Oleh : Nur Ilmi Hidayah
Praktisi Pendidikan, Member AMK

Pandemi virus corona (Covid-19) yang telah menjadi pandemi global saat ini menuntut pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dengan adanya surat edaran nomor 36962/MPK.A/HK/2020 perihal pembebelajaran secara daring dan bekerja dari rumah dalam rangka pencegahan Covid-19 bagi guru dan bagi siswa untuk semua jenjang di seluruh Indonesia.

Dampak mewabahnya Covid-19 kini juga telah dirasakan dunia pendidikan. Hal ini telah diakui oleh Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNISCO) pada kamis (5/3/20), bahwa Covid-19 telah berdampak terhadap sektor pendidikan. Hampir seluruh siswa terganggu kegiatan sekolahnya di seluruh dunia dan terancam hak-hak pendidikan mereka di masa depan.

Jika kondisi penyebaran Covid-19 terus meningkat, maka sudah bisa dipastikan dampaknya terhadap sektor pendidikan juga akan semakin meningkat. Dampak yang paling dikhawatirkan adalah efek jangka panjang. Sebab, para siswa secara otomatis akan merasakan keterlambatan dalam proses pendidikan yang dijalaninya. Hal ini bisa mengakibatkan pada terhambatnya perkembangan mereka di masa yang akan datang.

Secara tidak langsung, sekolah dalam waktu singkat harus memikirkan strategi pembelajaran jarak jauh sesuai dengan kompetensi yang dimiliki setiap sekolah baik unsur kompetensi guru, siswa, orang tua, maupun dari sarana yang dimiliki.

Strategi yang diterapkan sekolah tentunya beragam dan bukan berarti tanpa kendala. Bagi sekolah yang sudah terbiasa melaksanakan pembelajaran berbasis digital atau daring tentu bukan menjadi masalah, apalagi bagi guru sudah mahir melakukan penilaian portofolio dengan berbagai tugas yang bervariasi, sehingga tidak menjadi beban bagi siswanya yang saat ini juga dikeluhkan oleh para orang tua siswa. Orang tua mendampingi anaknya belajar di rumah merupakan beban tersendiri bagi orang tua yang tidak memiliki latar belakang pendidikan yang cukup atau pun sarana dan fasilitas yang memadai.

Salah satu kendala di antaranya, siswa tidak memiliki buku paket sebagai sumber belajar di rumah. Karena, selama ini buku hanya dipinjamkan oleh sekolah dan hanya digunakan saat pembelajaran di kelas. Buku tersebut tidak bisa dibawa pulang oleh siswa, karena jumlahnya terbatas sehingga penggunaannya harus bergantian dengan siswa lain.

Guru yang ingin membuat lembar kerja untuk siswa juga terkendala distribusi tugas tersebut ke masing-masing siswa. Mengingat jika tugas tersebut diambil di sekolah, dikhawatirkan akan membuat kerumunan.

Siswa tidak bisa mengakses sumber balajar online karena tidak memiliki perangkat digital seperti HP android, laptop, dan sebagainya. Tidak adanya koneksi untuk jaringan internet pada wilayah tersebut, dan tidak adanya listrik.

Belajar di rumah, meski terlihat menyenangkan, pembelajaran di rumah bukanlah sesuatu yang mudah bagi orang tua. Selama lockdown, guru-guru memberikan sejumlah tugas pada siswanya, setiap hari tugas dikirimkan kepada gurunya melalui surat elektronik.

Hal ini akan menjadi tantangan bagi guru jika ingin mengaplikasikan metode daring. Tentunya, guru akan menjadi bekerja ekstra keras agar siswa mengikuti model kelas daring ini. Padahal, pada saat pembelajaran konvensional saja, tidak banyak dari siswa yang spesial yang mau memperhatikan dan berkontribusi saat pembelajaran.

Pembelajaran konvensional meski di rasa kuno pada zaman pendidikan era revolusi industri 4.0 seperti sekarang ini, akan tetapi tetap memiliki kelebihan tersendiri. Psikologi siswa akan terbentuk jika siswa bertemu langsung dengan gurunya. Mereka bisa mengingat gaya mengajar gurunya dan akan sangat diingat di pikiran mereka, karena mengajar tidak hanya untuk mendapatkan ilmu tapi lebih kepada pembentukan karakter. Hubungan emosional antara guru dan siswa yang terbentuk selama pembelajaran konvensional akan sangat membantu bagi keberhasilan siswa.

Catatan penting di dunia pendidikan adalah harus mengejar pembelajaran daring secara cepat. Padahal, pembelajaran online bukan metode untuk mengubah belajar tatap muka dengan aplikasi digital, bukan pula membebani siswa dengan tugas yang bertumpuk setiap harinya.

Pemerintah seharusnya serius melindungi warganya dari ancaman Covid-19 sebagai pemimpin negara yang mayoritas penduduknya muslim. Pemerintah seharusnya melirik bagaimana Islam mengatasi wabah penyakit menular. Karena Islam memiliki perangkat solusi dalam mengatasi wabah pandemi. Islam selalu menunjukkan keunggulannya sebagai agama sekaligus ideologi yang lengkap. Islam mengatur semua hal, tidak terkecuali di bidang kesehatan dan pendidikan.

Negara memiliki peran untuk senantiasa menjaga perilaku sehat bagi warganya. Selain itu, pemerintah juga mengedukasi agar ketika terkena penyakit menular, disarankan menggunakan masker. Hal ini sangat membantu pemulihan wabah penyakit menular dengan cepat. Karena, Islam telah membangun sistem imun yang luar biasa melalui pola hidup sehat bagi penganutnya.

Pendidikan Islam harus diselenggarakan dan dilaksanakan dengan tujuan untuk membentuk dan membina karakter manusia supaya menjadi insan kamil yang beriman, bertakwa dan berakhlak kepada Allah Swt. berdasarkan fitrah yang dibawanya sejak lahir. Fitrah yang dibawa manusia sejak dalam kandungan merupakan perwujudan komitmen antara manusia sebagai makhluk dan Allah sebagai khaliknya. Komitmen yang sudah terbentuk  itu harus diperkuat agar manusia tetap patuh mengikuti perintah Allah Swt. sebagai tujuan dalam penciptaannya. Sebagaimana Allah berfirman dalam QS. ar-Rum ayat 30 :

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah, (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu, tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; bagi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya.”

Di dalam negara Islam tidak akan muncul peluang timbulnya kebodohan di kalangan umatnya, sebab Allah Swt. mewajibkan kepada setiap muslim untuk menuntut ilmu pengetahuan untuk keperluan kehidupannya serta keperluan umatnya. Atas dasar ini, negara wajib menyempurnakan sektor pendidikannya melalui pendidikan bebas biaya bagi seluruh rakyatnya, karena ilmu pengetahuan adalah kebutuhan manusia yang paling pokok, yang telah menjadi kewajiban pemimpin negara untuk menjamin rakyatnya.

Pada masa-masa kejayaan dan puncak keemasan Islam, Daulah Khilafah Islamiyyah  mampu melahirkan banyak ilmuwan muslim berkaliber internasional yang telah menorehkan karya-karya internasional dan bermanfaat bagi umat manusia. Pada saat kejayaan peradaban Islam yang berkembang menjadi tradisi intelektual secara historis dimulai dari pemahaman (tafaqquh) terhadap Al-Qur’an yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad saw. yang kemudian dipahami, ditafsirkan dan dikembangkan oleh para sahabat, tabiin, dan para ulama yang datang, kemudian merujuk pada sunah Nabi saw.

Metode pengajaran dalam Islam adalah dengan cara penyampaian dan penerimaan penyampaian dari guru kepada siswa. Pemikiran atau akal merupakan instrumen proses belajar mengajar.

Dalam Islam, pembiayaan pendidikan untuk seluruh tingkatan baik sarana maupun prasarana pendidikan, sepenuhnya merupakan tanggung jawab negara. Ringkasnya, dalam Islam pendidikan disediakan secara gratis oleh negara.

Pada era Khilafah Utsmaniyah, Khalifah Sultan Muhammad Al-Fatih (1481M) juga menyediakan pendidikan secara gratis. Di Konstatinopel (Istanbul), Sultan membangun delapan sekolah. Di sekolah-sekolah tersebut dibangun asrama siswa, lengkap dengan ruang tidur dan ruang makan. Sultan memberikan beasiswa bulanan untuk para siswa. Dibangun pula sebuah perpustakaan khusus yang dikelola oleh pustakawan yang cakap dan berilmu.

Di dunia pendidikan yang sarat masalah saat ini, hanya bisa dituntaskan dengan mencampakkan sekularisme-kapitalisme, dan menerapkan syariat Islam secara totalitas dalam bingkai negara yang menerapkan syariat Islam. Karena, sistem pendidikan Islam memerlukan daya dukung syariah yang lain seperti ekonomi Islam, dan sub sistem Islam lainnya.

Wallahu a’lam bishshawab.
 
Top