Oleh : Cahyani Pramita, SE. 
Pemerhati Masyarakat


Harian Kompas pada Senin, 18 Mei memberitakan bahwa Presiden Jokowi meminta masyarakat bersiap untuk menghadapi era normal baru. Kondisi dimana masyarakat dapat beraktivitas kembali secara normal dengan menerapkan protokol kesehatan yang ditentukan. Satgas lawan Covid-19 DPR RI Sufni Dasco Ahmad menyatakan, “Tatanan hidup baru atau new normal tidak terelakkan lagi.”

Kondisi kita sebenarnya masih di tengah pandemi Covid-19 yang terus menginfeksi dan memakan korban. Namun pemerintah justru semakin serius untuk menjalankan A New Normal Life. Padahal kurva pandemi terus menanjak, belum terlihat puncak apalagi melandai.

Sejak awal wabah Covid-19 muncul di Wuhan, pemerintah Indonesia tidak segera bertindak serius untuk memproteksi agar virus tak masuk ke dalam negeri. Hingga akhirnya sampailah virus Covid-19 menghampiri negeri ini dan pemerintah tampak setengah hati untuk berjuang melawan covid-19. Hal ini tampak jelas dari tak mengindahkannya penguasa atas saran para ahli kesehatan untuk melakukan karantina wilayah (lockdown). Penerapan PSBB yang dilonggarkan, kebutuhan APD untuk tenaga  kesehatan tak memadaidan sederet kegagapan “berperang” melawan Covid-19.

Dengan era normal baru, rakyat dipaksa hidup, beraktivitas normal di tengah wabah. Hal ini sungguh abnormal karena wabah bukanlah kondisi normal untuk hidup manusia. Menurut Yanuar Nugroho, Penasihat Centre For Innovation Policyand Governance (CIPG), jika masyarakat hidup bersama virus ini tapi tidak ada measure secara khusus untuk melindungi mereka yang rentan, ini sama saja menghadapkan mereka pada maut.

Kebijakan era new normal ini jelas menunjukkan abai dan menyerahnya penguasa untuk berjuang melindungi rakyatnya. Penguasa memilih untuk angkat tangan, mengibarkan bendera putih dalam perjuangan menuntaskan pandemi. Kesehatan dan nyawa rakyat tiada yang melindungi.

Negara bahkan lebih memilih berjuang menyelamatkan ekonomi daripada menyelamatkan kesehatan dan nyawa rakyat. Hal ini terkonfirmasi dari pernyataan koordinator perekonomian bahwa era normal baru adalah untuk memulihkan ekonomi sebagai dampak pandemi. Era normal baru diharapkan akan kembali menggerakkan kegiatan perekonomian yang terpuruk tanpa memperdulikan kesehatan dan nyawa rakyat.

Inilah gambaran rezim yang kurang bertanggungjawab. Rezim kapitalis-sekular yang mengutamakan keuntungan materi di atas segala-galanya. Pantang menyerah untuk menggerakkan ekonomi, namun enggan berperang melawan wabah demi melindungi kesehatan dan nyawa rakyatnya.

Rezim seperti ini adalah rezim jahat yang tak manusiawi. Rezim yang paling dibenci Allah Swt. sebagaimana Nabi saw. bersabda,

“Manusia yang paling dibenci Allah dan paling jauh kedudukannya dari-Nya adalah pemimpin yang jahat.” (HR. at-Tirmidzi)

Pandemi Covid-19 haruslah segera ditaklukkan, bukan diajak kompromi apalagi diajak untuk berdamai. Kita butuh pemimpin yang bertanggungjawab terhadap rakyatnya. Siap berjuang menuntaskan wabah, melindungi nyawa rakyatnya. Nabi saw. bersabda,

“Sungguh lenyapnya dunia ini lebih ringan di sisi Allah daripada terbunuhnya seorang muslim.” (HR. an-Nasai, at-Tirmidzi dan al-Baihaqi)

Hanya pemimpin dalam sistem kekhilafahan Islam yang dapat menunaikannya. Hal ini karena penerapan syariah Islam secara komprehensif dalam negara menjamin terpeliharanya nyawa manusia. Menghilangkan satu nyawa manusia disamakan dengan membunuh seluruh manusia. Al imam akan berjuang sekuat tenaga dengan support sistem Islam yang paripurna untuk menaklukkan wabah.

Segala kebijakan yang diambil oleh al-imam akan selalu merujuk kepada ketentuan-ketentuan syar’i, memperhatikan pendapat para pakar terkait wabah (pakar epidemiologi, medis) dan bersegera mengerahkan aparatur negara, sumber pendanaan negara serta mengedukasi umat untuk bersinergi menuntaskan wabah. In syaa Allah pandemi mampu segera diakhiri dan rakyat kembali pada kehidupan normal yang sebenarnya. Wallahua’lam bish shawab.
 
Top