musik dansa elektronik atau electronic dance music) dan etnik Jawa ditambah dengan lirik gabungan Bahasa Inggris dan Bahasa Jawa ini akhirnya sukses di kalangan penikmat musik dan pengguna internet pada umumnya. Tidak bisa dipungkiri untuk sekelas konten maker YouTube, video clip ini bisa dikatakan berada di atas rata-rata. Mulai dari konsep video, penyanyi, penari, proses pengambilan video, lighting hingga editing yang profesional, membuat video klip ini banyak diperbincangkan di berbagai kanal internet belakangan ini.

Namun, yang disayangkan adalah pesan atau makna yang sampai pada para penikmatnya tidak se-positif yang kita bayangkan. Kisah yang tersampaikan melalui video klip ini berupa seorang gadis yang terjerat “toxic relationship” yang kemudian membuat dia berubah, dari pribadi yang “lemah” menjadi “kuat” untuk melakukan balas dendam kepada pasangannya. Serta nuansa yang kental akan hal-hal yang berbau horor seperti kekuatan mistis atau supranatural. Sudah menjadi rahasia umum jika adat-adat Jawa kerap kali dikaitkan dengan hal-hal demikian. Mulai dari suara gamelan hingga tembang/nembang. Padahal jika kita mau belajar lebih dalam, justru kita akan menemukan hal yang sebaliknya. Banyak nasihat dan tutur baik yang kental dengan nuansa islami disampaikan melalui adat Jawa. Dan tentunya setiap suku dan adat budaya memiliki khas sendiri dalam mensyiarkan Islam.

Lalu, ada apa dengan #lathichallenge? Mulai dari make-up cantik hingga mengerikan menyerupai setan sampai tarian gemulai banyak dipraktikkan para pembuatnya, baik laki-laki maupun perempuan. Bahkan hastag #lathichallenge sendiri menjadi trending dan viral di TikTok.

Namun lagi-lagi, kreativitas yang kemudian keluar dari batasan tentu sangat disayangkan. Tidak jarang yang ikut berpartisipasi ialah seorang muslimah berhijab. Mereka kemudian bermake-up dengan tabbaruj, menari berlenggak-lenggok gemulai di depan kamera, disusul dengan riasan dan gerakan-gerakan yang menyerupai setan tanpa rasa malu.

Bukankah dalam Islam sendiri Allah menganjurkan untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat? Bahkan ia merupakan kewajiban bagi seorang muslim, beramar makruf nahi mungkar. Sebagai seorang muslim, hendaknya kita lebih bisa memilah dan memilih mana yang bisa kita ikuti dan tidak. Kebiasaan latah membuat kita dengan mudahnya mengikuti tren agar menjadi viral dan terkenal tanpa memikirkan apa akibatnya. Bisa jadi kita justru turut andil dalam mengampanyekan sesuatu yang salah, satanisme misalnya. Andai jika kreativitas yang kita miliki digunakan dalam mensyiarkan Islam. Bukankah itu lebih mulia?

Dalam Islam, syari’at di atas segalannya. Adat, budaya semua harus selajan dengan syari’at. Jika tidak menyalahi tak mengapa, jika sudah di luar koridor syara’ maka tinggalkanlah. Itulah mengapa pentingnya kita memberi batasan atas apa yang akan kita lakukan. Baik itu adat, istiadat hingga kreativitas kita dalam berkarya. Dengan begitu, hanya hal positiflah yang kita bagikan kepada umat. Insyaallah.

Wallahu a'lam bishshawab.
 
Top