Oleh : Nelliya Azzahra
(Novelis dan Member Akademi Menulis Kreatif)

Tenaga medis saat ini berjuang di garda terdepan dalam menangani pasien wabah Covid-19. Hingga tidak sedikit pejuang ini yang menjadi korban dan gugur. Mereka menerima segala risiko dalam menangani wabah ini meskipun nyawa taruhannya.

Meskipun begitu, para tenaga medis yang bekerja siang dan malam demi kesembuhan para pasien hingga sampai ada yang meninggal dunia tidak mendapatkan perhatian yang memadai. Kerja keras mereka tidak dihargai sebagai pejuang yang berdedikasi penuh. Nyawa seorang muslim begitu berharga di mata Islam. Dari al-Barra' bin Azib radhiyallahu 'anhu, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Hilangnya dunia, lebih ringan bagi Allah dibandingkan terbunuhnya seorang mukmin tanpa hak." (HR. Nasai 3987, Turmudzi 1455, dan dishahihkan al-Albani)

Jangankan memberikan kebijakan utuh yang terintregrasi agar pasien Covid-19 tidak terus melonjak, bahkan proteksi finansial juga tidak diberikan. Sebagian tenaga medis tidak mendapatkan tunjangan, THR perawat honorer dipotong, bahkan ada yang dirumahkan karena rumah sakit daerah kesulitan dana.

Seperti yang terjadi pada perawat di Rumah Sakit Penyakit Infeksi (RSPI) Sulianti Saroso, Anitha Supriono, hingga kini belum menerima insentif sebesar Rp 7,5 juta yang dijanjikan pemerintah. Anitha merupakan salah satu perawat yang bertugas di ruang Intensive Care Unit (ICU) menangani pasien-pasien positif Covid-19.

Dia menuturkan, "Insentif yang dibilang maksimal tujuh setengah juta itu memang sampai sekarang belum (diterima)," kata Anitha kepada Tempo, Ahad, 24 mei 2020.

Selain itu hal ini juga dirasakan oleh sejumlah tenaga medis di Rumah Sakit Darurat (RSD) Kemayoran belum mendapatkan insentif yang dijanjikan pemerintah.

Salah satu tenaga medis di Wisma Atlet Kemayoran mengatakan, pencairan insentif terkendala akibat masa libur lebaran. Akibatnya masih ada sejumlah tenaga medis yang hingga hari ini belum juga menerima insentif tersebut.

"Terakhir karena Bank Indonesia sudah tutup karena lebaran. Dijanjikan tanggal 15 sih," kata dia kepada merdeka.com (Senin, 25/5/2020).

Hal ini membuktikan, bahwa lemahnya perhatian pemerintah terhadap tenaga medis yang ada. Seharusnya mereka ini mendapatkan apresiasi terhadap terhadap jasa-jasanya. Mereka menjadi ujung tombak dalam menangani wabah Covid-19 di negeri ini. Melalui ikhtiar tenaga medislah warga negara yang terjangkit Covid-19 dapat disembuhkan. Seharusnya perhatian khusus diberikan kepada para tenaga medis ini. Yang penting diperhatikan pemerintah selain kelengkapan APD, asupan gizi juga adalah terkait kejelasan gaji atau honor mereka. Sebagai prajurit yang terjun langsung ke medan tempur mereka selayaknya mendapatkan perhatian, apresiasi, agar jasa-jasa mereka dihargai.

Islam sebagai agama sempurna dan paripurna memberikan perhatian khusus terhadap para tenaga medis. Sejarah mencatat, bahwa kesehatan termasuk ke dalam kebutuhan primer yang wajib disediakan oleh negara. Bahkan rakyat memperolehnya dengan gratis. Karena mindset pemimpin pada saat itu adalah pelayan rakyat.

Tengok bagaimana kebijakan kesehatan yang dilakukan oleh Muhammad Al-Fatih sang penakluk konstantinopel. Beliau dalam memberikan pelayanan kesehatan sungguh luar biasa, di antaranya merekrut juru masak terbaik rumah sakit, dokter datang minimal 2 kali sehari untuk visit.

Will Durant dalam The Story of Civilization menyatakan, "Islam telah menjamin seluruh dunia dalam menyiapkan berbagai rumah sakit yang layak, sekaligus memenuhi keperluannya. Contohnya Bimaristan yang dibangun oleh Nuruddin di Damaskus tahu 1160 telah bertahan selama tiga abad dalam merawat orang-orang sakit, tanpa bayaran dan menyediakan obat-obatan gratis. Para sejarahwan berkata, bahwa cahayanya tetap bersinar tidak pernah padam selama 267 tahun."

Apalagi perhatian terhadap dokter dan tenaga kesehatan lainnya. Dengan perhatian yang luar biasa pada pasien, maka Islam dapat dipastikan memberikan fasilitas terbaik untuk tenaga medisnya. Berupa tunjangan dan akses pendidikan mudah dan gratis serta sarana prasarana.

Wallahu a'lam bishshawab.
 
Top