Oleh : Rini Heliyani, S.Pd
Praktisi Pendidikan

Alhamdulillah 1 Ramadan sudah ditetapkan Jumat, 24 April 2020. Dengan penuh sukacita kaum muslimin menyambutnya, saat ini Ramadan sudah seminggu berlalu. Ramadan tahun ini berbeda dengan tahun sebelumnya. Karena wabah Covid-19 menyerang hampir seluruh belahan dunia.

Ramadan merupakan bulan penuh ampunan, salah satu bulan untuk meraih pintu taubat. Tidak ada manusia yang tidak berdosa. Setiap manusia berbuat dosa, maka pintu ampunan dan pintu taubat senantiasa terbuka. Allah Swt. senantiasa membuka pintu taubat bagi hamba-hamba-Nya. 

"Wahai hamba-hamba-Ku! Setiap siang dan malam kalian senantiasa berbuat salah, namun aku mengampuni semua dosa. Karena itu mohonkanlah ampunan-Ku, agar Aku mengampuni kalian." (Hadist Qudsi riwayat Muslim)

Masyaallah, sangat besar ampunan Allah Swt. bagi hamba-hamba-Nya yang senantiasa memohon ampunan. Ramadan yang menjadi momentum untuk meraih ampunan Allah Swt., maka kita gunakan momentum Ramadan ini dengan memperbanyak amalan baik, serta ibadah ditingkatkan.

Ibadah puasa di bulan Ramadan bertujuan untuk membentuk hamba yang muttaqin (orang yang bertakwa). Di antara karakter orang bertakwa yaitu sibuk bersegera meraih ampunan Allah Swt. dan surga seluas langit dan bumi.

"Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa." (QS. Ali Imran : 133)

Rasulullah saw. bersabda, ”Sesungguhnya Ramadan adalah bulan dimana Allah Ta'ala wajibkan berpuasa dan aku sunahkan kaum muslimin untuk menegakkan (shalat malam). Barangsiapa berpuasa dengan iman dan mengharap rida Allah Swt. maka dosanya keluar seperti hari ibu melahirkannya." (HR. Ahmad)

Masyaallah, begitulah gambaran bahwa sangat besar ampunan yang diberikan oleh Allah bagi setiap hamba yang bertaubat pada-Nya. Begitu banyak dosa yang dilakukan oleh manusia. Apalagi saat ini banyak sekali kemaksiatan yang dilakukan oleh manusia dalam tataran yang lebih luas.

Dengan tidak diterapkan syariat Islam dalam bermasyarakat, ini menjadi kemaksiatan yang besar dilakukan oleh negara. Banyak kerusakan yang terjadi akibat tidak diterapkan syariat Islam. Sistem ekonomi terpuruk, akibat diterapkan sistem kapitalisme sekuler. Banyak kemiskinan terjadi akibat sistem ekonomi kapitalisme. 

Wabah Covid-19 menjadi salah satu faktor menurunnya ekonomi di dunia. Berikut beberapa ramalan sejumlah lembaga ekonomi internasional terkait pertumbuhan ekonomi dunia 2020 :
1. JP morgan memprediksi ekonomi dunia minus 1.1% di 2020
2. EIU memprediksi ekonomi dunia minus 2.2% di 2020
3. Fitch memprediksi ekonomi dunia minus 1.9% di 2020
4. IMF memprediksi ekonomi dunia minus 3% di 2020

Tahun ini, IMF memprediksi ekonomi Indonesia kemungkinan tumbuh 0,5%, dari sebelumnya tumbuh 5.0% pada tahun 2019 (CBNC Indonesia, 19/4/20). Hal ini terjadi akibat tidak stabilnya ekonomi dunia saat menghadapi wabah Covid-19, ditambah lagi ketidaksiapan dunia dalam menghadapi wabah Covid-19 ini. 

Kemaksiatan dan kerusakan yang terjadi pada dunia khususnya di negeri ini menunjukkan, bahwa tidak taatnya pemimpin negeri ini terhadap hukum Allah Swt. Padahal jelas Allah Swt. sudah mengatur persoalan ekonomi dengan sangat rinci dan sempurna. 

Hal ini terlihat bagaimana dulunya, ketika Islam diterapkan dalam bingkai negara Islam yang dipimpin oleh Rasulullah saw., Khulafaur Rasyidin serta para khalifah. Menunjukkan betapa sejahteranya masyarakat, terpenuhinya kebutuhan dasar masyarakat. Dimana Islam membagikan tiga kepemilikan harta, yaitu kepemilikan individu, kepemilikan masyarakat, serta kepemilikan negara. 

Sumber daya alam (SDA) menjadi harta umat (masyarakat). Oleh karenanya, negara berperan untuk mengelolanya sehingga hasilnya diberikan untuk kebutuhan masyarakat, dalam bidang kesehatan, pendidikan, keamanan, serta kebutuhan lainnya.

Hal ini berbeda dengan sistem ekonomi kapitalisme, yang menjadikan SDA boleh dimiliki oleh swasta baik swasta dalam negeri maupun luar negeri. Sehingga saat ini kita lihat kekayaan hanya beredar pada kalangan orang kaya saja. Maka, wajar kemiskinan terus meningkat, terlebih saat wabah Covid-19 merebak ditambah lagi dengan banyaknya angka PHK. 

Oleh karenanya, marilah kita sebagai muslim menjadikan Islam sebagai sistem bernegara. Ramadan harus kita jadikan sebagai momentum untuk melakukan pertaubatan secara kolektif atas pengabaian hukum Allah Swt., serta harus ada upaya untuk mendorong manusia serta negara yang taat sempurna pada aturan-aturan Allah Swt. Sehingga dengan taubat dan taat  yang dilakukan dengan penuh keyakinan, akan menghantarkan pada solusi tuntas problem dunia dan membawa obat bagi wabah Covid-19, maka taubat dan ketaatan yang sempurna akan terbentuk dalam sebuah negara Islam.

Allahu A'lam Bi Ash Shawab
 
Top