Oleh : Verawati, S.Pd
(Pegiat Opini Islam dan Praktisi Pendidikan)

Beberapa hari yang lalu, saya dan suami jalan-jalan sore menuju arah pusat kota. Dari mulai keluar komplek hingga ke tempat yang kami tuju, kami melihat pemandangan yang tidak biasa. Yaitu banyak sekali para pemulung di sepanjang jalan. Terlihat di antara mereka ibu separuh baya, laki-laki dewasa hingga kakek-kakek. Tidak hanya itu, di antara mereka ada juga yang membawa anak-anak kecil hingga  bayi yang digendong. Kemudian yang anehnya, mereka hanya duduk-duduk di pinggir jalan bahkan ada yang menggelar tikar sambil membawa karung besar yang disimpan di depan mereka. Hingga kami kembali pulang, dimana waktu hampir mendekati magrib kondisinya masih sama yakni banyak para pemulung tadi. 

Akhirnya keanehan itu saya tanyakan pada suami.  “Tidak seperti biasanya ya? Banyak para pemulung yang duduk-duduk di pinggir jalan”. Suami menjawab “Barangkali terorganisir”. Bisa jadi seperti itu, mereka terorganisir akan tetapi bisa juga tidak. Kalau diperhatikan dengan seksama nampaknya mereka juga tidak hanya sekadar menjadi pemulung, akan tetapi sekaligus menjadi pengemis atau peminta-minta. Sebab, tak dipungkiri di tengah bulan suci Ramadan ini biasanya banyak yang mengeluarkan hartanya untuk disedekahkan. Terlebih saat wabah corona yang melanda saat ini, banyak orang yang memberikan santunan di jalanan. 

Namun, apa pun mereka tetap merasa miris melihatnya. Kian hari kondisi masyarakat khususnya kaum muslim terus terpuruk. Banyaknya para pemulung atau peminta-minta menandakan semakin tingginya tingkat kemiskinan. Dari hasil riset terbaru Bank Pembangunan Asia atau ADB mengungkap data, bahwa 22 juta penduduk Indonesia masih menderita kelaparan kronis selama periode 2016–2018. (Tempo.com,14/04/2020)

Sedangkan menurut databoks, 8/4/2020, Jumlah penduduk miskin di Indonesia pada September 2019 sebanyak 24,79 juta jiwa. Adapun tingkat kemiskinan sebesar 9,22%. Terlebih dalam kondisi wabah corona saat ini, ekonomi sangat sulit, pemutusan hak kerja (PHK) di mana-mana, banyak perusahaan atau pekerjaan yang tutup. Bisa dipastikan jumlah penduduk miskin akan terus bertambah.

Kondisi ini akan bisa bertambah parah. Sebab untuk beberapa bahan pokok mengalami defisit. Sebagaimana diumumkan oleh Jokowi beberapa waktu yang lalu. Seperti beras, gula dan jagung mengalami defisit di beberapa kota. Entah apa yang akan terjadi, bila hal ini terus dibiarkan tanpa solusi pasti.

Kapitalisme Biang Kerok

Bukankah negeri ini  mendapat julukan gemah ripah loh jinawi? Lantas kenapa rakyatnya miskin bahkan kelaparan. Kesalahannya cuma satu, yakni negeri ini tidak menerapkan syariah Islam. Negeri ini lebih rida menerapkan hukum buatan Belanda sang penjajah. Penguasanya menjadi budak kapitalis. Kapitalisme menjadi baing kerok rusaknya kehidupan dan juga sumber daya alam di negeri ini. Dengan kerakusannya meraih untung yang banyak, mereka rela menghilangkan nyawa manusia sekalipun. Para pemilik modal berlomba-lomba membuat mall, perumahan elit dan lain sebagainya. Mengusir rakyat miskin, kemudian tanah mereka dijual dengan paksa. Akhirnya ladang atau sawah tempat mereka mencari nafkah pun hilang. Tidak hanya itu, para kapitalis mengeruk sumber daya alam dengan menyisakan kerusakan lingkungan. Beberapa waktu lalu viral tayangan video yang berjudul The sexy killer. Sangat jelas digambarkan bahwa para pemilik modal tersebut berkongkalingkong dengan penguasa. Bahkan penguasa sendiri bermain dalam kerusakan alam tersebut.

Fakta terbaru Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI resmi mengesahkan Rancangan Undang-Undang Mineral dan Batu Bara atas Revisi Perubahan UU No.4/2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara menjadi UU. Dalam Sidang Paripurna DPR RI pada Selasa 12 Mei 2020, Ketua DPR RI Puan Maharani menyatakan bahwa pembentukan UU tersebut dapat disahkan. Langkah tersebut tetap diambil kendati dari 9 fraksi di Komisi VII DPR, tidak semuanya menyetujuinya. (ekonomi.bisnis.com, 12/05/2020)

Bisa terbilang cepat pengesahann RUU ini menjadi Undang-undang, barangkali ini kelanjutan dari kisah yang diceritakan dalam film The Sexy Killer tersebut. Sumber daya alam dikuras habis oleh swasta sedangkan rakyat dibiarkan mengurusi kebutuhannya sendiri-sendiri. Mereka rela mencari pekerjaan hingga ke luar negeri. Pilu mendengar tentang nasib anak bangsa yang menjadi ABK menjadi ABK di kapal milik Cina. Mereka tidak diperlakukan sebagaimana manusia, hingga meninggal dan mayatnya juga dilarung ke laut. Sedangkan di negara ini pegawai dari Cina dimuliakan bah raja. Mereka terus berdatangan sedangkan pekerja dalam negeri (rakyat sendiri) banyak mengalami PHK. 

Sesungguhnya kondisi rakyat yang miskin saat ini, bukan semata-mata mereka malas bekerja. Namun, secara sistem kemiskinan itu diciptakan. Sulit mencari pekerjaan, sebab pekerjaan itu untuk orang asing. Sulit bercocok tanam, sebab tidak ada lahan yang disediakan untuk ditanami. Justru lahan yang ada terus digilas. Direktur Jendral Pengendalian dan Pemanfaatan Ruang dan Tanah kementerian agraria  dan Tata Ruang/Badan Pertahanan Nasional (ATR/BPN) Budi Situmorang mengatakan, setiap tahun luas area pertanian hilang mencapai 150.000 hingga 200.000 ha. 

Islam Solusi

Sungguh, tidak ada jalan lain untuk keluar dari kesempitan hidup ini, kecuali kita kembali menerapkan Islam kafah. Islam memiliki separangkat aturan hidup yang mampu memberikan kesejahteraan pada manusia dan alam. Islam menetapkan bahwa pemimpin sebagai “periayah” pengatur dan pengurus rakyat. Mereka diumpamakan seperti penggembala. Maka, tak akan ada penggembala yang rela satu gembalaannya kelaparan atau mati. Konsep inilah yang tidak dimiliki sistem demokrasi-kapitalis. Sebab, kapitalis menganggap jabatan untuk mencari uang bukan untuk meraih rida Allah. Islam juga memiliki sejumlah konsep yang sangat jelas, termasuk konsep ekonomi yang real. Dalam sistem ekonominya Islam mengatur tentang bagaimana penguasa mengatur kebutuhan hidup rakyatnya. Penguasa wajib memberikan jaminan hidup hingga orang per orang. Islam juga memiliki konsep kepemilikan harta yang sangat jelas, termasuk aturan tentang tanah. 

Dalam Islam tanah sejatinya adalah milik Allah Swt. Maka, dalam kepemilikan dan pengelolaan diatur oleh syara. Islam membolehkan siapa saja untuk memiliki tanah dengan jalan yang halal. Kemudian mewajibkan pada setiap pemilik tanah untuk mengelola atau menghidupkan tanahnya. Jika selama 3 tahun berturut-turut tidak dikelola. Maka, oleh negara akan diambil dan diberikan kepada orang yang mau mengelolanya. Umar bin Khaththab pernah berkata,”Orang yang membuat batas pada tanah (muhtajir) tak berhak lagi atas tanah itu setelah tiga tahun ditelantarkan.” Umar pun melaksanakan ketentuan ini dengan menarik tanah pertanian milik Bilal bin Al-Harits Al-Muzni yang ditelantarkan tiga tahun. Para sahabat menyetujuinya sehingga menjadi Ijma’ Sahabat (kesepakatan para sahabat Nabi saw.) dalam masalah ini. (Al-Nabhani, ibid., Juz II hal. 241)

Pencabutan hak milik ini tidak terbatas pada tanah mati (mawat) yang dimiliki dengan cara tahjir (pembuatan batas) saja, akan tetapi juga meliputi tanah pertanian yang dimiliki dengan cara-cara lain atas dasar Qiyas. Misalnya, yang dimiliki melalui jual beli, waris, hibah, dan lain-lain. Sebab yang menjadi alasan hukum (illat, ratio legis) dari pencabutan hak milik bukanlah cara-cara memilikinya, melainkan penelantaran selama tiga tahun (ta’thil al-ardh). (Al-Nabhani, An-Nizham Al-Iqtishadi fi Al-Islam, hal. 139)

Konsep Islam ini bukanlah konsep khayalan, sebab diturunkan oleh Allah Swt. Sang Pengatur dan Pemilik kehidupan. Ini secara imani atau keyakinan. Sedangkan secara kenyataan, konsep ini sudah terbukti pada masa lalu, saat diterapkannya dalam kehidupan. Bagaimana kita begitu takjubnya mendengar kisah Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Dimana dalam masa pemerintahannya tidak ada rakyat yang miskin, semua kebutuhan rakyat terpenuhi hingga para pemuda pun dicari untuk dibiayai dalam urusan maharnya.

Demikian kesempuranaan Islam dalam mengatur kehidupan ini. Sungguh kesempurnaan ini akan terwujud bila Al-Qur'an tidak hanya sekadar bacaan, melainkan hukum yang diterapkan dalam kehidupan. Semoga Ramadan kali ini adalah Ramadan terakhir tanpa khalifah sebagai pelaksana hukum Islam. Semoga Allah segera memberikan pertolongan. Aamiin Yaa Rabbal Aalamiin.

Wallahu ’alam bishshawab.
 
Top