Oleh : Enok Sonariah
Ibu Rumah Tangga dan Pegiat Dakwah

"Ia berdoa kepada Allah Swt., tapi makan dan minumnya dari barang yang diharamkam, maka bagaimana mungkin akan dikabulkan doanya." (HR. Muslim)

Dari sabda Rasulullah saw. di atas, betapa penting bagi kaum muslimin memperhatikan dan memastikan apakah makanan ataupun minuman yang dikonsumsinya itu halal ataukah tidak? Karena doa menjadi bukti sekaligus kebutuhan yang menggambarkan betapa lemah dan bergantungnya makhluk kepada Allah Swt. Andaikan sudah begitu banyak doa dipanjatkan tapi abai dari memperhatikan kehalalan apa yang kita konsumsi, rugilah kita. Lebih pentingnya lagi mengkonsumsi makanan halal adalah konsekuensi keimanan yang mesti kita usahakan.

Ketika Allah Swt. memerintahkan mengkonsumsi makanan halal dan thayyib (bagus dan bergizi), maka para ulama menekankan bahwa yang harus didahulukan adalah kehalalannya, baru thayyib. Kalau ternyata makanan itu thayyib tapi tidak halal, maka tidak boleh menjadi pertimbangan, segera tinggalkan saja, kecuali dalam kondisi tertentu seperti kelaparan misalnya.

Muncul beberapa pertanyaan, apakah mudah bagi kaum muslimin mendapatkan makanan yang dijamin kehalalannya pada saat ini?

Apakah seluruh kaum muslimin memiliki kemampuan membedakan mana yang halal dan tidak, ketika ada segelintir orang yang berbuat curang?

Jawabannya tidak begitu mudah dan tidak semua orang mampu. Buktinya baru-baru ini kaum muslimin dikagetkan dengan berita penangkapan oleh Polres Bandung bersama satgas pangan terhadap 4 orang penjual daging babi yang mirip dengan daging sapi. Tidak tanggung-tanggung penjualan tersebut sudah berjalan hampir setahun, dijual bebas di pasar Bandung. (Kompas.com)

Selain di pasar Bandung, sebanyak 63 ton daging babi yang diolah menyerupai daging sapi tersebut telah terjual di wilayah Majalaya, Banjaran dan Baleendah sepanjang bulan Ramadan.(surya.co.id)

Innalillahi, bukan waktu yang sebentar juga bukan jumlah yang sedikit.

Sebenarnya persoalan terkait daging babi bukanlah hal yang baru, kejadiannya terus berulang. Sebelumnya ada isu bakso mengandung babi, produk biskuit berkomposisi babi, vetsin tercemar enzim babi dan masih banyak lagi. Kemajuan teknologi pangan bukan hanya memberikan manfaat sekaligus memberikan madharat. Makanan bisa disulap bukan dalam rupa aslinya. Pewarna, pengawet, anti tengik dan yang lainnya seringkali digunakan para produsen ataupun penjual untuk memperbaiki atau merubah penampilan, menekan harga produksi, memperpanjang masa simpan dan tujuan lainnya. Hal tersebut menjadikan kesulitan bagi konsumen dalam memilah dan memilih makanan yang halal juga thayyib.

Selama ini apa yang sudah dilakukan oleh pihak pemerintah, dengan melakukan sidak secara rutin ke kios-kios ataupun pasar, ternyata tidak mampu menekan keinginan orang untuk berbuat curang. Satu sisi ketika daya beli masyarakat rendah apalagi di masa pandemi, daging babi yang diolah dengan dicampur boraks ternyata laku keras dikarenakan harganya lebih murah sedangkan merekapun membutuhkan. Setelah penangkapan pelaku pemalsuan tidak lupa pemerintah pun segera mengihimbau masyarakat agar lebih berhati-hati dan waspada, jangan tergiur karena murah harganya.

Sekedar sidak (inspeksi mendadak), himbauan bahkan penerbitan sertifikat halal tidak akan menjadi solusi terjaminnya masyarakat mendapatkan makanan halal. Karena sidak hanya memberhentikan sementara, setelah sidak usai atau satgas lengah, kecurangan sangat mungkin akan berulang. Himbauan pun tidak akan efektif karena pengetahuan dan kesadaran masyarakat belum mendukung. Begitupun
sertifikat halal tidak akan menjamin 100 persen dikarenakan rawan suap dalam penerbitannya. Bahkan ada wacana bahwa hal ini hendak dihilangkan.

Persoalan mendasarnya terletak pada sistem kapitalisme-sekuler yang diterapkan di negeri ini. Demi meraih keuntungan, peternakan babi tidak pernah dilarang malah dilindungi. Ekspor babi terbesar ke Singapura menjadi bagian dari pendapatan negara.

Padahal dalam pandangan Islam yang diharamkan bukan hanya mengkonsumsi juga harganya. Bagaimana mungkin bisa menjaga masyarakat dari makanan haram sementara pemerintah sendiri adalah pelaku utamanya. Wacana akan dihilangkannya sertifikat halal lebih membuktikan kemana pemerintah kita berpihak. Kapitalisme-sekular telah menciptakan kecenderungan manusia kepada keuntungan semata sambil mencampakkan agama (Islam) sebagai panduan walaupun mereka mengaku muslim. Hal ini diikuti oleh sebagian besar masyarakat. Tidak hanya penjual, pembelipun tidak lagi memperdulikan kehalalan makanan yang dikonsumsinya. Betapa besar murka Allah Swt. terhadap negeri ini. Keharaman demi keharaman terus berlangsung, merebaknya wabah belum berefek pada hati nurani yang tergugah, tunduk pada aturan Allah bukan hanya disembah.

Sistem kapitalisme-sekular sangat jauh berbeda dengan sistem Islam. Seorang khalifah (pemimpin tertinggi dalam sistem pemerintahan Islam) diangkat untuk menjadi pelindung bagi keselamatan rakyatnya. Bukan hanya sebatas di dunia, bahkan jauh sampai akhirat. Seorang khalifah tidak akan membiarkan makanan haram bebas dijual. Jaminan kehalalan sebuah produk akan ditentukan dari awal. Mulai proses pembuatan bahan, proses produksi, hingga distribusi akan senantiasa diawasi.

Pengawasan ini untuk memastikan seluruh produk dalam kondisi aman. Makanan dan produk lain yang terindikasi haram akan disterilkan dari pasar. Agar masyarakat tak lagi bingung dalam membedakan mana produk halal dan haram.

Aparat yang ditugasi mengawasi pasar adalah orang-orang yang memiliki kepribadian Islam, tidak mudah untuk disuap, bertugas semata-mata agar masyarakat terhindar dari hal yang diharamkan. Begitupun masyarakatnya, mereka dibina dalam hal ketaatan kepada Allah Swt. tanpa henti. Sehingga pengontrolan muncul dari dirinya sendiri untuk tidak berbuat curang dan berhati-hati.

Khalifah tidak akan membiarkan masyarakat mengais rezeki dari hal yang diharamkan. Andaikan ada yang melakukan kecurangan, sanksi sesuai syariat akan diberlakukan terhadap pelaku.

Bukti keimanan kita semua sudah seharusnya mendorong kita untuk segera mewujudkan sistem Islam serta mencampakkan kapitalisme-sekular yang sudah terbukti gagal melindungi rakyatnya dari hal-hak yang Allah Swt. haramkan bukan hanya sebatas makanan juga hal lainnya.

Wallahu a'lam bi ash shawwab
 
Top